SWISS, perdetiknews.com — Hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat kembali berada di titik nadir menjelang dimulainya putaran baru perundingan tingkat teknis di Swiss. Pemerintah Iran secara sepihak mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan memperingatkan seluruh kapal internasional untuk menjauhi jalur pelayaran logistik dan energi paling strategis di dunia tersebut.

Kendati demikian, pihak Washington langsung merespons cepat dengan membantah klaim sepihak Teheran dan memastikan bahwa arus lalu lintas maritim di selat tersebut masih beroperasi secara normal di bawah pengawasan ketat.

Perselisihan tajam ini mencuat ke publik hanya berselang beberapa hari setelah kedua negara sebenarnya sempat menyepakati perjanjian perdamaian sementara guna meredakan tensi permusuhan di kawasan Timur Tengah.

Pengumuman blokade tersebut dirilis resmi oleh militer Iran bersama Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu (20/6/2026), tepat ketika delegasi negosiator mereka tengah bertolak menuju Swiss. Komando militer gabungan Iran menyatakan bahwa langkah ekstrem ini merupakan bentuk perlawanan atas kelanjutan operasi militer Israel di Lebanon, serta tudingan “itikad buruk” AS yang dinilai gagal memenuhi komitmen gencatan senjata.

Ketegangan ini dipicu oleh serangan udara hebat militer Israel di wilayah Lebanon Selatan pada hari yang sama. Berdasarkan data dari The Associated Press dan otoritas medis Lebanon, gempuran tersebut menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk dua anak-anak, serta menghancurkan wilayah permukiman di Nabatiyeh yang menyebabkan sejumlah warga masih tertimbun reruntuhan bangunan. Televisi pemerintah Iran bahkan menegaskan telah menyiapkan skenario lanjutan jika agresi tersebut tidak segera dihentikan.

Di pihak lain, militer Amerika Serikat bergerak cepat memastikan keamanan di jalur perairan tersebut. Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa mereka terus menyiagakan pasukan pengawas guna menjamin keselamatan kapal-kapal dagang yang melintas. “Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz. Lalu lintas terus berjalan, dan pasukan AS memantau situasi untuk memastikan kondisi ini tetap berlangsung,” tegas Juru Bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins.

Presiden AS Donald Trump turut melempar gertakan melalui unggahan di platform Truth Social. Trump memberikan sinyal kuat bahwa negaranya menganggap jalur internasional itu tetap terbuka. Namun, ia mengancam akan memberlakukan biaya retribusi bagi setiap kapal yang melintas atas nama “layanan keamanan” AS, apabila kesepakatan damai sementara dengan Iran gagal bertransformasi menjadi perjanjian permanen dalam kurun waktu 60 hari.

Ancaman saling kunci ini dinilai mengancam stabilitas ekonomi global, mengingat volatilitas keamanan di Selat Hormuz dapat langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia secara signifikan.

15 / 100 Skor SEO