TEHERAN – Sejarah baru tercipta dengan cara yang paling berdarah. Pemerintah Iran akhirnya mengkonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei , pada Minggu pagi (1/3/2026) waktu setempat. Khamenei tewas akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang diluncurkan sejak Sabtu dini hari.

Kematian pria berusia 86 tahun yang telah memerintah Iran dengan “tangan besi” selama hampir 37 tahun ini memicu penembakan besar-besaran. Hingga saat ini, belum jelas siapa sosok yang memegang kendali atas militer dan pemerintahan di Teheran.

Presiden AS Donald Trump dalam video pernyataannya menegaskan bahwa tujuan utama serangan adalah perubahan rezim. Ia secara terbuka mengungkapkan rakyat Iran untuk bangkit.

“Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda untuk diambil alih,” ujar Trump.

Meski sebagian warga Iran di Teheran melaporkan turun ke jalan untuk mengumumkan pengumuman tersebut, suasana duka dan ketakutan tetap membuat sebagian besar wilayah khawatir. HRANA melaporkan sedikitnya 133 warga sipil tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan yang dinamai operasi perdamaian oleh Washington tersebut.

Dampak instan dari kematian Khamenei merambat ke sektor ekonomi. Jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz dilaporkan berhenti total. Jalur ini merupakan urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dunia.

Tak hanya itu, Bandara Internasional Dubai dan beberapa koridor udara di Timur Tengah resmi ditutup setelah Iran melancarkan serangan balasan rudal balistik ke pangkalan-pangkalan AS di Teluk dan wilayah Israel.

Banyak analis yang mengira kematian Khamenei akan langsung mengubah sistem. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang sangat bertenaga diperkirakan akan tetap mempertahankan cengkeramannya, mengingat jaringan proksi mereka yang luas di seluruh wilayah Timur Tengah siap melakukan perlawanan balik yang dahsyat. (red)

53 / 100 Skor SEO