MIMBAR | Oleh dr. H. Sukirman, MARS, M.Kes., Sp.PA.

Ketua IKADI Wilayah Sulawesi Tenggara

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ketika Jabatan Membuat Kita Dihormati, Jangan Sampai Kita Lupa Cara Menghormati

Bayangkan suatu pagi, seorang warga datang ke sebuah kantor pemerintahan. Bajunya sederhana.

Wajahnya menyimpan kelelahan. Di tangannya ada map berisi dokumen yang sudah berkali-kali ia periksa, berharap hari itu urusannya bisa selesai.

Ia datang bukan untuk meminta keistimewaan. Ia hanya ingin mendapatkan haknya.

Di ruang pelayanan, ia bertanya dengan sopan. Namun, jawaban yang diterimanya singkat. Ia diminta menunggu, kemudian diarahkan ke meja lain.

Setelah berpindah dari satu ruangan ke ruangan berikutnya, ia pulang tanpa kepastian.

Tidak ada yang tahu berapa ongkos yang ia keluarkan untuk datang ke kantor itu. Tidak ada yang tahu pekerjaan apa yang ia tinggalkan, atau berapa besar harapannya ketika berangkat dari rumah.

Bagi orang-orang di kantor tersebut, mungkin kedatangannya hanya satu urusan di antara puluhan urusan lain.

Tetapi bagi dirinya, persoalan itu bisa jadi menyangkut kebutuhan keluarga, masa depan anak, atau hak yang telah lama ia perjuangkan.

Ia pulang membawa map yang sama. Persoalannya belum selesai. Namun, ada sesuatu yang ikut dibawanya pulang: kekecewaan karena merasa tidak didengar.

Kisah seperti ini mungkin tidak selalu terjadi. Banyak pula aparatur yang bekerja dengan tulus, melayani masyarakat dengan sepenuh hati, dan berjuang menyelesaikan persoalan di tengah keterbatasan. Mereka layak dihargai.

Namun, cerita ini mengajak kita bertanya: pernahkah kita menyadari bahwa cara kita memperlakukan seseorang dapat menjadi bagian dari beban hidup yang sedang ia tanggung?

Dan bagi mereka yang sedang memegang jabatan, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah kehadiran kita telah membuat urusan masyarakat menjadi lebih mudah, atau justru membuat mereka merasa semakin kecil di hadapan kekuasaan?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menyampaikan pesan tentang kerendahan hati dan bahaya kesombongan dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Ikhlas, Mabes Polri, Jakarta, pada 9 Oktober 2026.

Pesannya mengingatkan bahwa jabatan dan kekuasaan bukanlah alasan untuk meninggikan diri.

Keduanya merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Nasihat tersebut terdengar sederhana. Tetapi bagi siapa pun yang sedang berada di kursi kekuasaan, sesungguhnya ada cermin besar yang sedang diletakkan di hadapannya.

Sebab, salah satu ujian terberat manusia bukanlah ketika ia tidak memiliki apa-apa.

Ujian yang sesungguhnya terkadang datang ketika ia mulai memiliki segalanya: kedudukan, penghormatan, pengaruh, dan kewenangan untuk menentukan nasib orang lain.

Pada saat itulah, manusia bisa perlahan-lahan berubah tanpa menyadarinya.

Dahulu ia mudah menyapa siapa saja. Setelah menjabat, ia mulai memilih siapa yang layak disapa.

Dahulu ia bersedia mendengarkan keluhan orang lain. Setelah memiliki kekuasaan, ia merasa terlalu sibuk untuk mendengar.

Dahulu ia tahu rasanya menunggu dan berharap mendapat pertolongan.

Namun, setelah berada di posisi yang lebih tinggi, ia terkadang lupa bahwa orang-orang yang datang kepadanya mungkin sedang membawa persoalan yang jauh lebih berat daripada yang terlihat.

Perubahan itu tidak selalu terjadi dalam sehari. Kadang-kadang, ia tumbuh sedikit demi sedikit, melalui pujian yang terus-menerus, penghormatan yang berlebihan, dan lingkungan yang terlalu takut untuk mengingatkan.

Sampai suatu ketika, seseorang mulai mengira bahwa semua penghormatan yang diterimanya adalah bukti bahwa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Padahal, boleh jadi, orang-orang menghormatinya bukan karena dirinya secara pribadi, melainkan karena jabatan yang sedang disandangnya.

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Jangan sampai kita salah memahami penghormatan sebagai kemuliaan.

Jangan sampai kita mengira bahwa orang yang diam di hadapan kita selalu setuju dengan kita.

Dan jangan sampai kita merasa diri paling benar hanya karena tidak ada orang yang berani mengatakan bahwa kita keliru.

Sebab, ketika semua orang takut menyampaikan kebenaran, seorang pemimpin justru berada dalam bahaya kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Ada sebuah kenyataan yang sering terlupakan oleh manusia: jabatan memiliki batas waktu.

Hari ini seseorang mungkin dipanggil dengan gelar kehormatan. Langkahnya disambut. Ucapannya didengar. Keputusannya menjadi perhatian banyak orang.

Namun, waktu terus bergerak.

Suatu hari, masa jabatan itu akan selesai. Kursi yang dahulu diduduki akan ditempati orang lain.

Ruangan yang dahulu menjadi tempat mengambil keputusan akan kembali menjadi ruang kerja bagi pemimpin berikutnya.

Orang-orang yang dahulu datang untuk memberikan penghormatan akan melanjutkan urusannya masing-masing.

Lalu, apa yang tersisa?

Apakah orang akan mengenangnya sebagai pemimpin yang pernah mempersulit urusan mereka?

Sebagai pejabat yang hanya ramah kepada orang-orang penting?

Atau sebagai seseorang yang menggunakan kewenangannya untuk membantu, mendengar, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat?

Pertanyaan itu penting karena pada akhirnya, jabatan tidak akan tinggal bersama kita selamanya.

Dalam Islam, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh pangkat, kekayaan, atau kedudukan.

Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa.

Artinya, seseorang tidak otomatis menjadi lebih mulia hanya karena duduk di kursi yang lebih tinggi.

Bisa jadi, orang yang hidup sederhana, bekerja dalam diam, dan tidak pernah disebut namanya di ruang-ruang kehormatan justru memiliki kualitas akhlak yang jauh lebih baik.

Ia mungkin tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah kebijakan, tetapi ia tidak pernah menggunakan keadaan untuk merendahkan orang lain.

Ia mungkin tidak dikenal banyak orang, tetapi kehadirannya membuat orang di sekitarnya merasa dihargai.

Sementara itu, seseorang yang memiliki jabatan tinggi bisa saja dihormati di hadapan banyak orang, tetapi kehilangan sesuatu yang lebih mendasar: kerendahan hati.

Karena itu, semakin tinggi jabatan seseorang, seharusnya semakin besar pula kesediaannya untuk mendengar.

Semakin luas kewenangannya, seharusnya semakin kuat tanggung jawabnya. Dan semakin banyak penghormatan yang diterimanya, seharusnya semakin dalam pula ia memeriksa hatinya sendiri.

Rendah hati bukan berarti kehilangan wibawa. Meminta maaf bukan berarti kehilangan kehormatan. Mendengarkan kritik juga bukan tanda kelemahan.

Justru dibutuhkan kebesaran jiwa untuk mengakui kesalahan ketika seseorang memiliki kekuasaan untuk menutupinya.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. (HR. Muslim).

Pesan ini tidak hanya berbicara tentang cara seseorang berpakaian, berbicara, atau menampilkan diri.

Ia menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam, bagaimana seseorang memandang manusia lain dan bagaimana ia menyikapi kebenaran.

Kesombongan bisa muncul ketika seorang pejabat menganggap kritik sebagai penghinaan.

Ia bisa tumbuh ketika seorang pemimpin merasa tidak perlu meminta maaf. Ia juga bisa bersembunyi di balik kebiasaan meremehkan orang yang dianggap tidak memiliki kedudukan.

Padahal, ketegasan tidak harus disertai kekasaran. Kewibawaan tidak perlu dibangun dengan ketakutan.

Dan kepemimpinan tidak semestinya menjauhkan seseorang dari kenyataan yang dialami masyarakat.

Seorang pemimpin boleh mengambil keputusan yang tidak menyenangkan semua pihak.

Ia harus mampu menegakkan aturan, menjaga disiplin, dan bertindak tegas ketika diperlukan. Namun, semua itu tetap dapat dilakukan tanpa merendahkan martabat manusia.

Sebab, masyarakat tidak selalu menuntut agar semua keinginannya dipenuhi.

Sering kali, mereka hanya ingin diperlakukan dengan adil, mendapatkan penjelasan yang jujur, dan didengar tanpa harus merasa tidak berarti.

Bagi seorang pejabat, sebuah berkas mungkin hanya selembar dokumen. Bagi warga yang mengurusnya, berkas itu mungkin menyangkut masa depan keluarganya.

Bagi seorang pemimpin, sebuah keputusan mungkin hanya bagian dari rutinitas kerja.

Bagi masyarakat yang terdampak, keputusan itu bisa mengubah kehidupan mereka selama bertahun-tahun.

Itulah sebabnya jabatan tidak boleh dijalankan hanya dengan menghitung target dan menyelesaikan administrasi.

Ada manusia di balik setiap urusan. Ada harapan di balik setiap permohonan. Ada kehidupan yang bisa terbantu, tetapi ada pula kehidupan yang dapat terdampak oleh keputusan yang tidak dipertimbangkan dengan baik.

Terlebih ketika kewenangan menyangkut anggaran publik, pelayanan dasar, penegakan hukum, dan hak masyarakat.

Uang negara bukan milik pribadi. Fasilitas jabatan bukan alasan untuk merasa lebih istimewa.

Kewenangan bukan kesempatan untuk mengutamakan kepentingan keluarga atau kelompok sendiri.

Semua itu harus digunakan sesuai aturan, dengan kejujuran dan tanggung jawab.

Sebab, amanah tidak cukup terlihat baik dalam laporan. Amanah harus nyata dalam proses yang adil, keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Pada titik ini, setiap pejabat sesungguhnya perlu memiliki waktu untuk berdialog dengan dirinya sendiri.

Ketika pintu kantor telah ditutup dan pujian tidak lagi terdengar, tanyakanlah: apakah hari ini saya sudah menjalankan amanah dengan benar?

Ketika tidak ada kamera yang merekam, tanyakanlah: apakah saya tetap jujur ketika tidak ada orang yang mengawasi?

Ketika berhadapan dengan seseorang yang tidak memiliki kekuasaan untuk membalas kebaikan kita, tanyakanlah: apakah saya tetap memperlakukannya dengan hormat?

Dan ketika mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan orang banyak, tanyakanlah: apakah saya sedang memperjuangkan kepentingan masyarakat atau sekadar kepentingan diri sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu nyaman.

Namun, justru ketidaknyamanan itulah yang terkadang diperlukan agar hati tidak terlalu lama tertidur di tengah kemewahan kekuasaan.

Sebab, ada saatnya manusia perlu berhenti mencari kesalahan orang lain dan mulai memeriksa dirinya sendiri.

Kita sering mudah melihat kesombongan pada diri orang lain, tetapi sulit mengenalinya ketika ia tumbuh dalam diri kita. Kita cepat menilai pemimpin yang tidak mau mendengar, tetapi terkadang kita sendiri menolak nasihat.

Kita berharap orang lain menghormati kita, tetapi belum tentu kita telah memperlakukan semua orang dengan hormat.

Maka, renungan tentang jabatan sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada pejabat. Ia juga menjadi pengingat bagi setiap orang yang diberi kepercayaan, sekecil apa pun kewenangannya.

Seorang kepala keluarga memiliki amanah. Seorang pemimpin organisasi memiliki amanah. Seorang atasan memiliki amanah.

Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki kesempatan untuk memilih apakah ia akan menggunakan pengaruhnya untuk membantu atau justru menyakiti orang lain.

Pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan sesuatu.

Kita akan meninggalkan jabatan, harta, rumah, kendaraan, dan berbagai hal yang dahulu membuat kita merasa memiliki kedudukan.

Dalam keyakinan Islam, kita juga akan mempertanggungjawabkan amal perbuatan di hadapan Allah SWT.

QS. Az-Zalzalah ayat 7–8 mengingatkan bahwa siapa pun yang mengerjakan kebaikan seberat zarah akan melihat balasannya, dan siapa pun yang mengerjakan kejahatan seberat zarah juga akan melihat balasannya.

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dilakukan dan tidak ada keburukan yang patut dianggap sepele.

Sebuah keputusan yang adil mungkin tidak menjadi berita besar, tetapi dapat menyelamatkan hak seseorang.

Sebuah sikap ramah mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi dapat menguatkan hati orang yang sedang menghadapi kesulitan.

Sebuah keberanian untuk menolak penyalahgunaan kewenangan mungkin tidak mendatangkan pujian, tetapi dapat menjaga kepentingan banyak orang.

Sebaliknya, sikap meremehkan, ketidakjujuran, dan keputusan yang mengabaikan hak orang lain tidak semestinya dianggap ringan hanya karena dilakukan dari balik meja kekuasaan.

Karena itu, jangan menunggu masa jabatan berakhir untuk belajar menjadi sederhana.

Jangan menunggu kehilangan penghormatan untuk belajar menghargai orang lain. Dan jangan menunggu orang-orang menjauh untuk menyadari bahwa selama ini kita terlalu sibuk meninggikan diri.

Selagi masih diberi kesempatan, perbaikilah cara kita memperlakukan sesama.

Selagi masih memiliki kewenangan, gunakanlah untuk menghadirkan keadilan.

Selagi masih dipercaya, jagalah kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya.

Barangkali kita tidak mampu menyelesaikan semua persoalan. Barangkali ada keterbatasan yang tidak bisa dihindari.

Namun, kita selalu dapat memilih untuk tidak menambah penderitaan orang lain dengan kesombongan, ketidakpedulian, atau penyalahgunaan kekuasaan.

Dan ketika suatu hari jabatan itu berakhir, semoga yang tertinggal bukan hanya foto-foto saat pelantikan, berita tentang kegiatan, atau catatan panjang tentang kekuasaan yang pernah dimiliki.

Semoga masih ada masyarakat yang mengingat kebaikan kita.

Semoga masih ada orang yang merasa pernah dibantu.

Semoga masih ada hati yang mendoakan kita, bukan karena takut atau karena pernah membutuhkan sesuatu, melainkan karena pernah merasakan ketulusan.

Sebab, penghormatan yang paling dalam tidak dapat dipaksakan melalui jabatan. Ia tumbuh dari akhlak, kejujuran, dan cara kita memperlakukan manusia.

Maka, wahai siapa pun yang hari ini sedang memegang amanah, tundukkanlah dagumu sebelum kesombongan meninggikan dirimu terlalu jauh.

Lembutkanlah hatimu sebelum kekuasaan membuatmu sulit mendengar. Dan jangan biarkan ego mengalahkan nurani.

Tidak ada salahnya menjadi pemimpin yang tegas.

Tidak ada salahnya memiliki cita-cita besar.

Tidak ada salahnya memperoleh penghormatan karena prestasi dan pengabdian.

Namun, jangan pernah merasa terlalu tinggi untuk menyapa. Jangan merasa terlalu penting untuk mendengar. Dan jangan merasa terlalu berkuasa untuk meminta maaf.

Sebab, kebesaran seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa banyak orang yang menundukkan kepala di hadapannya, tetapi dari seberapa besar ia mampu menundukkan kesombongan di dalam dirinya.

Jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berpindah. Penghormatan manusia akan berlalu bersama waktu.

Namun, kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap memiliki makna.

Pada akhirnya, bukan tingginya kursi yang menentukan kemuliaan seseorang. Bukan pula banyaknya orang yang menyebut namanya dengan hormat.

Yang lebih penting adalah apakah selama duduk di kursi itu ia telah menegakkan keadilan, menjaga kejujuran, dan menggunakan kekuasaannya untuk melayani sesama.

Jangan hanya ingin menjadi orang yang dihormati ketika menjabat. Jadilah manusia yang tetap dikenang karena kebaikannya, bahkan setelah jabatan itu tidak lagi dimiliki.

Wabillahi taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, S.E., M.M.
Provinsi Sulawesi Tenggara
Polling aktif
Ikut Polling →
dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM
Kota Kendari
Polling aktif
Ikut Polling →
Yusran Akbar
Kabupaten Konawe
Polling aktif
Ikut Polling →
La Ode Darwin
Kabupaten Muna Barat
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Amri Jamaluddin, S.STP., M.Si.
Kabupaten Kolaka
Polling aktif
Ikut Polling →
Irham Kalenggo, S.Sos., M.Si
Kabupaten Konawe Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Rifqi Saifullah Razak, S.T.
Kabupaten Konawe Kepulauan
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Nur Rahman Umar, M.H.
Kabupaten Kolaka Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Bachrun, M.Si
Kabupaten Muna
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Muhammad Adios, S.Sos
Kabupaten Buton Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Azhari, S.STP., M.Si
Kabupaten Buton Tengah
Polling aktif
Ikut Polling →
Alvin Akawijaya Putra, S.H.
Kabupaten Buton
Polling aktif
Ikut Polling →
Afirudin Mathara, S.H., M.H.
Kabupaten Buton Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Ir. H. Burhanuddin, M.Si.
Kabupaten Bombana
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Haliana, S.E.
Kabupaten Wakatobi
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yusran Fahim, S.E.
Kota Baubau
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Ikbar, S.H., M.H.
Kabupaten Konawe Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yosep Sahaka, S.Pd., M.Pd
Kabupaten Kolaka Timur
Polling aktif
Ikut Polling →
26 / 100 Skor SEO