JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan peningkatan petir vulkanik dalam dinamika erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Sensor BMKG yang berada di Lampung Selatan dan Serang mencatat gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik dalam rentang waktu 12 jam terakhir.

Meski demikian, BMKG menyebut intensitas gangguan tersebut tidak sebesar saat letusan awal.

“BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal,” ujar BMKG.

Untuk mengantisipasi perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau, BMKG mengoptimalkan kesiapsiagaan nasional melalui pemantauan terpadu berbasis multi-instrumen selama 24 jam.

Pemantauan tersebut dilakukan secara berkelanjutan dengan menggabungkan berbagai instrumen pengamatan. Data BMKG juga disinergikan dengan analisis PVMBG-Badan Geologi untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api secara cepat dan akurat.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat koordinasi antarinstansi, mendukung pengambilan keputusan serta menjaga keselamatan penerbangan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir Selat Sunda.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya warga yang tinggal maupun beraktivitas di sepanjang pesisir Selat Sunda, untuk meningkatkan kewaspadaan namun tetap tenang.

Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial dan tidak ikut menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.

Untuk memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau, masyarakat diminta mengikuti pembaruan resmi yang disampaikan BMKG, Badan Geologi/PVMBG dan instansi pemerintah berwenang.

 

Reporter: Xan

61 / 100 Skor SEO