Bandung – Rumor kedatangan sejumlah pemain diaspora ke Persib Bandung kembali memunculkan perdebatan di media sosial. Bahkan, muncul narasi yang menyebut Persib sebagai klub yang “tidak pernah berhenti mengganggu karier pemain diaspora” karena memboyong mereka kembali bermain di kompetisi domestik.
Narasi tersebut mencuat di tengah kabar Persib dikaitkan dengan bek Timnas Indonesia, Sandy Walsh. Sebelumnya, Maung Bandung telah berhasil merekrut sejumlah pemain diaspora seperti Thom Haye, Eliano Reijnders hingga Dion Markx di awal musim 2025/2026.
Menanggapi tudingan itu, Sekretaris Umum Viking Persib Club Arlan Siddha menilai, kedatangan pemain asing maupun diaspora ke Indonesia merupakan hal yang lumrah dalam dunia sepak bola profesional.
“Saya pikir memang banyak pemain-pemain asing kemudian hadir ke Indonesia dan kemudian bermain di Persib. Jadi kalau menurut saya hal itu hal yang biasa menurut saya,” kata Arlan saat dihubungi, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, rumor pemain baru memang selalu menjadi perhatian setiap memasuki bursa transfer. Terlebih banyak pemain yang kontraknya berakhir dan mulai mencari klub baru.
“Hanya mungkin di waktu yang bersamaan ketika banyak rumor perpindahan atau pergeseran para pemain yang sebelumnya pernah main di klub-klub lain dan akan masuk ke Persib dan kembali gitu kan. Menurut saya itu aja sih yang paling menarik gitu,” ujarnya.
“Dan sisanya sih menurut saya hal yang biasa saja sih para pemain yang memang kan bulan Juli ini semua klub juga harus mulai memutuskan gitu ya pemainnya gitu. Jadi so far sih menurut saya sih hal yang biasalah gitu,” sambungnya.
Arlan menegaskan, anggapan bahwa Persib mengganggu karier pemain diaspora tidak tepat. Menurutnya, keputusan menerima tawaran sebuah klub sepenuhnya berada di tangan pemain.

“Saya pikir ini bukan persoalan mengganggu ya, tapi persoalannya adalah kembali lagi kepada pemain tersebut. Mereka juga ingin berkarier dan mereka juga mungkin ada beberapa pemain yang kemudian ingin mencoba, menjajal bagaimana liga domestik gitu. Ya menurut saya sih itu biasa saja,” katanya.
Karena itu, ia menilai narasi yang menyebut Persib merusak karier pemain diaspora tidak memiliki dasar yang kuat.
“Dan narasi yang mengatakan bahwa mengganggu itu menurut saya tidak tepat juga. Karena itu kan kembali ke situasi dan kondisi pemain tersebut ya. Kalau misalnya dia bermain di luar mungkin bagus juga walaupun tidak diberikan menit bermain,” ucap Arlan.
Ia justru melihat banyak pemain diaspora ingin membuktikan kualitasnya di hadapan publik Indonesia dengan bermain di klub yang mampu memberikan kesempatan tampil secara reguler.
“Tapi mereka juga ingin membuktikan kepiawaiannya di tengah-tengah masyarakat Indonesia dengan berada di klub yang bisa memberikan kontribusi gitu. Jadi ya, itu nggak tepat,” tegasnya.
Arlan menambahkan, kehadiran pemain diaspora di Liga Indonesia justru menunjukkan kompetisi nasional semakin diperhitungkan dan meningkat.
“Dan menurut saya justru banyaknya pemain diaspora kemudian main di liga lokal atau bermain di klub lokal sebenarnya menurut saya itu sudah menjadi perhitungan buat mereka gitu. Dan banyak juga pemain diaspora yang bermain di klub kita dan kemudian berkembang. Itu sih menurut saya,” ujarnya.
“Betul. Menurut saya sih lebih meningkat karena pertama ya persaingan di klubnya itu sudah mulai ketat gitu ya, klub juga tidak asal-asalan memilih pemain dan kemudian ya klub juga memperhitungkan betul bagaimana ke depan liga di Indonesia ketika berjalan,” lanjutnya.
Terkait berbagai komentar yang ramai di media sosial, Arlan mengaku tidak terlalu mempersoalkannya. Ia menilai dinamika seperti itu memang selalu muncul setiap bursa transfer dibuka.
“Ya kalau saya pribadi sih nggak ya, tidak terlalu mempedulikan, ada juga yang kemudian mengatakan Persib menumpuk pemain dan lain sebagainya,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan Persib mendekati pemain incaran merupakan bagian dari kemampuan manajemen dalam menyusun strategi transfer, bukan sesuatu yang patut dipersoalkan.
“Menurut saya dinamika dalam sebuah klub kan tidak hanya di lapangan, tapi juga bagaimana semua ofisial, manajer. Tapi manajemen juga piawai melakukan lobi-lobi negosiasi dengan para pemain yang mungkin dibutuhkan oleh tim gitu,” pungkas Arlan.
sumber: detik.com




Tinggalkan Balasan