JAKARTA, perdetiknews.com – Dinamika konstelasi politik di tanah air belakangan ini kembali mencuri perhatian publik seiring mencuatnya berbagai narasi dan diskursus kritis yang digulirkan oleh sejumlah elemen pemuda di media sosial. Bergerak atas dasar keresahan terhadap kondisi ekonomi nasional, sebagian simpul pergerakan bahkan mulai menggaungkan wacana gerakan massa secara masif.
Isu tersebut menggelinding bak bola salju di ruang publik dan grup-grup percakapan instan. Menanggapi eskalasi draf narasi kritis dari ruang kuliah tersebut, pemerintah melalui lembaga keamanan negara langsung memberikan atensi dini guna memastikan stabilitas nasional tetap terjaga dengan baik.
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Herindra, merespons secara santai namun tetap mengedepankan kewaspadaan terkait adanya rencana dan wacana aksi demonstrasi besar yang belakangan kerap dilemparkan oleh sejumlah elemen mahasiswa di ruang publik.
Saat dimintai tanggapan oleh awak media di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Herindra menyampaikan imbauan sejuk agar seluruh lapisan masyarakat, termasuk kaum intelektual kampus, untuk tetap menempatkan marwah persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan kelompok. Negara, menurutnya, senantiasa menghormati ruang ekspresi namun berharap semua pihak menghindari tindakan destruktif yang dapat merugikan kepentingan nasional.
“Ah yang penting kita semua harus menjaga ya, persatuan kesatuan. Jangan sampai ada hal yang tidak menguntungkan bagi kita semua ya,” ujar Herindra dengan tenang di hadapan wartawan.
Senada dengan respons Kepala BIN, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga menegaskan bahwa institusi Polri sepenuhnya menghormati hak setiap warga negara dalam menyampaikan pendapat di muka umum, karena hal tersebut dijamin oleh konstitusi.
Namun, Jenderal Listyo Sigit mewanti-wanti agar segala bentuk penyampaian aspirasi dan mosi tidak puas dilakukan dalam koridor yang tertib, terukur, serta jauh dari aksi anarkisme yang dapat mengganggu ketertiban umum.
“Terkait dengan kegiatan di masyarakat, tentu kita selalu mengimbau agar semua kegiatan dilaksanakan dalam bentuk yang konstruktif. Kami, Polri, tentunya akan terus menjaga agar apa pun bentuk kegiatan dan aspirasi dari masyarakat semuanya dalam kondisi yang konstruktif dan terukur,” urai Kapolri tegas.

Di sisi lain, aliansi mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan juga memilih untuk mengambil jarak dari narasi-narasi yang dinilai kontraproduktif dan terkesan tergesa-gesa. Koordinator Isu Politik dan Demokrasi BEM SI Kerakyatan, Kaleb Otniel Aritonang, menegaskan bahwa mahasiwa tidak boleh bersikap reaksioner.
Saat ini, BEM SI Kerakyatan justru tengah berfokus melakukan pemurnian gerakan lewat konsolidasi nasional di Kota Bandung guna membedah dan mengkaji isu-isu kebangsaan secara akademis, objektif, dan komprehensif demi murni membela kepentingan rakyat. (PDN)



Tinggalkan Balasan