“Kalau tidak ada uangmu, jangan parkir di sini. Laporkan saja saya kalau berani, resmi kita di sini,” ujar K menirukan ucapan arogan si tukang parkir. Tidak ingin memperpanjang masalah, K memilih segera meninggalkan lokasi.

Pengunjung lain berinisial L juga merasakan ketidaknyamanan serupa. L, yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di Ruma Hagia, mengaku sering melihat sikap arogan tukang parkir di sana. “Sok-sok sekali kalau menagih tukang parkirnya, sudah sering mi itu,” keluhnya.

Aksi premanisme berkedok tukang parkir ini memicu kekhawatiran di kalangan pengunjung. W, pengunjung lainnya, mendesak pihak Ruma Hagia untuk segera memberikan edukasi kepada tukang parkir mereka. “Jika ini dibiarkan, kesannya mereka memelihara preman berkedok tukang parkir,” tegas W.

Dilansir dari Kendariinfo.com, tukang parkir di lokasi tersebut tidak mengenakan atribut khusus yang membedakan mereka dari pengunjung. Hal ini menyulitkan identifikasi mana petugas parkir resmi dan mana bukan.

Meskipun demikian, pungutan parkir di Ruma Hagia ini diketahui telah mendapat persetujuan dari Pemerintah Kota Kendari, dengan adanya rekomendasi dari Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kendari. Hal ini semakin menimbulkan pertanyaan, mengapa praktik premanisme masih terjadi di tengah legalitas pungutan parkir tersebut. (red)

60 / 100 Skor SEO