Jakarta – Amblesnya nilai tukar rupiah yang kini merosot ke level Rp17.865 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memukul sektor riil. Para pelaku usaha nasional kini menjerit akibat pembengkakan biaya logistik.
Gabungan pengusaha mengeluhkan mahalnya biaya pengadaan bahan baku impor yang kian tidak terkendali sejak pasar keuangan dibuka pada perdagangan Jumat (29/5/2026) pagi.
Jika mata uang Garuda terus melemah hingga menembus draf pertahanan psikologis berikutnya di Rp17.900/US$, hantaman keras diprediksi bakal langsung mengguncang stabilitas produksi industri dalam negeri.
Dampak depresiasi rupiah sedalam 0,51% ini dinilai memicu efek domino yang menakutkan berupa ancaman inflasi barang impor (imported inflation).
Para importir dan asosiasi pengusaha menegaskan, draf margin keuntungan mereka saat ini sudah tergerus habis demi menutupi kerugian selisih kurs forex yang melompat pasca-libur panjang Idul Adha.
Kondisi terjepit ini memaksa dunia usaha mulai mengkaji opsi pahit, yakni melakukan penyesuaian berupa kenaikan harga jual barang di tingkat konsumen dalam waktu dekat.
Klaster industri manufaktur, komponen elektronik, hingga otomotif dilaporkan menjadi lini bisnis yang berada di zona merah dan paling menderita atas keperkasaan dolar AS saat ini.
Pelaku usaha kini mendesak adanya jurus intervensi taktis dari Bank Indonesia (BI) di pasar spot guna menahan laju volatilitas draf nilai tukar agar tidak kebablasan menembus Rp18.000/US$.

“Kami sangat berharap ada kepastian stabilitas kurs dari pemerintah, karena draf perencanaan bisnis dan belanja bahan baku kuartal ini terancam berantakan jika rupiah terus melemah serampangan,” ungkap salah satu perwakilan asosiasi pengusaha.
(pdn)



Tinggalkan Balasan