KENDARI – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka, secara resmi dianugerahi gelar adat tertinggi masyarakat Muna, Sangia Mondono Wite Bhalano, pada gelaran Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sultra di Pelataran Tugu Religi Eks MTQ Kendari, Minggu (19/7/2026).

Penganugerahan ini makin melengkapi legitimasi kultural dan amanah adat yang disematkan oleh berbagai suku besar serta kerajaan adat di seluruh penjuru Bumi Anoa.

Gelar Sangia Mondono Wite Bhalano—yang bermakna sosok pemimpin dihormati dan bijaksana dalam menaungi masyarakat heterogen di wilayah luas—menambah panjang daftar penghormatan adat yang diterima Andi Sumangerukka.

Sebelumnya, ia dianugerahi gelar Panglima Tertinggi Adat Wakatobi, Meantu’u Sulo Dadu (atau Waopu Meantu’u Solo Dadu), berdasarkan keputusan pemangku adat empat Kadie dalam silaturahmi tokoh adat dan masyarakat di Wangi-Wangi.

Dari suku Moronene, ia menerima gelar Sepaeno Wonua Hai Reteno yang bermakna memperkokoh daratan wonua, di mana prosesinya dipimpin langsung oleh Raja Moronene XXXIV, Apua Mokole Alfian Pimpie.

Tak hanya itu, Lembaga Adat Tolaki (LAT) juga telah menganugerahkan gelar adat Tolaki Lariwu Wuanggiha Lasawonua pada April 2026 sebagai pemimpin yang didengar perintahnya.

Penghormatan tersebut melengkapi gelar bangsawan Kesultanan Buton La Ode Lakina Umane Lipu sebagai ksatria pelindung wilayah (Desember 2020), serta gelar bangsawan Anakia Pobendeno Wonua Mekongga dari Dewan Adat dan Majelis Kerajaan Bokeo Mekongga sebagai Pelindung Bumi Mekongga.

Dalam sambutannya di hadapan ribuan warga Muna, Gubernur menyampaikan rasa bangga dan terima kasih mendalam.

Ia menegaskan bahwa jajaran gelar kehormatan adat yang diterimanya dari berbagai suku di Sultra bukan sekadar penghargaan personal, melainkan amanah dan tanggung jawab moral untuk terus menjaga marwah kebudayaan daerah serta merawat simpul persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

Rangkaian acara tersebut juga dirangkaikan dengan pengukuhan Pengurus KKMM Sultra masa bakti 2026–2031, di mana Gubernur melantik La Ode Darwin sebagai Ketua KKMM Sultra.

Gubernur memacu pengurus baru dan masyarakat Muna untuk memegang teguh falsafah hidup KawunahaPo Masigho (saling mengasihi), Po Angka-Angkatau (saling menghormati), Po Adha-Adhati (saling menghargai), dan Po Pia-Piara (saling memelihara)—guna menjawab tantangan keterbatasan fiskal daerah melalui sinergi.

Acara ini ditutup dengan torehan Rekor Dunia MURI atas penyajian 1.228 dulang makanan khas tradisional Muna yang dibawa secara swadaya oleh warga. (KR)

58 / 100 Skor SEO