Kolaka – Praktik penegakan hukum yang dijalankan Kepolisian Resor (Polres) Kolaka dalam mengusut kasus dugaan penambangan tanpa izin di area konsesi PT Antam Tbk Ubpn Kolaka terus menuai sorotan tajam. Kini, sorotan publik mengarah kuat pada peran dua aktor lapangan, yakni Musdar dan Lukman, yang diduga kuat menjadi arsitek utama di balik operasi gelap tersebut.
Kasus ini mencuat setelah adanya laporan dari pihak PT Antam Tbk Ubpn Kolaka terkait aktivitas penambangan ilegal. Penyidik kepolisian kemudian bergerak menggunakan Pasal 158 juncto Pasal 35 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batubara (Minerba).
Namun, jalannya eksekusi penindakan dinilai sarat kejanggalan. Salah satunya terkait nasib aset sitaan berupa 4 unit mobil truk dan 2 unit ekskavator yang sudah ditahan selama tujuh bulan.
Alih-alih diamankan di Markas Polres Kolaka, barang bukti bernilai miliaran rupiah tersebut justru dititipkan di Pos Security PT Antam.
Kondisi ini memicu kritik keras mengenai independensi kepolisian. Terlebih, penahanan aset yang berlarut-larut tersebut dinilai mencekik ekonomi para pemilik kendaraan yang mayoritas dibeli secara kredit hingga berujung macet total.



Tinggalkan Balasan