KENDARI — Antrean panjang terlihat di depan kantor Perumda Utama Sultra, di Kecamatan Kadia, Sabtu hingga Minggu (18–19/4/2026).
Di tengah aktivitas jogging dan Car Free Day (CFD), warga berbondong-bondong membeli telur lokal dengan harga Rp 50.000 per rak lebih murah dibanding harga pasar yang mencapai Rp 65.000 hingga Rp 70.000.
Program tebus murah telur lokal ini menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-62 Sulawesi Tenggara.
Namun, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan kegiatan ini tidak sekadar seremonial, melainkan menjawab kebutuhan riil warga akan bahan pangan terjangkau.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Perdetiknews.com AlHanan Farm bersama Perumda Utama Sultra, dengan menggandeng peternak lokal sebagai pemasok utama.
Telur yang dijual berasal langsung dari kandang Alhanan Farm di Kecamatan Konda, yang memiliki kapasitas produksi sekitar 2.500 rak per hari.

Direktur Utama Perumda Utama Sultra, Akhmad Rizal, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Ini bukan hanya operasi pasar, tetapi langkah membangun sistem distribusi yang lebih pendek dan efisien. Kita ingin hasil peternak lokal bisa langsung dinikmati masyarakat,” ujarnya.

Menurut Rizal, pemilihan lokasi di area CFD menjadi strategi untuk menjangkau masyarakat secara luas dalam waktu singkat.
Keramaian publik dimanfaatkan untuk mempertemukan produsen dan konsumen tanpa perantara panjang yang berpotensi menaikkan harga.
Selain itu, sistem pembayaran menggunakan QRIS turut diterapkan untuk mempermudah transaksi. Di tengah keramaian, warga dapat membeli dengan cepat tanpa harus bergantung pada uang tunai.

Peran Perdetiknews.com dalam kegiatan ini juga menjadi sorotan. Tidak hanya sebagai media, Perdetiknews.com turut berperan sebagai penggerak kegiatan sosial.
Pimpinan Perdetiknews.com Ikhsan menyatakan, bahwa keterlibatan pihaknya merupakan bentuk tanggung jawab sosial media terhadap kondisi daerah.
“Kami ingin media hadir tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi bagian dari solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Respons masyarakat pun sangat positif. Selain terbantu dari sisi harga, warga juga menilai kualitas telur lebih baik karena berasal langsung dari peternakan.
“Selisihnya lumayan. Di pasar bisa Rp 70 ribu, di sini Rp 50 ribu. Sangat membantu,” kata seorang warga usai membeli telur.
Apresiasi juga diberikan kepada penyelenggara, khususnya Perdetiknews.com, yang dinilai menunjukkan kepedulian nyata.

“Jarang ada media seperti ini, bukan hanya meliput tapi ikut turun membantu masyarakat,” ujar warga lainnya.
Sejumlah warga berharap program ini tidak berhenti sebagai kegiatan temporer, melainkan dapat dilaksanakan secara rutin dengan jangkauan yang lebih luas.
Secara keseluruhan, kegiatan ini memperlihatkan potensi besar daerah dalam membangun kemandirian pangan. Dengan produksi lokal yang mencapai ribuan rak per hari, distribusi langsung, serta dukungan kolaborasi lintas sektor, ketergantungan terhadap pasokan dari luar Sulawesi Tenggara dapat ditekan.
Dari sebuah kegiatan sederhana di ruang publik, terlihat bagaimana sinergi antara BUMD, media, dan pelaku usaha mampu menghadirkan solusi konkret.
Di tengah dinamika kenaikan harga bahan pokok, langkah seperti ini menjadi penting tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga sebagai fondasi ketahanan pangan daerah khususnya Sulawesi Tenggara ke depan. (red)


Tinggalkan Balasan