MAKKAH – Kondisi kesehatan jemaah haji Indonesia di Makkah menjadi perhatian serius petugas penyelenggara ibadah haji. Di tengah suhu panas ekstrem yang mencapai 42 derajat celsius, jemaah diminta mengontrol aktivitas agar kondisi tubuh tidak menurun.

Ketua Kwartir 5 Embarkasi Surabaya, Muhammad Ervan, mengingatkan jemaah untuk menjaga stamina karena jumlah jemaah yang sakit terus mengalami peningkatan dari hari ke hari.

“Jemaah harus mengontrol diri saat beraktivitas, mencegah kondisi tubuh menurun karena per kemarin jumlah jemaah yang sakit secara keseluruhan itu rata-rata naik,” ujar Ervan dalam pengumuman kepada jemaah.

Imbauan serupa juga disampaikan Direktur Bina Haji, Mustain Ahmad. Ia meminta seluruh calon haji tetap fokus pada tujuan utama menjalankan ibadah haji, terutama bagi jemaah yang telah menunggu keberangkatan selama bertahun-tahun.

Menurutnya, aktivitas di luar rangkaian ibadah sebaiknya dilakukan secukupnya dan tetap terukur agar kesehatan tetap terjaga.

“Jemaah harus mengingat tujuan pertama adalah berhaji, apalagi untuk yang sudah menunggu lama. Sehingga fokus jemaah harus pada tujuan berhaji, sementara kegiatan lain yang dilakukan secukupnya saja dan terukur,” katanya.

Hingga saat ini, lebih dari 92 ribu jemaah haji Indonesia dari gelombang pertama dan kedua telah tiba di Kota Makkah.

Setibanya di Tanah Suci, para jemaah langsung ditempatkan di hotel masing-masing sektor untuk beristirahat dan mempersiapkan pelaksanaan umrah wajib.

Namun, mereka juga harus mulai beradaptasi dengan suhu panas ekstrem yang melanda Kota Makkah dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data Tim Sanitasi dan Food Security Daerah Kerja (Daker) Makkah Tahun 2026, suhu udara pada Selasa (12/5/2026) diperkirakan mencapai 42 derajat celsius pada siang hari.

Sementara suhu pada pagi hari berada di angka 31 derajat celsius, sore hari sekitar 38 derajat celsius, dan malam hari masih mencapai 34 derajat celsius.

Kondisi suhu antara 40 hingga 45 derajat celsius tersebut masuk kategori “Siaga 2” sehingga jemaah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat paparan panas.

Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia pun mengeluarkan peringatan dini atau Early Warning System (EWS) bagi jemaah haji Indonesia.

Dalam imbauannya, jemaah lanjut usia (lansia) maupun yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid dianjurkan melaksanakan salat di hotel guna mengurangi risiko kelelahan akibat cuaca panas.

Jemaah yang harus beraktivitas di luar ruangan juga diminta menggunakan perlindungan diri seperti sandal, masker, payung, dan perlengkapan pelindung lainnya.

Selain itu, jemaah diimbau rutin mengonsumsi air putih tanpa menunggu rasa haus, termasuk dapat dicampur oralit maupun air zamzam, dengan anjuran sekitar 200 mililiter per jam untuk mencegah dehidrasi. (red)

8 / 100 Skor SEO