DENPASAR — Komisi IV DPR RI menilai penguatan sistem biosekuriti dan surveilans penyakit hewan di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur perlu menjadi perhatian. Kesehatan hewan dinilai berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus melindungi pendapatan peternak.

Penegasan itu disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hanan A. Rozak saat memimpin Kunjungan Kerja Spesifik ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, Bali, Sabtu (19/9/2026). BBVet Denpasar memiliki wilayah kerja yang mencakup Bali, NTB, dan NTT.

“Kunjungan hari ini memiliki arti strategis, karena kesehatan hewan adalah fondasi ketahanan pangan nasional. Ternak bukan hanya sebuah protein hewani, tetapi juga sebuah pendapatan bagi peternak, sehingga penyakit hewan dapat menurunkan produktivitas dan menambah kerugian peternak,” ujar Hanan, dikutip dari E-Media DPR RI.

BBVet Denpasar berperan sebagai simpul surveilans dan diagnostik kesehatan hewan di kawasan Bali dan Nusa Tenggara. Sejumlah penyakit hewan menular strategis masih menjadi tantangan, antara lain rabies yang disebut endemik di Bali sejak 2008, Lumpy Skin Disease (LSD) pada sapi di Jembrana dan Buleleng, serta African Swine Fever (ASF) yang berulang di Bali sejak 2020 dan belum memiliki vaksin.

Hanan menjelaskan, penanganan penyakit harus dilakukan sesuai kondisi ternak. Vaksinasi ditujukan bagi hewan yang masih sehat, sedangkan ternak yang terinfeksi perlu menjalani eradikasi atau pengobatan.