Pembangunan jalan yang berkualitas juga memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Akses yang lebih baik akan mempermudah warga menuju fasilitas kesehatan, sekolah, pusat perdagangan, pelabuhan, hingga kawasan produksi pertanian dan perikanan.

Semangat pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat inilah yang menjadi bagian penting dari arah pembangunan pemerintahan ASR.

Wilayah kepulauan Sulawesi Tenggara memiliki tantangan tersendiri dalam pembangunan infrastruktur. Jarak antardaerah, kondisi geografis, serta karakteristik wilayah pesisir membutuhkan perencanaan dan penanganan jalan yang tepat.

Karena itu, keberadaan jalan provinsi dengan kondisi mantap menjadi modal strategis untuk mendorong pemerataan pembangunan.

Berdasarkan data daftar ruas jalan provinsi wilayah kepulauan, total panjang jalan mencapai 330,73 kilometer yang tersebar pada 17 ruas jalan di sejumlah kabupaten dan kota.

Dari keseluruhan panjang tersebut, jalan dalam kondisi baik mencapai 253,88 kilometer atau 76,76 persen. Sementara jalan kondisi sedang mencapai 21,15 kilometer atau 6,39 persen.

Adapun jalan rusak ringan tercatat sepanjang 14,90 kilometer atau 4,51 persen, sedangkan jalan rusak berat mencapai 40,80 kilometer atau 12,34 persen.

Jika kondisi baik dan sedang digabungkan, persentase jalan mantap mencapai 83,15 persen.

Capaian kondisi jalan mantap ini menjadi fondasi penting untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur yang lebih merata, sekaligus menjadi pekerjaan berkelanjutan agar ruas-ruas yang masih mengalami kerusakan dapat ditangani secara bertahap.

17 Ruas Jalan Provinsi Wilayah Kepulauan Sultra

Berikut daftar lengkap ruas jalan provinsi wilayah kepulauan beserta kondisi dan panjang masing-masing ruas berdasarkan dokumentasi data 4 November 2026.

No. Nama Ruas Jalan Panjang (km) Baik (km) Sedang (km) Rusak Ringan (km) Rusak Berat (km)
1 Lagadi – Batas Kabupaten Muna 15,10 13,60 1,40 0,10 0,00
2 Batas Kabupaten Muna – Batas Kabupaten Buton Tengah 30,50 30,40 0,10 0,00 0,00
3 Batas Kabupaten Buton Tengah – Pelabuhan Wamengkoli 39,30 30,60 4,00 4,10 0,60
4 Jalan Dayanu Ikhsanudin – Batas Kabupaten Buton Selatan 9,45 9,45 0,00 0,00 0,00
5 Batas Kabupaten Buton Selatan – Batauga 17,25 13,75 3,20 0,30 0,00
6 Batauga – SP 3 Gunung Sejuk 24,90 22,30 1,70 0,90 0,00
7 SP 3 Gunung Sejuk – Kaongkeongkea 15,20 11,80 2,70 0,70 0,00
8 SP 3 Talingko – Lawele 6,28 5,68 0,60 0,00 0,00
9 Lawele – Kamaru 28,27 26,17 2,10 0,00 0,00
10 Lawele – Batas Kabupaten Buton Utara 7,00 6,70 0,30 0,00 0,00
11 Batas Kabupaten Buton Utara – SP 3 Bubu 24,30 9,00 0,30 2,90 12,10
12 SP 3 Bubu – Ronta 31,40 18,70 1,10 0,40 11,20
13 Ronta – Lambale 13,40 10,50 1,00 1,10 0,80
14 Lambale – Ereke 29,76 13,06 2,00 4,20 10,50
15 Ronta – Batas Kabupaten Muna 14,65 8,90 0,15 0,00 5,60
16 Batas Kabupaten Muna – Maligano 7,47 6,77 0,50 0,20 0,00
17 Wanci – Komala – Bandara Matahora 16,50 16,50 0,00 0,00 0,00
TOTAL 330,73 253,88 21,15 14,90 40,80

Persentase kondisi jalan

Kondisi jalan yang mantap memiliki peran strategis dalam memperkuat perekonomian masyarakat di wilayah kepulauan.

Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan, pertanian, perkebunan, perdagangan, dan pariwisata, jalan yang layak akan mempermudah distribusi hasil produksi menuju pasar dan pusat kegiatan ekonomi.

Konektivitas yang baik juga berpotensi mengurangi hambatan perjalanan, meningkatkan efisiensi transportasi, serta memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses berbagai pelayanan dasar.

Ruas-ruas jalan yang menghubungkan wilayah Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara, Muna, Muna Barat, dan Wakatobi memiliki peranan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat.

Jalur menuju Pelabuhan Wamengkoli, kawasan Lawele, Ereke, Ronta, hingga Bandara Matahora menjadi bagian dari jaringan konektivitas yang mendukung aktivitas ekonomi dan pelayanan masyarakat.

Karena itu, pembangunan dan pemeliharaan jalan provinsi perlu terus menjadi perhatian pemerintah daerah agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

Pemerintahan Gubernur Andi Sumangerukka membawa semangat pembangunan yang menempatkan kepentingan masyarakat sebagai salah satu orientasi utama.

Program JAMA’AH menjadi bagian dari semangat tersebut, dengan harapan pembangunan daerah dapat berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat serta mendorong kesejahteraan yang lebih merata.

Dalam konteks pembangunan infrastruktur, jalan yang mantap menjadi salah satu elemen penting untuk mendukung tujuan tersebut.

Pembangunan jalan bukan hanya mengenai penyelesaian pekerjaan fisik, tetapi juga bagaimana infrastruktur dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Jalan yang terpelihara akan membantu memperkuat konektivitas, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, serta mendukung pemerataan akses pelayanan publik.

Data kondisi jalan provinsi wilayah kepulauan yang menunjukkan persentase jalan mantap sebesar 83,15 persen menjadi gambaran penting bagi upaya penguatan infrastruktur di Sulawesi Tenggara.

Meski demikian, masih terdapat 40,80 kilometer jalan dalam kondisi rusak berat yang membutuhkan perhatian dan penanganan berkelanjutan. Pemerintah provinsi diharapkan dapat terus menyusun prioritas pembangunan berdasarkan tingkat kerusakan, kebutuhan masyarakat, serta peran strategis masing-masing ruas.

Dengan perencanaan yang tepat, pemeliharaan yang konsisten, dan pembangunan yang berkelanjutan, konektivitas wilayah kepulauan Sulawesi Tenggara diharapkan semakin kuat.

Andi Sumangerukka, Infrastruktur Sultra, Jalan Provinsi Kepulauan

Pembangunan infrastruktur jalan menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan Sulawesi Tenggara yang semakin maju dan merata.

Di wilayah kepulauan, jalan yang mantap bukan sekadar fasilitas transportasi, tetapi juga menjadi penghubung harapan masyarakat untuk memperoleh akses pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pelayanan pemerintahan yang lebih baik.

Pemerintahan ASR diharapkan terus memperkuat agenda pembangunan infrastruktur, memastikan pemeliharaan jalan berjalan konsisten, serta memberikan perhatian terhadap ruas-ruas yang masih membutuhkan perbaikan.

Dengan semangat Program JAMA’AH, pembangunan yang berorientasi pada masyarakat diharapkan mampu memperkuat konektivitas dan membuka peluang kesejahteraan yang lebih luas.

Pemerataan pembangunan pada akhirnya bukan hanya diukur dari panjang jalan yang tersedia, melainkan dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Sulawesi Tenggara yang terkoneksi, masyarakat yang sejahtera, dan pembangunan yang merata menjadi harapan bersama untuk masa depan daerah.

 

Editor: Ixan

(Advetorial)

29 / 100 Skor SEO