JAKARTA, perdetiknews.com – Pusaran kasus dugaan korupsi tata kelola proyek Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) pada program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) menggelinding menjadi bola salju yang kian liar.
Kuasa hukum mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sonny Sonjaya, Elza Syarief, secara blak-blakan mengungkap bahwa Kepala BGN, Nanik S. Deyang, resmi masuk dalam daftar nama yang diduga kuat terlibat dalam kasus rasuah tersebut.
Elza mengklaim bahwa Nanik memiliki peran spesifik dalam lingkaran kasus ini.
Kendati demikian, dirinya memilih untuk menyimpan rapat detail peran tersebut guna menjadi konsumsi tim penyidik Jampidsus Kejaksaan Agung (Kejagung).
Indikasi keterlibatan pimpinan BGN ini salah satunya terendus lewat sebuah unggahan bernada satire di akun Instagram pribadi Sonny Sonjaya pada Rabu (3/6/2026), sesaat setelah pensiunan jenderal polisi bintang dua tersebut resmi mengenakan rompi tahanan kejaksaan.
Dalam unggahan itu, Sonny menyampaikan ucapan selamat dan terima kasih kepada Nanik atas sebuah ‘hadiah indah’.
“Nanti akan saya sampaikan maksud surat itu karena saya sudah mengerti surat yang di-upload di Instagram Pak Sony. Jadi kalau nanti diperiksa penyidik, ya silakan beliau pertanggungjawabkan,” tegas Elza Syarief dalam program On Focus di YouTube Tribunnews.com.
Elza juga mengonfirmasi bahwa nama Nanik sudah secara sah dideklarasikan oleh kliennya di hadapan hukum. “Apakah satu di antara nama itu (Nanik) sudah disebut? Ya, sudah disebut oleh Pak Sony saat diperiksa,” tambahnya.

Di balik keberaniannya menyeret 26 nama besar lintas lembaga, kondisi psikologis Sonny Sonjaya dilaporkan berada dalam tekanan dan ketegangan yang teramat mendalam.
Pengakuan emosional diungkapkan Elza saat mendampingi sang klien di dalam Rumah Tahanan (Rutan).
Sonny tampaknya sadar betul akan konsekuensi berbahaya dari keputusannya menjadi justice collaborator (JC) untuk membongkar skandal ini.
“Akhirnya Pak Sony bilang ‘ya sudah, saya buka saja’. Terus dia diam, dan bilang gini: ‘Bu Elza, saya siap mati’. Saya langsung potong, ‘jangan Pak, jangan mati karena ucapan itu adalah doa’. Kemudian dia berbisik lagi, ‘Bu Elza, saya pesan titip anak dan istri saya’. Saya yang dengar juga agak sedih,” kenang Elza emosional.
Pasca-percakapan dramatis tersebut, Sonny langsung menyerahkan seluruh barang bukti kunci, termasuk rekam jejak digital obrolan mengenai skema “jual beli titik” dapur MBG yang melibatkan total 26 orang tokoh penting.
Elza pun mewanti-wanti penyidik agar menjaga ketat ponsel milik Sonny yang kini disita sebagai alat bukti utama.
Nyanyian maut dari kubu Sonny Sonjaya ini langsung memantik reaksi keras dan tegas dari lingkaran Istana Kepresidenan.
Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menegaskan bahwa pemerintah menghormati penuh seluruh proses hukum yang kini sedang berjalan di Kejaksaan Agung.
Qodari memastikan, sesuai titah langsung Presiden Prabowo Subianto, tidak akan ada payung perlindungan politik apa pun bagi pejabat yang terbukti mencuri uang rakyat.
“Diproses saja secara hukum. Tidak peduli dari eksekutif, legislatif, atau yudikatif, kalau memang ada pelanggaran hukum ya harus diproses. Jadi tidak ada pengecualian seperti kata Bapak Presiden. Kali ini semuanya sama di mata hukum,” cetus Muhammad Qodari tegas di Auditorium Bakom, Jakarta Pusat.
Lebih lanjut, Qodari memaparkan bahwa pihak Kejagung telah memetakan dua klaster besar dalam penanganan kasus mega korupsi MBG ini, yaitu klaster penggelembungan harga barang (markup) dan klaster makelar jual beli titik dapur gizi.
Istana menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik untuk menyaring dan mengklasifikasikan 26 nama yang disetorkan oleh Sonny Sonjaya. (PDN)



Tinggalkan Balasan