KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi merilis indikator ekonomi makro terbaru per 2 Juni 2026. Hasilnya, Sultra tengah menghadapi tekanan inflasi yang cukup tinggi, yakni menembus angka 4,07 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) dan 0,92 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m).

Lompatan inflasi ini dipicu oleh efek domino penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, meroketnya harga tiket pesawat, serta kenaikan harga pangan menjelang Hari Raya Idul Adha.

“Pada Mei 2026 terjadi inflasi yang lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya,” tulis BPS Sultra dalam laporan resminya, bertajuk materi-brs-2026-06-02.pdf.

Hulu dari tingginya inflasi di Sultra bermula saat pemerintah dan Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi per 4 Mei 2026. Tercatat, harga Pertamax Turbo naik 2,52 persen, Dexlite melonjak 10,14 persen, dan Pertamina Dex meroket hingga 16,56 persen.

Kenaikan harga BBM ini ditambah dengan melambungnya harga avtur dunia langsung memukul sektor transportasi. Kelompok pengeluaran transportasi pun mencatatkan inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,52 persen. Komoditas Angkutan Udara menjadi penyumbang andil inflasi terbesar, yaitu sebesar 0,16 persen, menyusul pemberlakuan biaya tambahan (surcharge) akibat fluktuasi bahan bakar pesawat.