KENDARI – Pagi itu,  suasana di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 di Sulawesi Tenggara mendadak riuh.

Kehadiran sosok pria berseragam dinas putih dengan tanda pangkat bintang dua di pundaknya bukan untuk sekadar seremoni formal.

Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, datang dengan satu misi: Sidak (Inspeksi Mendadak).

Sikap disiplin sebagai mantan prajurit tak bisa disembunyikan.

Langkah kakinya tegas menyusuri koridor sekolah, namun raut wajahnya berubah saat memasuki ruang-ruang kelas.

Gubernur yang akrab disapa ASR ini tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Di beberapa kelas, bangku-bangku tampak kosong melongpong.

Dari total puluhan siswa yang seharusnya hadir, hanya segelintir yang nampak duduk di meja mereka.

“Loh, ini berapa muridnya? Kok yang hadir cuma empat?” tanyanya dengan nada tertahan saat memasuki kelas pertama.

Alasan demi alasan meluncur dari pihak sekolah, mulai dari kegiatan olahraga hingga izin lainnya.

Namun, Andi Sumangerukka tetap pada prinsipnya. Baginya, pendidikan adalah prioritas yang tidak boleh dikompromikan dengan manajemen yang longgar.

“Kamu Kepala Sekolah, guru-guru… tidak benar ini! Kenapa bisa begini? Mulai dari ujung sana kelas kosong, ada yang cuma tiga orang. Gimana itu?” tegasnya langsung di depan jajaran staf sekolah.

Namun, di balik ketegasannya, muncul momen yang menyentuh hati. Saat memeriksa satu per satu siswa, perhatian Gubernur tertuju pada seorang siswa yang tidak mengenakan sepatu, melainkan hanya beralaskan sandal.

“Kenapa pakai sandal? Di mana sepatumu?” tanya Andi.

Jawaban yang diterima sungguh tak terduga. Siswa tersebut mengaku sepatunya sedang dipinjamkan kepada temannya yang lebih membutuhkan.

Sebuah aksi solidaritas polos di tengah keterbatasan ekonomi.

Di kelas lain, ASR juga menemukan siswa dengan sepatu yang sudah jebol dan tak layak pakai.

Melihat kondisi tersebut, amarah sang Gubernur luluh menjadi empati. Ia tidak hanya menegur, tapi langsung memberikan solusi nyata.

Di tempat itu juga, Andi Sumangerukka merogoh saku dan memberikan sejumlah uang kepada para siswa tersebut untuk membeli sepatu baru.

“Sekarang saya kasih uang untuk beli sepatu. Tapi nanti dipakai untuk sekolah ya? Beneran ini. Pak Kepala Sekolah, tolong dicek nanti mereka beli sepatu,” pesannya sambil menyalami para siswa.

Kunjungan ini bukan sekadar tentang sepatu baru atau kelas yang kosong. Ini adalah pesan kuat dari seorang pemimpin daerah bahwa kedisiplinan dan kesejahteraan siswa adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Andi Sumangerukka menunjukkan bahwa menjadi Gubernur bukan hanya soal kebijakan di atas kertas, tapi tentang turun ke lapangan, melihat lubang di sepatu warganya, dan memastikan bahwa masa depan generasi muda Sultra tidak terhambat oleh manajemen sekolah yang buruk maupun kemiskinan.

Sidak hari itu berakhir dengan haru. Para siswa yang mendapatkan bantuan tak henti-hentinya mencium tangan sang Gubernur, sementara pihak sekolah tertunduk, membawa “pekerjaan rumah” besar untuk membenahi kualitas pendidikan di bawah kepemimpinan sang Jenderal purnawirawan tersebut. (red)

55 / 100 Skor SEO