Laporan dari First Post menyebutkan bahwa suhu panas yang terlampau ekstrem telah berdampak langsung pada ketahanan aspal dan bitumen. Kondisi ini memaksa otoritas transportasi di Leipzig untuk menangguhkan layanan sepenuhnya sampai pemeriksaan keselamatan selesai dilakukan. Euro News bahkan melaporkan bahwa aspal meleleh tepat di atas rel trem di kota tersebut.
Tidak hanya merusak jalur trem, deformasi jalan juga terjadi di jaringan jalan tol (autobahn) setempat. Otoritas Jerman mengimbau pengguna jalan untuk lebih berhati-hati saat melintasi beberapa ruas jalanan karena permukaan aspal melengkung atau terangkat ke atas.
Salah satunya terjadi di sebagian ruas jalan tol A2 di Saxony-Anhalt, tepatnya di dekat Burg. Ruas tersebut sempat ditutup total akibat kerusakan permukaan sebelum akhirnya dibuka kembali untuk lalu lintas. Kendati demikian, beberapa ruas jalan tol lainnya, terutama yang berada di Brandenburg dan Saxony-Anhalt, hingga kini masih ditutup rapat karena kerusakan serupa pada permukaan jalan.
Krisis iklim ini ternyata tidak hanya melanda Jerman. Gelombang panas hebat ini juga memicu situasi darurat di beberapa negara Eropa lainnya. Prancis melaporkan situasi kelam dengan sekitar 1.000 kematian yang berkaitan dengan cuaca panas ekstrem sejak 24 Juni, di mana otoritas kesehatan setempat memperingatkan angka kematian masih bisa terus bertambah. Sementara itu, Republik Ceko turut mencatatkan rekor suhu tertinggi nasional setelah wilayah Doksany menyentuh suhu 41,1 derajat Celsius.
Cuaca panas ekstrem yang memicu gangguan massal pada infrastruktur umum ini dinilai mencerminkan tantangan lebih luas yang kini dihadapi kota-kota di Eropa. Infrastruktur modern yang dahulu dirancang berdasarkan kondisi iklim masa lalu di negara-negara Eropa, kini terbukti semakin rentan dan rapuh dalam menghadapi lonjakan suhu global yang terus memecahkan rekor.
(nns/dhn)



Tinggalkan Balasan