Rubrik MIMBAR | Perdetiknews.com

 

Oleh: Dr. H. Sukirman, MARS, M.Kes., Sp.PA.

Ketua IKADI Wilayah Sulawesi Tenggara

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pagi itu, matahari terasa begitu menyengat. Belum juga siang, udara sudah panas. Tanah yang dahulu lembap mulai mengeras. Rumput-rumput kehilangan hijaunya. Debu beterbangan ketika kendaraan melintas.

Di sejumlah tempat, asap kebakaran lahan menambah sesak udara. Pepohonan meranggas. Air di sungai dan sumber-sumber air mulai berkurang. Sementara itu, manusia terus menengadah ke langit, berharap awan yang melintas membawa hujan.

Namun, hujan yang dinantikan belum juga datang.

Bayangkan seorang petani berdiri di tengah lahannya. Ia memandangi tanah yang mulai retak, sementara tanaman yang ditanam dengan penuh harapan perlahan kehilangan kesegarannya.

Di tempat lain, seorang ibu berusaha menghemat air untuk kebutuhan keluarganya. Ia harus memikirkan air untuk memasak, mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Sementara itu, seorang ayah menatap langit yang cerah tanpa awan. Dalam hatinya mungkin tersimpan doa sederhana: semoga hujan segera turun, agar kehidupan kembali terasa lebih ringan.

Bagi sebagian orang, kemarau mungkin hanya berarti cuaca yang lebih panas. Tetapi bagi mereka yang kehidupannya bergantung pada air dan kesuburan tanah, kemarau panjang dapat menjadi ujian yang berat.

Di tengah keadaan seperti itu, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kemarau ini hanya sebuah peristiwa alam? Apakah ia menjadi ujian kesabaran? Ataukah ada pesan yang seharusnya mengetuk hati kita untuk kembali mendekat kepada Allah SWT?.

Pertanyaan itu bukan untuk menghakimi siapa pun. Bukan pula untuk memastikan bahwa kesulitan yang dialami masyarakat merupakan hukuman atas dosa tertentu.

Sebab, manusia tidak memiliki pengetahuan untuk menetapkan maksud Allah di balik setiap musibah.

Namun, sebagai orang beriman, kita diajarkan untuk mengambil pelajaran dari setiap keadaan, baik ketika hidup dipenuhi kelapangan maupun ketika kesulitan datang.

Dan barangkali, di tengah langit yang terasa begitu kering, ada hati-hati yang justru sedang diajak untuk kembali basah oleh air mata pertobatan.

Saudaraku yang dirahmati Allah SWT,

Kita sering baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah mulai kehilangan kemudahannya.

Ketika air mengalir dengan lancar, kita menggunakannya tanpa banyak berpikir. Kita membuka keran, membasuh wajah, menyiram tanaman, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tetapi ketika air mulai sulit diperoleh, segalanya terasa berbeda.

Setetes air menjadi berharga. Segelas air terasa seperti nikmat yang begitu besar. Hujan yang dahulu mungkin dianggap mengganggu perjalanan, kini justru menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.

Bukankah keadaan seperti ini mengingatkan kita bahwa manusia sesungguhnya sangat lemah?

Dengan ilmu pengetahuan, manusia mampu membangun gedung-gedung tinggi, menciptakan teknologi yang luar biasa, dan mengembangkan berbagai sarana kehidupan.

Namun, manusia tetap membutuhkan air yang Allah ciptakan untuk mempertahankan kehidupannya.

Betapa pun tinggi kedudukan seseorang, betapa pun besar kekayaannya, dan betapa pun luas kekuasaannya, ia tidak dapat hidup tanpa air.

Di hadapan kebutuhan yang paling mendasar itu, manusia kembali menyadari bahwa dirinya bukanlah penguasa mutlak atas kehidupan.

Kita boleh merencanakan banyak hal, tetapi tidak semua keadaan berada dalam kendali kita.

Kita boleh berusaha mengatasi kekeringan dengan teknologi, pengelolaan air, dan berbagai kebijakan.

Semua ikhtiar itu penting. Namun, ikhtiar tersebut semestinya berjalan bersama kesadaran bahwa nikmat alam bukan sesuatu yang patut disia-siakan.

Mungkin selama ini kita terlalu terbiasa menerima nikmat, hingga lupa mensyukurinya.

Mungkin kita begitu sibuk meminta tambahan rezeki, tetapi jarang merenungkan rezeki yang setiap hari telah tersedia.

Dan mungkin, ketika air mulai berkurang, kita sedang memperoleh kesempatan untuk memahami kembali arti syukur.

Kadang-kadang, manusia baru menyadari betapa besarnya nikmat setetes air ketika sumur mulai mengering dan hujan tak kunjung datang.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan hubungan antara iman, ketakwaan, dan keberkahan kehidupan.

Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 96:

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)

Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam.

Keberkahan bukan semata-mata tentang banyaknya harta, melimpahnya hasil panen, atau mudahnya memperoleh kebutuhan hidup. Keberkahan juga menyangkut ketenteraman, keadilan, rasa cukup, dan kebaikan yang membawa manfaat bagi sesama.

Iman dan ketakwaan tidak cukup berhenti sebagai ucapan. Keduanya harus hadir dalam perilaku.

Orang yang bertakwa tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga menjaga kejujuran. Ia tidak hanya berdoa memohon rezeki, tetapi juga menghindari mengambil hak orang lain.

Ia tidak hanya berharap rahmat Allah, tetapi juga berusaha menjadi rahmat bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

Karena itu, ketika kita membaca ayat tentang keberkahan dan peringatan Allah, janganlah tergesa-gesa menunjuk orang lain sebagai penyebab musibah.

Lebih baik kita terlebih dahulu bertanya kepada diri sendiri.

Sudahkah kita menjaga amanah?

Sudahkah kita berlaku jujur dalam pekerjaan?

Sudahkah kita menunaikan hak orang lain?

Sudahkah kita memperlakukan tetangga dengan baik?

Sudahkah kita menjaga alam yang menjadi tempat hidup bersama?

Dan sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang selama ini diberikan?

Sebab, muhasabah yang paling tulus bukanlah ketika kita sibuk menghitung kesalahan orang lain, melainkan ketika kita berani mengakui kekurangan diri sendiri.

Saudaraku,

Ada sesuatu yang lebih memprihatinkan daripada tanah yang kehilangan air, yaitu hati manusia yang kehilangan kepekaan.

Tanah yang kering masih dapat kembali subur ketika hujan turun. Tetapi hati yang telah terbiasa mengabaikan kebenaran memerlukan kesungguhan untuk kembali terbuka.

Kita mungkin merasa gelisah melihat sungai yang menyusut, tetapi apakah kita juga gelisah ketika melihat kejujuran semakin sulit dijaga?

Kita mungkin bersedih menyaksikan tanaman mengering, tetapi apakah kita juga bersedih ketika hubungan persaudaraan rusak karena kebencian, fitnah, dan ketidakadilan?

Kita mungkin berharap langit segera menurunkan hujan, tetapi apakah kita juga berharap agar hati kita kembali dipenuhi kasih sayang?

Pertanyaan-pertanyaan ini patut direnungkan.

Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat yang tercantum dalam Sunan Ibnu Majah mengingatkan tentang akibat buruk ketika suatu kaum menahan kewajiban zakat, di antaranya berkaitan dengan tertahannya hujan.

Pesan moral dari riwayat tersebut mengajak umat Islam memahami bahwa ibadah dan tanggung jawab sosial tidak dapat dipisahkan.

Zakat bukan sekadar kewajiban mengeluarkan sebagian harta. Ia juga merupakan pengingat bahwa dalam rezeki yang kita miliki terdapat hak orang lain.

Begitu pula kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama. Semuanya merupakan bagian dari ketakwaan yang seharusnya tampak dalam kehidupan nyata.

Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak menggunakan dalil agama untuk menyalahkan masyarakat yang sedang menderita.

Kekeringan memiliki proses alamiah yang dapat dipelajari melalui ilmu pengetahuan, termasuk pola curah hujan, suhu, dan kondisi lingkungan.

Kebakaran lahan pun dapat berkaitan dengan aktivitas manusia dan keadaan lingkungan yang kering.

Memahami penyebab-penyebab tersebut bukanlah bentuk kurangnya iman.

Justru pengetahuan dapat menjadi bagian dari ikhtiar manusia untuk menjaga amanah Allah berupa bumi dan seluruh kehidupan di dalamnya.

Karena itu, jika kita ingin mengambil pelajaran spiritual dari kemarau, jangan berhenti pada pertanyaan tentang dosa.

Tanyakan pula apa yang telah kita lakukan untuk menjaga lingkungan, mencegah kebakaran, menghemat air, dan membantu mereka yang paling terdampak.

Sebab, pertobatan yang sungguh-sungguh seharusnya tidak hanya mengubah apa yang kita ucapkan dalam doa, tetapi juga apa yang kita lakukan setelah berdoa.

Ada satu hal yang menenangkan dalam ajaran Islam: sebesar apa pun kesalahan manusia, pintu pertobatan tetap terbuka selama kesempatan masih diberikan.

Allah SWT berfirman melalui kisah dakwah Nabi Nuh AS:

“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.'” (QS. Nuh: 10–11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya istigfar dan kembali kepada Allah.

Bayangkan seseorang yang selama ini begitu sibuk dengan pekerjaannya. Hari-harinya dipenuhi urusan dunia. Ia mengejar penghasilan, membangun kedudukan, dan berusaha memenuhi berbagai keinginan.

Namun, dalam kesibukan itu, ia mulai jarang menyediakan waktu untuk memeriksa hatinya.

Ketika kesulitan datang, barulah ia menyadari betapa banyak hal yang tidak mampu dikendalikannya.

Ia kemudian menengadahkan tangan, mengucapkan istigfar, dan memohon pertolongan kepada Allah.

Mungkin keadaan di sekitarnya belum langsung berubah. Hujan belum tentu segera turun. Persoalan hidupnya pun mungkin masih membutuhkan waktu dan usaha untuk diselesaikan.

Namun, sesuatu telah mulai berubah di dalam dirinya.

Ia menjadi lebih sadar bahwa hidup adalah amanah. Ia belajar bersabar, lebih mudah bersyukur, dan mulai memahami bahwa dirinya membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap keadaan.

Inilah salah satu makna penting dari muhasabah.

Kita tidak beristigfar semata-mata untuk memperoleh sesuatu yang kita inginkan. Kita beristigfar karena menyadari kekurangan diri dan membutuhkan ampunan Allah.

Kita tidak bertobat hanya agar kesulitan segera berakhir. Kita bertobat karena ingin memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.

Dan kita tidak berdoa hanya ketika langit terasa kering. Kita berdoa karena setiap hari, dalam keadaan apa pun, kita membutuhkan rahmat-Nya.

Saudaraku yang dirahmati Allah SWT,

Di tengah kemarau, ada orang yang masih dapat memenuhi kebutuhan air dengan mudah. Namun, ada pula keluarga yang harus berjuang lebih keras untuk memperolehnya.

Ada petani yang mengkhawatirkan tanamannya. Ada pekerja yang tetap harus beraktivitas di bawah panas matahari. Ada anak-anak dan orang lanjut usia yang membutuhkan perhatian lebih ketika cuaca sangat panas.

Di sinilah keimanan seharusnya melahirkan kepedulian.

Jika kita memiliki air yang cukup, gunakanlah dengan bijak.

Jika ada tetangga yang kesulitan, bantulah semampunya.

Jika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan air bersih, mari bergotong royong mencari jalan keluar.

Jika kita mengetahui bahaya membakar lahan pada musim kering, jangan melakukan tindakan yang dapat membahayakan orang lain.

Dan jika kita diberi kewenangan untuk mengelola sumber daya serta pelayanan publik, gunakanlah amanah itu untuk melindungi masyarakat, terutama mereka yang paling rentan.

Sebab, doa yang tulus tidak seharusnya membuat kita berhenti berusaha.

Ketika meminta hujan, kita juga harus menjaga sumber air.

Ketika memohon keselamatan, kita juga harus mencegah tindakan yang dapat menimbulkan bencana.

Ketika berharap keberkahan, kita juga harus memperbaiki cara memperlakukan sesama.

Dalam tradisi Islam, umat dianjurkan melaksanakan salat istisqa untuk memohon hujan kepada Allah ketika mengalami kekeringan.

Salat ini menjadi bentuk ketundukan seorang hamba di hadapan Tuhannya.

Namun, semangat istisqa juga semestinya menyertai ikhtiar nyata: mengelola air secara bertanggung jawab, melindungi lingkungan, dan membantu masyarakat menghadapi kesulitan.

Sebab, iman yang hidup bukan hanya tampak ketika seseorang menengadahkan tangan ke langit, tetapi juga ketika tangannya terulur menolong sesama.

Suatu hari nanti, hujan yang dinantikan mungkin akan kembali turun.

Awan akan berkumpul. Angin membawa udara yang lebih sejuk. Tetesan air mulai membasahi tanah. Debu yang beterbangan perlahan mengendap.

Anak-anak mungkin kembali bergembira menyaksikan hujan. Petani menyambutnya dengan harapan baru. Tanaman yang mampu bertahan perlahan memperoleh kesegaran.

Dan manusia kembali merasakan betapa indahnya nikmat Allah yang selama ini sering dianggap biasa.

Tetapi ada pertanyaan yang perlu kita bawa hingga hari itu tiba.

Apakah kita akan menjadi manusia yang lebih bersyukur?

Apakah kita akan lebih berhati-hati dalam menjaga amanah?

Apakah kita akan lebih peduli terhadap tetangga yang mengalami kesulitan?

Ataukah setelah keadaan kembali nyaman, kita kembali melupakan pelajaran yang pernah diberikan oleh masa-masa sulit?

Jangan sampai kemarau hanya membuat kita merindukan hujan, tetapi tidak membuat kita merindukan kedekatan dengan Allah.

Jangan sampai kita hanya berharap tanah kembali subur, tetapi membiarkan hati tetap keras.

Jangan sampai kita begitu khawatir kehilangan air, tetapi tidak merasa khawatir ketika kehilangan kejujuran, kepedulian, dan rasa syukur.

Saudaraku,

Kita tidak mengetahui secara pasti apakah kemarau yang sedang kita alami merupakan ujian, teguran, atau bagian dari ketetapan Allah yang mengandung hikmah yang belum kita pahami.

Namun, satu hal dapat kita lakukan: menjadikannya kesempatan untuk memperbaiki diri.

Mari memperbanyak istigfar, menunaikan zakat, memperkuat sedekah, meninggalkan kezaliman, menjaga lingkungan, dan mempererat persaudaraan.

Mari menghidupkan kembali doa-doa yang mungkin selama ini terlalu jarang kita panjatkan.

Dan mari memohon kepada Allah agar hati kita tidak menjadi lebih kering daripada tanah yang sedang menantikan hujan.

Karena sesungguhnya, yang kita butuhkan bukan hanya hujan untuk membasahi bumi, melainkan juga rahmat Allah untuk melembutkan hati.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami.

Ampunilah kelalaian kami dalam mensyukuri nikmat-Mu.

Lembutkanlah hati kami yang terkadang keras. Bimbinglah kami agar mampu menjaga amanah, berlaku jujur, dan tidak menzalimi sesama.

Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang membawa manfaat, bukan yang mendatangkan mudarat.

Suburkanlah tanah yang mengering. Pulihkanlah lingkungan yang rusak. Lindungilah mereka yang sedang mengalami kesulitan akibat kekeringan dan kebakaran.

Jadikanlah setiap ujian sebagai jalan untuk memperbaiki diri, memperkuat persaudaraan, dan semakin mendekat kepada-Mu.

Ya Allah, ketika kami menantikan hujan dari langit, jangan biarkan hati kami kehilangan cahaya iman.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wabillahi taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.