JAKARTA, perdetiknews.com – Kepanikan massal melanda pasar keuangan dalam negeri pada perdagangan awal pekan, Senin (8/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan terjun bebas semakin dalam hingga menyentuh level 5.348,95. Indeks ambles sebesar 245,82 poin atau turun tajam 4,39% hanya dalam waktu sekitar 10 menit sejak pasar dibuka.

Ambruknya IHSG dipicu oleh aksi jual masif (panic selling) oleh para investor di hampir seluruh penjuru sektor bursa. Tercatat sebanyak 606 saham bergerak melemah, dan hanya 57 saham yang berhasil menguat, sementara 296 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi kilat pagi ini langsung menembus Rp2,85 triliun dengan volume perdagangan menyentuh 3,77 miliar saham.

Tekanan jual yang sangat agresif ini merupakan respons spontan pelaku pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik global yang kembali membara di Timur Tengah. Pada akhir pekan kemarin (7/6), Iran dilaporkan resmi meluncurkan hujan rudal ke wilayah Israel untuk pertama kalinya sejak kesepakatan gencatan senjata dengan AS berlaku April lalu.

Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, menuding blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat serta serangan militer Israel di Lebanon sebagai bentuk pelanggaran kesepakatan secara nyata, sehingga seluruh aset AS dan Israel kini sah menjadi target militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Menanggapi serangan mendadak tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan aksi sepihak Iran tidak akan membantu proses negosiasi nuklir. Trump dilaporkan tengah berupaya menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar menahan diri dan tidak melakukan serangan balasan yang dapat memperluas eskalasi perang energi.

Selain ancaman perang global yang diprediksi bakal melambungkan harga komoditas energi dunia, pasar domestik kian tertekan akibat ambruknya nilai tukar Rupiah. Dalam sepekan terakhir, mata uang garuda keok hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS, bahkan pada perdagangan Senin (8/6) pagi ini posisinya kian terjungkir di angka Rp18.100/US$.

Keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam ditunjukkan dengan indeks dolar (Greenback) yang terbang ke level 100,069—posisi tertinggi sejak akhir Maret lalu. Penguatan dolar secara otomatis memicu aliran modal keluar (capital outflow) secara besar-besaran dari pasar berkembang (emerging market) termasuk Indonesia, yang langsung mengancam stabilitas moneter nasional.

Dari dalam negeri, investor juga terus mencermati ketahanan fiskal. Berdasarkan data terbaru Konferensi Pers APBN KiTA yang dipaparkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, posisi defisit APBN hingga akhir Mei 2026 mengalami peningkatan tipis menjadi Rp180,4 triliun atau setara 0,70% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini merangkak naik dibanding April yang berada di posisi Rp164,4 triliun atau 0,64% dari PDB.

Kendati defisit fiskal terus melebar dan menjadi sorotan tajam karena bayang-bayang membengkaknya biaya subsidi energi akibat perang, Menkeu Purbaya menegaskan fondasi ekonomi nasional masih berada dalam jalur yang positif dan solid.

“Realisasi APBN sampai Mei 2026 terus menunjukkan tren positif. Posisi defisit masih sangat terjaga, terukur, dan sesuai desain awal. Pembiayaan anggaran juga dikelola secara prudent (hati-hati), efisien, dan fleksibel mengikuti dinamika pasar keuangan global,” tegas Menkeu Purbaya dalam rilis resminya. (PDN)

10 / 100 Skor SEO