JAKARTA, perdetiknews.com – Gelombang protes terkait terus merosotnya nilai tukar mata uang nasional mulai pecah di daerah.

Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jawa Tengah menggelar aksi demonstrasi besar di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, Semarang.

Dalam aksi tersebut, massa mahasiswa melayangkan ultimatum keras kepada pemerintah pusat untuk segera mengatasi keterpurukan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

BEM SI Jateng secara resmi memberikan tenggat waktu selama 18 hari kepada otoritas terkait, dan mengancam akan menggalang demonstrasi nasional bertajuk “Reformasi Jilid 2” jika tuntutan tersebut diabaikan.

Aksi yang diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari kawasan Semarang dan Surakarta ini diwarnai dengan pembawaan atribut duka.

Massa aksi membentangkan spanduk bernada satire seperti “RIP. Rupiah Sekarat” dan “Turut Berdukacita atas Matinya Rupiah” sebagai bentuk protes atas kondisi ekonomi nasional saat ini.

Sebagai aksi simbolis, mahasiswa melakukan pembakaran uang mainan di atas spanduk, dilanjutkan dengan prosesi tabur bunga, hingga melakukan penyegelan pintu masuk kantor perwakilan BI menggunakan spanduk serta pita barikade hitam-kuning.

Mahasiswa menegaskan, aksi teatrikal tersebut bukan untuk menghina simbol negara, melainkan peringatan bahwa mata uang Indonesia sedang dalam kondisi kritis.

Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Semarang, Kevin Priambodo, menyatakan gerakan ini lahir dari keresahan mendalam atas depresiasi rupiah yang berkepanjangan.

Pihaknya menilai kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kurang serius dan terkesan menganggap enteng masalah ini karena terlalu fokus pada proyek-proyek mercusuar.

“Kami resah melihat kondisi ekonomi yang sedang terjadi. Kebijakan fiskal yang digagas dan sikap yang diambil pemerintah seolah-olah menunjukkan tidak ada masalah,” cetus Kevin dalam orasinya.

Kevin mendesak Presiden Prabowo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Gubernur BI Perry Warjiyo untuk segera berkolaborasi menyusun kebijakan konkret dan radikal guna menguatkan rupiah.

Mahasiswa mengkhawatirkan, jika pelemahan mata uang ini dibiarkan, alokasi anggaran subsidi BBM yang menopang stabilitas harga energi saat ini akan jebol dan memicu lonjakan harga kebutuhan pokok (hyper-inflation) di masyarakat.

Ketua BEM Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, M. Kailani Rizqi Pratama, menambahkan bahwa dalam masa tenggat 18 hari ini, mahasiswa akan bergerak ke akar rumput untuk mengedukasi masyarakat mengenai risiko jatuhnya nilai mata uang yang bisa saja merosot hingga level Rp25.000 per dolar AS jika tidak ditangani serius.

“Apabila tuntutan itu tidak dipenuhi, mahasiswa mempertimbangkan menggelar demonstrasi besar-besaran bertajuk Reformasi Jilid 2. Kami tentu tidak mengharapkan hal itu terjadi, tetapi kami siap melakukannya jika kondisi ekonomi tidak kunjung membaik,” tegas Kailani.

Di sisi lain, menyikapi fluktuasi kurs yang terjadi, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebelumnya telah menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini sangat dipengaruhi oleh bauran faktor eksternal, termasuk tensi geopolitik rudal di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, serta derasnya arus keluar modal asing (capital outflow).

Destry memastikan pihak Bank Indonesia terus bersiaga penuh di pasar valas dengan melakukan langkah intervensi berlapis, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pembelian Surat Berharga Negara (SBN), hingga menggalakkan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction) dalam transaksi bilateral guna memotong ketergantungan terhadap dolar AS. (PDN)

10 / 100 Skor SEO