JAKARTA, PERDETIKNEWS.COM – Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, resmi memasuki babak baru kepemimpinan. Prof. Dr. Ir. Takdir Saili, M.Si. dilantik sebagai Rektor UHO periode 2026–2030 oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, Selasa (20/10/2026).
Pelantikan berlangsung di lantai 10 Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jakarta. Prosesi tersebut sekaligus menandai dimulainya tanggung jawab Takdir Saili memimpin salah satu perguruan tinggi negeri terbesar di Sulawesi Tenggara selama empat tahun mendatang.
Pengangkatan Takdir Saili tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 231/M/K/2026 tentang Pengangkatan Rektor Universitas Halu Oleo Periode 2026–2030.
Dalam prosesi pelantikan, Takdir Saili mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Menteri Brian Yuliarto. Ia berjanji menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjunjung tinggi etika jabatan, menjaga integritas, serta tidak menyalahgunakan kewenangan.
Setelah pengambilan sumpah dan penandatanganan berita acara, Menteri Brian secara resmi melantik Takdir Saili sebagai Rektor UHO. Prosesi dilanjutkan dengan pengalungan tanda jabatan.
Namun, di balik suasana resmi pelantikan tersebut, Brian menyampaikan pesan penting mengenai arah kepemimpinan perguruan tinggi, khususnya dalam menjaga integritas dan membangun kebersamaan di lingkungan kampus.
Menurut Brian, memimpin universitas bukan semata-mata menjalankan tugas administratif atau menduduki jabatan struktural. Lebih dari itu, seorang rektor memikul tanggung jawab besar terhadap masa depan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat.
“Memimpin kampus adalah amanah untuk menjaga harapan banyak orang. Ada mahasiswa yang datang dengan cita-citanya, ada orang tua yang menitipkan masa depan anaknya, ada masyarakat yang menantikan manfaat ilmu pengetahuan,” ujar Brian dalam sambutannya.
Ia meminta Takdir Saili menghadirkan lingkungan akademik yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar dengan baik, dosen untuk berkarya, serta tenaga kependidikan agar merasa dihargai.
Brian juga menekankan pentingnya menciptakan kampus yang aman, terbuka, dan memberikan kesempatan pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa yang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Pesan lain yang mendapat perhatian adalah pentingnya menjaga universitas dari kepentingan politik yang dapat mengganggu kebersamaan akademik.
“Kampus bukanlah ajang kontestasi politik, tetapi kampus adalah kebersamaan secara akademik, riset dan inovasi,” tegasnya.
Karena itu, Brian mengingatkan agar kepemimpinan baru UHO mampu merangkul seluruh unsur kampus tanpa membangun sekat-sekat yang dapat menghambat kemajuan universitas.
Ia meminta Takdir Saili mendengarkan aspirasi warga kampus dan menjadikan kebersamaan sebagai landasan dalam menjalankan berbagai program pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Tidak hanya menyangkut persoalan internal universitas, Brian juga menaruh harapan besar terhadap kontribusi UHO dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, UHO memiliki peran penting dalam mendorong kemajuan Sulawesi Tenggara dan kawasan timur Indonesia melalui pengembangan ilmu pengetahuan, riset, serta inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
“Saya berharap Universitas Halu Oleo semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dan mengambil peran lebih besar bagi kemajuan Sulawesi Tenggara serta kawasan timur Indonesia,” katanya.
Brian mendorong agar dosen dan mahasiswa UHO semakin aktif membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, masyarakat, industri, dan dunia usaha.
Potensi sumber daya alam maupun persoalan pembangunan di Sulawesi Tenggara diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran dan penelitian yang menghasilkan solusi nyata.
Hasil penelitian perguruan tinggi, lanjutnya, tidak boleh berhenti sebagai karya akademik semata, tetapi perlu memberikan manfaat bagi masyarakat, membuka peluang kerja, dan meningkatkan kesejahteraan.
Hal tersebut sejalan dengan semangat program Diktisaintek Berdampak, yang menempatkan ilmu pengetahuan dan inovasi sebagai bagian dari upaya menjawab berbagai tantangan pembangunan.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Brian juga meminta perguruan tinggi mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kemampuan beradaptasi, terus belajar, dan bekerja sama.
Ia berharap lulusan UHO tidak hanya memiliki bekal akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa dan daerah.
Menutup sambutannya, Brian kembali mengingatkan bahwa kemajuan universitas tidak dapat dicapai oleh seorang rektor seorang diri.
Keberhasilan kepemimpinan, menurutnya, membutuhkan dukungan dan kerja sama seluruh keluarga besar kampus.
“Kemajuan universitas akan merupakan hasil dari kerja seluruh keluarga besar Universitas Halu Oleo,” ujarnya.
Pelantikan Takdir Saili sebagai Rektor UHO periode 2026–2030 pun menjadi awal tanggung jawab baru untuk memperkuat kualitas pendidikan, menjaga integritas akademik, serta memastikan kehadiran universitas semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Sulawesi Tenggara.
Editor: Ixan




Tinggalkan Balasan