Di tengah riuh tepuk tangan ratusan mahasiswa di Aula Merah Putih Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Tenggara, Jumat pagi, 22 Mei 2026, sosok perempuan itu berdiri tenang.
Senyumnya hangat, namun matanya menyimpan harapan besar untuk masa depan daerah ini.

Dialah Arinta Andi Sumangerukka, Ketua Yayasan Asmar Abadi (ASR), perempuan yang memilih menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian bagi generasi muda Sulawesi Tenggara.
Hari itu, bersama Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, ia menyerahkan Beasiswa Sultra Cerdas 2026 kepada 150 mahasiswa terpilih dari lebih dari tiga ribu pendaftar.
Namun bagi Arinta, angka-angka itu bukan sekadar data penerima bantuan pendidikan.
Di balik setiap nama mahasiswa yang dipanggil, ada cerita perjuangan.

Ada anak petani yang nyaris berhenti kuliah karena biaya semester. Ada mahasiswa dari kepulauan yang harus bertaruh antara membeli buku atau ongkos pulang kampung.

Ada pula mimpi-mimpi besar yang selama ini nyaris padam oleh keadaan ekonomi keluarga.
Arinta memahami itu.
Karena itulah, Yayasan Asmar Abadi tidak hanya hadir sebagai lembaga pemberi bantuan pendidikan, tetapi ingin menjadi jembatan harapan bagi anak-anak Sulawesi Tenggara yang ingin mengubah nasib melalui ilmu pengetahuan.
“Saya sebagai Ketua Yayasan ASR mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berkontribusi dalam mendukung pendidikan di Sulawesi Tenggara,” ujar Arinta dalam sambutannya.

Namun lebih dari sekadar ucapan formal, kalimat itu menjadi penegasan bahwa kepedulian terhadap pendidikan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
Pendidikan Tak Boleh Jadi Hak Kaum Mampu Saja. Bagi Arinta, pendidikan tidak boleh berhenti di ruang-ruang kampus besar atau hanya dinikmati mereka yang lahir dari keluarga berkecukupan.
Itulah sebabnya proses seleksi Beasiswa Sultra Cerdas 2026 dibuat ketat, tetapi tetap berpihak pada keadilan sosial.

Yayasan ASR menggandeng akademisi Universitas Halu Oleo, termasuk doktor dan profesor, untuk memastikan bantuan pendidikan benar-benar diberikan kepada mahasiswa yang layak menerima.
Tak hanya melihat indeks prestasi akademik, seleksi juga mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga, kesesuaian jurusan dengan kebutuhan pembangunan daerah, hingga keterwakilan mahasiswa dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara.
Di mata Arinta, kecerdasan anak muda Sultra tersebar di banyak tempat dari kota hingga pelosok kepulauan. Dan semuanya pantas mendapat kesempatan yang sama.
“Keterbatasan ekonomi tidak boleh memadamkan api cita-cita mahasiswa berpotensi,” tegasnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di tengah kondisi banyak keluarga yang masih berjuang membiayai pendidikan anaknya, pesan tersebut terasa begitu dalam.
Satu hal yang paling membekas bagi Arinta bukanlah seremoni penyerahan beasiswa atau angka penerima bantuan.
Melainkan lembar demi lembar narasi yang ditulis para mahasiswa saat mendaftar.
Ia mengaku membaca cerita mereka. Tentang ilmu yang sedang dipelajari, tentang mimpi yang ingin diwujudkan, hingga tentang harapan untuk membangun Sulawesi Tenggara di masa depan.
Ada yang ingin menjadi dokter di daerah terpencil. Ada yang bercita-cita membangun teknologi pertanian modern.
Ada pula yang ingin kembali ke kampung halaman untuk memperbaiki pendidikan di daerahnya sendiri.
“Terima kasih atas semangatnya. Insya Allah semua ilmu dan harapan itu dapat terwujud dan bermanfaat,” ucap Arinta penuh haru.
Bagi perempuan itu, mahasiswa bukan sekadar penerima bantuan dana pendidikan.
Mereka adalah calon pemimpin masa depan Sulawesi Tenggara.
Karena itu, ia berpesan agar para penerima beasiswa tidak berhenti hanya menjadi mahasiswa berprestasi, tetapi juga menjadi agen perubahan bagi daerah masing-masing.
Sementara itu, Andi Sumangerukka menegaskan bahwa investasi terbesar hari ini adalah investasi pada pendidikan.
Menurutnya, sumber daya alam tidak akan berarti besar tanpa sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman.
“Saya hanya meletakkan fondasi. Kalianlah generasi muda yang menentukan apa yang akan dibangun di atas fondasi ini,” kata gubernur.
Dan di balik fondasi itu, ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Ada sosok seperti Arinta Andi Sumangerukka yang memilih menyalakan harapan lewat pendidikan.
Sebab bagi Yayasan ASR, beasiswa bukan sekadar bantuan biaya kuliah.
Ia adalah pesan bahwa anak-anak Sulawesi Tenggara tidak boleh berhenti bermimpi hanya karena lahir dari keluarga sederhana. (adv)



Tinggalkan Balasan