Jakarta – Gelombang panas ekstrem ( heatwave ) tengah melanda sebagian besar wilayah Eropa hingga memecahkan rekor sejarah. Saking ekstremnya, suhu udara di sejumlah kota besar Eropa kini mendadak lebih panas ketimbang kota-kota di Timur Tengah yang selama ini identik dengan cuaca gurun, termasuk Mekah di Arab Saudi.
Berdasarkan data perbandingan suhu maksimum oleh Al Jazeera, Paris (Prancis) sukses mencatat suhu udara menembus 41°C, mengalahkan Mekah yang berada di angka 40°C. Sementara itu, Madrid (Spanyol) menyentuh 39°C, lebih menyengat dibanding Bandar Abbas di Iran yang berada di angka 38°C.
Akibat situasi kritis ini, pemerintah Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia langsung kompak mengeluarkan peringatan merah atau status bahaya tertinggi.
Korban Jiwa dan Ancaman Infrastruktur
Lonjakan suhu ekstrem ini bukan sekadar membuat gerah, tapi sudah masuk fase mematikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 1.300 kematian di Eropa berkaitan erat dengan gelombang panas yang terjadi sepanjang Juni ini.
Selain ancaman kesehatan dan risiko kematian, otoritas setempat juga memperingatkan bahaya nyata lainnya:
Meningkatnya risiko kebakaran hutan hebat.
Kelumpuhan jalurnya aktivitas transportasi.
Kerentanan tempat tinggal, mengingat hanya sekitar 20% rumah di Eropa yang dilengkapi pendingin udara (AC). Mayoritas bangunan di sana memang tidak dirancang untuk menahan suhu tinggi dalam waktu lama.
Badan Antariksa Eropa (ESA) baru saja merilis citra satelit dari Sentinel-3 yang menunjukkan daratan Eropa memerah dan ungu pekat.
Satelit tersebut mendeteksi bahwa suhu permukaan tanah ( land surface temperature ) bahkan jauh lebih mengerikan ketimbang suhu udara:
Spanyol Tengah & Prancis Barat: Suhu permukaan tanah menyentuh 55°C.
Madrid: Suhu permukaan tanah mencapai 48°C.
Roma: Suhu permukaan tanah tembus 44°C.
“Suhu setinggi ini belum pernah terjadi sebelumnya di sebagian besar wilayah Eropa,” tulis laporan yang dikutip dari Space.
Para ilmuwan menjabarkan ada tiga faktor utama yang memicu benua biru ini mendadak panggang:

Fenomena Heat Dome (Kubah Panas): Adanya area bertekanan tinggi yang statis di atas Eropa Barat. Fenomena ini bertindak seperti tutup panci yang memerangkap udara panas di bawahnya, memicu langit cerah tanpa awan, dan paparan matahari terus-menerus.
Aliran Udara Afrika Utara: Bergeraknya angin super panas dari gurun Afrika Utara menuju arah utara Eropa.
Anomali Suhu Laut: Perairan di sekitar Inggris, Irlandia, Prancis, dan Mediterania barat tercatat jauh lebih hangat dari biasanya, membuat area pesisir tetap terasa panas menyengat bahkan pada malam hari.
Data dari Copernicus menyebut wilayah Prancis bagian barat, Inggris, dan Wales mengalami lonjakan suhu harian rata-rata hingga 12°C di atas rata-rata periode 1991-2020.
Sederet tren ini menjadi alarm keras bagi bumi. Eropa kini resmi dinobatkan sebagai benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia.
Sejak pertengahan 1990-an, suhu di Eropa melonjak sekitar 0,56°C per dekade. Angka kenaikan ini dua kali lipat lebih cepat daripada rata-rata kenaikan suhu global. Dampak nyata dari perubahan iklim global kini membuat gelombang panas datang lebih awal, bertahan lebih lama, dan jauh lebih mematikan. (red)




Tinggalkan Balasan