Konawe Selatan – Ketua Brigade Pangan Samaturu Desa Lebo Jaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Ilham, mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi untuk kebutuhan alat pertanian.
Keluhan itu disampaikan Ilham saat ditemui di kawasan SPBU Konda. Menurutnya, persoalan distribusi solar subsidi kini menjadi hambatan serius bagi petani dan pengelola alat pertanian di wilayah tersebut.
“Kendalanya sekarang solar subsidi. Di barcode sebenarnya jatah ada, tapi saat pengambilan sering tidak sesuai,” kata Ilham.
Ia mengaku sejumlah petani memiliki barcode resmi dengan kuota mencapai 140 liter per minggu untuk operasional alat pertanian.
Namun saat melakukan pengisian di SPBU, BBM yang diterima disebut jauh di bawah kuota.
“Kadang cuma dapat 55 liter sampai 60 liter saja,” ujarnya.
Kondisi itu memunculkan dugaan adanya permainan kuota solar subsidi di tingkat penyaluran.
Para petani curiga terdapat selisih volume BBM yang tidak disalurkan kepada penerima sebenarnya.

“Nama petani tetap dipakai di sistem, tapi solar yang diterima tidak penuh. Itu yang dikeluhkan teman-teman petani,” katanya.
Menurut Ilham, persoalan tersebut semakin memberatkan petani karena sebelumnya mereka juga menghadapi kesulitan memperoleh pupuk subsidi jenis Urea dan Phonska.
“Petani sekarang serba susah. Pupuk susah, solar juga susah. Padahal alat pertanian sangat bergantung pada BBM,” ujarnya.
Ia berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait agar distribusi solar subsidi benar-benar tepat sasaran dan tidak merugikan petani di lapangan.
“Kami berharap ada pengawasan supaya hak petani bisa diterima sesuai kuota yang ada di barcode,” pungkasnya. (red)





Tinggalkan Balasan