Dampak pemangkasan jarak ini memberikan angin segar bagi ekonomi lokal. H. Ruslan, seorang Purnawirawan Polri dan petani di Konda, menyampaikan apresiasi atas manfaat yang didapatkan.
Ia menjelaskan, rute konvensional dari Bundaran Tugu Adi Bahasa Kendari menuju Bandara Haluoleo melalui Ranomeeto memakan jarak sekitar 13 kilometer. Dengan tuntasnya ruas Konda berkat Program Jamaah ASR-Hugua ini, jarak tempuh akan terpangkas drastis, menjadi hanya sekitar 7 kilometer—sebuah reduksi lebih dari 45%.

Pemangkasan ini akan meningkatkan kelancaran transportasi barang, jasa, dan mobilitas masyarakat. “Ini bukan hanya jalan mulus, ini adalah jalan untuk kemakmuran, yang langsung mendongkrak pertumbuhan ekonomi warga, dan meningkatkan harga jual,” tegasnya.
Ruas Konda yang efisien ini juga merupakan bagian tak terpisahkan dari persiapan Sultra menuju koneksi global. Wakil Gubernur Hugua mengaitkan penguatan infrastruktur domestik ini dengan ambisi realisasi penerbangan internasional langsung dari Guangzhou, Tiongkok.
Hugua menyebut bahwa Gubernur ASR telah berkoordinasi intensif dengan Pertamina dan Bea Cukai, memastikan bahwa seluruh standar dan persyaratan bandara untuk penerbangan internasional telah terpenuhi.
Dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sultra memfinalisasi kerja sama dengan maskapai Southern China, rute Kendari–Guangzhou ditargetkan dapat dimulai pada Mei 2026. Pembukaan rute ini diperkirakan akan menarik sekitar 56 ribu wisatawan Tiongkok setiap bulan dan mendorong delapan klaster pariwisata utama Sultra.
Inisiatif Program Jamaah ASR-Hugua ini menegaskan bahwa Bandara Haluoleo tidak hanya disiapkan sebagai gerbang udara regional, tetapi juga sebagai simbol kesiapan Indonesia timur di peta internasional. (ADV)



Tinggalkan Balasan