KOLAKA — Pengiriman ore nikel dari kawasan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa PT Vale Indonesia Tbk ke Morowali menuai pertanyaan. Bukan hanya soal mekanisme penjualan, dugaan adanya pengawalan aparat militer dalam pengiriman tersebut juga dipertanyakan.

Wakil Sekretaris Jenderal Bidang ESDM PB HMI, Munawir, meminta PT Vale memberikan penjelasan terbuka mengenai proses penjualan ore tersebut.

Menurut Munawir, yang perlu dijelaskan bukan sekadar ke mana ore dikirim. Ia mempertanyakan apakah penjualan dilakukan melalui tender, siapa pembelinya, berapa volume dan kadar ore yang dijual, serta berapa harga transaksinya.

“Kalau benar ore IGP Pomalaa dijual dan dikirim ke Morowali tanpa tender, ini harus diperiksa. Publik perlu tahu kapan tender dilakukan, siapa pemenangnya, berapa volumenya, dan kadar berapa yang dilelang,” kata Munawir.

Ia juga meminta adanya pemeriksaan terhadap kesesuaian antara ore yang dilelang dengan ore yang dikirim ke Morowali.