Jakarta – Nasib mata uang Garuda kian menyedihkan. Tak hanya tak berkutik di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), Rupiah kini juga terkapar dan mencetak rekor terlemah sepanjang masa melawan ringgit Malaysia.
Melansir data Refinitiv, sepanjang tahun berjalan hingga penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), Rupiah terpantau keok dan melemah hingga 9,02% terhadap mata uang Negeri Jiran tersebut.
Saat ini, kurs ringgit sudah meroket ke level Rp 4.466/MYR. Padahal, pada awal tahun posisinya masih berada di level Rp 4.097/MYR.
Keperkasaan ringgit terhadap Rupiah sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, mata uang Malaysia saat ini tengah menjadi salah satu yang paling perkasa di kawasan regional.
“Mata uang Malaysia mendapat dukungan kuat dari prospek ekonomi domestik yang solid, derasnya arus investasi asing, serta sentimen positif di sektor manufaktur dan teknologi,” tulis data Refinitiv dikutip Perdetiknews.com, Jumat (29/5/2026).
Derasnya modal asing yang masuk membuat permintaan terhadap ringgit melonjak tajam. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia, di mana Rupiah justru terus dibebani tekanan ganda dari dalam dan luar negeri.
Jika melihat grafik pergerakan, tekanan terhadap mata uang Garuda mulai terakselerasi secara agresif sejak April hingga Mei 2026. Sejumlah mata uang Asia terus menanjak dan meninggalkan Rupiah, dipimpin oleh ringgit Malaysia dan dolar Singapura.
Kondisi ini sekaligus mematahkan narasi bahwa ambruknya Rupiah semata-mata karena keperkasaan dolar AS atau faktor global seperti geopolitik dan tingginya suku bunga The Fed. Data memperlihatkan ada persoalan domestik yang serius.

Pasar dinilai mulai melihat adanya peningkatan risiko di dalam negeri. Mulai dari kaburnya dana asing (capital outflow), melebarnya defisit fiskal, hingga arah kebijakan ekonomi pemerintah yang dianggap belum memberikan kepastian bagi investor.
Faktor-faktor internal inilah yang membuat Rupiah jauh lebih rapuh dibandingkan mata uang negara tetangga, bahkan dari negara dengan skala ekonomi yang jauh lebih kecil.
(pdn)



Tinggalkan Balasan