KENDARI, PERDETIKNEWS.COM — Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kabupaten Kolaka Timur, Ir. Ilham P. Amir, menyoroti dugaan pola “arisan tender” dalam pengadaan pekerjaan di Universitas Halu Oleo (UHO).
Ia mempertanyakan kemunculan perusahaan yang berulang serta pergantian pemenang pada sejumlah paket pekerjaan.
Ilham meminta proses tersebut ditelusuri melalui dokumen penawaran, berita acara evaluasi, dan dasar penetapan pemenang.
“Memang terkesan menurut saya masih tanda tanya, bahwa di ULP itu sistem arisan, karena itu-itu saja perusahaan yang berputar,” ujar Ilham dalam wawancara dengan Perdetiknews.com, Minggu 25 Oktober 2026.
Ia menggunakan istilah “arisan tender” untuk menggambarkan kecurigaannya terhadap kemungkinan pembagian pekerjaan. Sorotannya tertuju pada perusahaan yang kalah pada satu paket, kemudian menjadi pemenang pada paket lainnya.
“Di sini menang, di sana tidak, di sini menang tidak. Jadi kayak arisanlah begitu,” katanya.
Polda Sulawesi Tenggara menyatakan akan menindaklanjuti sorotan terhadap pengadaan UHO.
Kasubdit III Tindak Pidana Korupsi Ditreskrimsus Polda Sultra, AKBP Niko Darutama, S.E., S.I.K., M.H., mengatakan penyelidikan akan mencakup rangkaian pengadaan hingga hasil pekerjaan.
“Akan kita tindak lanjuti. Polda akan melakukan penyelidikan dari proses awal tahap perencanaan, proses lelang sampai dengan hasil pekerjaannya,” kata Niko.
Salah satu paket yang dipertanyakan Ilham adalah Renovasi Gedung Rektorat UHO tahun anggaran 2025 dengan harga perkiraan sendiri (HPS) Rp6.815.191.000.
Dalam pengumuman yang dihimpun Perdetiknews.com, Wahdah Sultra Berkarya tercantum sebagai pemenang dengan penawaran awal Rp6.603.587.327 dan penawaran terkoreksi Rp6.594.707.327.
Empat perusahaan lainnya mencantumkan penawaran awal lebih rendah. CV ISMAZA mengajukan Rp6.474.579.602, CV LINK AMERTA Rp6.451.798.000, CV ABYAN KING PERKASA Rp6.380.879.440, dan CV NR. REZKY CONSTRUCTION Rp6.138.944.806.
Kolom penawaran terkoreksi keempat peserta tersebut tertulis Rp0. Tabel pengumuman yang dihimpun tidak memuat uraian alasan gugurnya masing-masing peserta.
Ilham meminta penjelasan mengenai makna angka tersebut dan hasil pemeriksaan dokumen penawaran.
“Harusnya kenapa dia tidak lulus, ini kurangnya, begitu, tetap ada berita acara,” ujarnya.
Ia meminta penyelenggara membuka dasar evaluasi administrasi, teknis, dan kualifikasi yang menentukan hasil pemilihan.
Dalam kumpulan 38 paket pengumuman pekerjaan UHO sepanjang 2023–2026 yang dihimpun Perdetiknews.com, terdapat 19 perusahaan yang tercantum sebagai pemenang.
Wahdah Sultra Berkarya dan CV Raning Dwi Laksana masing-masing tercatat memenangi enam paket. Akumulasi penawaran terkoreksi pemenang kedua perusahaan tersebut masing-masing Rp32.632.632.447 dan Rp23.598.179.068.
Penghitungan itu terbatas pada pengumuman yang dihimpun. Nilainya merupakan akumulasi penawaran terkoreksi, bukan nilai kontrak atau realisasi pembayaran.
Ilham meminta penelusuran terhadap kemungkinan hubungan kepemilikan antara perusahaan perencana, pengawas, dan pelaksana konstruksi.
Ia mengkhawatirkan badan usaha dengan nama berbeda berada dalam kendali pihak yang sama.
“Benderanya beda, bendera konsultan lain, pengawas lain,” katanya.
Dalam wawancara tersebut, Ilham menyebut mekanisme pengadaan yang disorotnya sebagai mini kompetisi.
Sementara itu, laman resmi tender UHO menempatkan sejumlah paket tersebut dalam kategori “Terbuka”. Perbedaan penyebutan mekanisme itu turut menjadi hal yang dimintakan penjelasan kepada pihak kampus.
Ilham menekankan perlunya keterbukaan penggunaan dana dan keputusan pengadaan.
“Baik dana di provinsi maupun dana di ULP itu kan dana pemerintah, dana rakyat. Di dalam penggunaannya ya harus transparan,” ujarnya.
Perdetiknews.com telah berulang kali berupaya meminta konfirmasi kepada Rektor UHO yang baru dilantik, Prof. Takdir Saili, mengenai sorotan Ilham atas dugaan pola “arisan tender”, keterbukaan hasil evaluasi, serta hubungan antarpenyedia.
Namun, hingga berita ini ditayangkan, permintaan konfirmasi tersebut belum mendapat tanggapan.
Editor: Ixan




Tinggalkan Balasan