Yang lebih mencengangkan, Kabupaten Bombana muncul sebagai penyumbang angka PHK terbesar di Sultra. Dua perusahaan kakap di wilayah tersebut menjadi biang keladinya.
Bahkan, salah satu perusahaan di Bombana dilaporkan melakukan PHK massal terhadap sekitar 400 pekerjanya dalam satu waktu!
“Lonjakan jumlah PHK paling tinggi terjadi di Kabupaten Bombana. Di sana, satu perusahaan saja sudah mem-PHK ratusan karyawan. Ini sangat berdampak signifikan terhadap total angka PHK di Sultra tahun lalu,” beber LM Ali Haswandy.
Melihat kondisi darurat ketenagakerjaan ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra tak tinggal diam. Melalui Disnakertrans, sejumlah langkah strategis tengah disiapkan untuk meminimalisir dampak buruk PHK. Salah satu jurus andalan adalah menggelar pelatihan keterampilan kerja dan membuka bursa kerja (job fair).
Langkah ini diharapkan mampu menjadi angin segar bagi para pekerja yang kehilangan pekerjaan. Dengan peningkatan keterampilan, mereka diharapkan lebih mudah terserap kembali ke pasar kerja.
Selain itu, bursa kerja akan menjadi wadah untuk mempertemukan para pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
“Sebagai bagian dari program kerja Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra, tahun ini kami telah mengagendakan pelatihan vokasi dan pembukaan job fair. Ini untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten serta mempertemukan mereka dengan peluang kerja yang tersedia di berbagai sektor,” tegas LM Ali Haswandy.
Pemprov Sultra berharap, dengan langkah-langkah konkret ini, angka pengangguran di wilayahnya dapat ditekan dan daya saing tenaga kerja lokal semakin kuat di tengah tantangan dunia kerja yang kian kompleks. Kita tunggu saja gebrakan selanjutnya dari Pemprov Sultra untuk mengatasi masalah PHK yang tengah mengkhawatirkan ini!



Tinggalkan Balasan