KENDARI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyiapkan solusi baru bagi masyarakat di wilayah kepulauan yang selama ini menghadapi tantangan jarak dan kondisi laut saat membutuhkan pelayanan kesehatan. Di bawah kepemimpinan Gubernur Sultra Mayjen TNI (Purn.) H. Andi Sumangerukka, SE,MM., dua unit ambulans laut disiapkan khusus untuk mempercepat evakuasi pasien.
Program tersebut menjadi salah satu perhatian Gubernur Andi Sumangerukka dalam memperkuat akses pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau dan wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kepala Dinas Kesehatan Sultra, dr. Andi Edy Surahmat, M, mengatakan dua ambulans laut tersebut dianggarkan pada 2026 dan akan dibuat dengan spesifikasi khusus melalui e-Katalog.
“Program Ambulans Laut tetap berjalan. Tahun ini dianggarkan dua unit kapal spesifikasi khusus atau custom melalui e-Katalog,” ujar Andi Edy dalam wawancara di ruang kerjanya.
Menurutnya, ambulans laut tersebut tidak dibuat seperti kapal penumpang biasa. Kapal dirancang khusus untuk membawa pasien selama proses evakuasi dan rujukan.
Fasilitasnya antara lain ruang pasien tertutup dan ber-AC, tempat tidur pasien serta oksigen.
Desain kapal juga diperhitungkan untuk memberikan keamanan dan kenyamanan pasien selama perjalanan laut.
Andi Edy menegaskan, sejak awal Gubernur Andi Sumangerukka memberikan arahan agar ambulans laut digunakan sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat.
“Pak Gubernur menekankan ambulans laut ini murni untuk evakuasi pasien rujukan, bukan untuk perjalanan dinas pejabat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus memperjelas orientasi program tersebut. Armada yang disiapkan pemerintah provinsi ditujukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat ketika membutuhkan pertolongan medis dan harus dirujuk melalui jalur laut.
Kebijakan ini dinilai penting mengingat kondisi geografis Sultra yang memiliki banyak wilayah kepulauan.
Bagi masyarakat yang tinggal di pulau, perjalanan menuju fasilitas kesehatan rujukan tidak hanya persoalan jarak. Kondisi gelombang dan cuaca juga dapat menentukan cepat atau lambatnya pasien mendapatkan penanganan.
Besarnya kebutuhan transportasi rujukan laut tergambar dari jumlah pasien yang harus mendapatkan pelayanan di wilayah Baubau.
Andi Edy mengungkapkan, jumlah rujukan masyarakat menuju Baubau dapat mencapai sekitar 2.700 kasus dalam satu bulan.
“Angka rujukan masyarakat ke wilayah Baubau saja bisa mencapai sekitar 2.700 rujukan per bulan. Angka ini sangat tinggi,” katanya.
Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya sarana transportasi medis yang cepat dan aman bagi masyarakat kepulauan.
Dengan adanya ambulans laut, pemerintah berharap proses evakuasi pasien dapat dilakukan secara lebih terarah dan tidak semata-mata mengandalkan transportasi laut umum.
Dua ambulans laut yang disiapkan pada tahap awal memiliki panjang sekitar 8,5 meter.
Penempatan armada nantinya akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat. Sejumlah kawasan yang menjadi pertimbangan antara lain wilayah Bombana serta jalur Siompu-Amolengo.
Namun, Pemprov Sultra menyadari setiap wilayah memiliki kondisi perairan yang berbeda.
Untuk kawasan seperti Wakatobi yang memiliki karakteristik gelombang lebih tinggi, misalnya, dibutuhkan kapal dengan spesifikasi lebih besar.
Andi Edy menyebut ukuran kapal yang dibutuhkan bisa mencapai sekitar 11 hingga 12 meter.
Artinya, pengembangan ambulans laut tidak akan menggunakan satu standar untuk seluruh wilayah. Spesifikasi armada akan menyesuaikan kondisi geografis dan perairan masing-masing daerah.
Program ambulans laut menjadi bagian dari upaya Pemprov Sultra memperluas akses pelayanan kesehatan hingga ke wilayah yang selama ini menghadapi hambatan geografis.
Bagi masyarakat perkotaan, perjalanan menuju rumah sakit rujukan dapat ditempuh melalui jalan darat. Namun bagi masyarakat kepulauan, pilihan transportasi jauh lebih terbatas dan sangat dipengaruhi kondisi laut.
Karena itu, penyediaan ambulans laut menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Kebijakan tersebut juga sejalan dengan perhatian Gubernur Andi Sumangerukka terhadap persoalan akses kesehatan masyarakat Sultra.
Selain ambulans laut, Pemprov Sultra juga tengah memperkuat sejumlah program kesehatan lainnya, mulai dari kepesertaan BPJS Kesehatan, Jaminan Kesehatan Sultra (JKS), hingga penguatan layanan rujukan di RSUD Bahteramas.
Bagi masyarakat kepulauan, ambulans laut bukan sekadar armada transportasi.
Ketika seorang pasien membutuhkan rujukan cepat, waktu menjadi faktor penting. Kondisi cuaca, jarak antarpulau dan keterbatasan sarana transportasi dapat menjadi hambatan yang berisiko memperlambat penanganan.
Melalui program tersebut, Gubernur Andi Sumangerukka ingin memastikan persoalan geografis tidak menjadi alasan masyarakat Sultra kesulitan mendapatkan layanan kesehatan.
Dengan dua unit ambulans laut sebagai tahap awal, pemerintah provinsi kini mulai membangun sistem rujukan yang lebih sesuai dengan karakter wilayah Sultra sebagai provinsi kepulauan.
Langkah tersebut diharapkan menjadi awal dari penguatan layanan kesehatan yang tidak hanya berpusat di perkotaan, tetapi juga menjangkau masyarakat yang berada jauh di pulau-pulau.
Bagi warga kepulauan Sultra, hadirnya ambulans laut berarti satu hal penting: ketika membutuhkan pertolongan medis, mereka memiliki pilihan evakuasi yang memang dirancang untuk membawa pasien melalui laut.
Editor: San



Tinggalkan Balasan