Oleh: Dr. H. Sofyan, SE., MM.
Wasekjen BPP KKSS | Sekjen DPP HIMAS | Sekretaris KKSS Sultra | Ketua DPD HIMAS Sultra

Lima puluh tahun bukan sekadar angka. Setengah abad adalah perjalanan panjang yang menyimpan begitu banyak cerita tentang persaudaraan, pengabdian, perantauan, solidaritas, dan perjuangan menjaga identitas.

Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) lahir dari semangat sederhana tetapi sangat kuat: bagaimana orang-orang Sulawesi Selatan yang berada di tanah rantau tetap merasa memiliki rumah, tetap terhubung satu sama lain, dan tetap membawa nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Setengah abad kemudian, KKSS telah tumbuh jauh melampaui sekadar organisasi paguyuban. KKSS menjadi ruang perjumpaan. Menjadi tempat berbagi. Menjadi simpul solidaritas. Bahkan di banyak daerah, KKSS telah menjadi bagian dari dinamika sosial dan pembangunan masyarakat.

Namun, memasuki usia 50 tahun, kita juga perlu jujur melihat tantangan zaman.

KKSS kini berada di sebuah persimpangan: politik dan kerukunan.

Politik semakin dekat dengan kehidupan sosial. Perbedaan pilihan politik tidak hanya muncul di ruang-ruang partai atau kontestasi pemilu, tetapi juga hadir di lingkungan keluarga, komunitas, organisasi, tempat kerja, bahkan dalam percakapan sehari-hari.

Media sosial membuat perbedaan itu semakin terbuka. Sebuah pilihan politik dapat dengan cepat diketahui banyak orang. Perbedaan pendapat yang dahulu mungkin selesai dalam sebuah percakapan di meja kopi, kini dapat berkembang menjadi perdebatan panjang di ruang digital.

Dalam situasi seperti itu, KKSS harus mampu menjaga dirinya sebagai rumah bersama.

Sebab politik adalah bagian dari kehidupan demokrasi. Setiap warga negara memiliki hak untuk menentukan pilihan politiknya. Setiap orang berhak memiliki pandangan, memperjuangkan gagasan, mendukung calon atau kelompok politik tertentu, serta menggunakan hak politiknya sesuai keyakinannya.

Tetapi ada satu hal yang harus kita sepakati: pilihan politik tidak boleh menjadi alasan untuk memutus tali persaudaraan.

Kita boleh berbeda pilihan, tetapi tidak harus berbeda dalam persaudaraan.

Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tetap dapat duduk bersama.

Kita boleh berada di jalan politik yang berbeda, tetapi tetap bisa bergandengan tangan ketika berbicara tentang kepentingan masyarakat, daerah, bangsa dan keluarga besar KKSS.

Inilah ujian sesungguhnya bagi sebuah organisasi kekeluargaan.

Sebab mudah bagi kita untuk bersatu ketika semua memiliki pilihan yang sama. Yang jauh lebih sulit adalah tetap bersaudara ketika pilihan kita berbeda.

Di situlah kedewasaan organisasi diuji.

KKSS tidak perlu menjauh dari politik dalam arti memahami persoalan kebangsaan. Sebaliknya, warga KKSS harus memiliki kesadaran politik yang baik, memahami perkembangan bangsa, kritis terhadap kebijakan publik, serta berani menyampaikan gagasan untuk kepentingan masyarakat.

Namun, KKSS harus membedakan antara kesadaran politik dengan politik praktis yang dapat memecah persaudaraan.

KKSS boleh berbicara tentang masa depan bangsa. KKSS boleh memberikan ruang bagi warga untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan publik. KKSS boleh mendorong kader-kader terbaiknya berkontribusi dalam pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, politik, dan berbagai bidang pengabdian.

Tetapi organisasi kekeluargaan harus tetap menjadi ruang yang memungkinkan semua orang pulang.

Di sinilah kita perlu kembali kepada nilai-nilai yang telah lama menjadi napas masyarakat Sulawesi Selatan: sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge.

Sipakatau mengajarkan kita untuk saling memanusiakan.

Sipakalebbi mengajarkan kita untuk saling menghargai.

Sipakainge mengingatkan kita untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Nilai-nilai itu tidak mengenal warna partai.

Tidak mengenal jabatan.

Tidak mengenal siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam sebuah kontestasi politik.

Karena itu, ketika sebuah kontestasi politik selesai, persaudaraan harus kembali mengambil tempat paling depan.

Pemilu memiliki batas waktu. Jabatan memiliki masa jabatan. Kekuasaan memiliki pergantian. Bahkan pilihan politik seseorang dapat berubah mengikuti perkembangan zaman.

Tetapi hubungan kekeluargaan jauh lebih panjang.

Kita mungkin berbeda pilihan dalam satu pemilu, tetapi anak-anak kita tetap bisa bersekolah bersama. Kita mungkin berbeda dukungan dalam satu kontestasi, tetapi keluarga kita tetap bertemu dalam berbagai kegiatan sosial. Kita mungkin berbeda pandangan mengenai seorang tokoh, tetapi kita tetap bisa bersama ketika ada saudara yang tertimpa musibah.

Itulah mengapa politik tidak boleh mengalahkan persaudaraan.

KKSS harus menjadi rumah yang pintunya terbuka untuk semua.

Rumah itu tidak boleh hanya nyaman bagi mereka yang memiliki pilihan yang sama. Rumah itu harus tetap menjadi tempat berteduh bagi seluruh warga Sulawesi Selatan, apa pun latar belakang sosial, profesi, daerah domisili, maupun pilihan politiknya.

Jika ada warga KKSS yang menjadi politisi, mari kita hormati pengabdiannya.

Jika ada yang menjadi birokrat, mari kita dukung profesionalismenya.

Jika ada yang menjadi pengusaha, akademisi, tokoh agama, pekerja, seniman, aktivis, atau profesi lainnya, semuanya memiliki tempat yang sama dalam rumah besar KKSS.

Tidak boleh ada warga KKSS yang merasa lebih tinggi hanya karena jabatan politik.

Tidak boleh pula ada yang merasa lebih rendah karena tidak berada dalam lingkaran kekuasaan.

Sebab identitas kita yang paling mendasar bukanlah jabatan dan bukan pula pilihan politik.

Kita adalah keluarga.

Setengah abad KKSS juga mengajarkan bahwa organisasi hanya akan bertahan jika mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Generasi pertama membangun fondasi.

Generasi berikutnya menjaga dan mengembangkan.

Generasi muda hari ini memiliki tugas membawa KKSS menghadapi zaman yang sama sekali berbeda.

Karena itu, tantangan 50 tahun ke depan bukan hanya bagaimana memperbesar organisasi, tetapi bagaimana menjaga kualitas persaudaraan.

KKSS harus semakin inklusif. Harus semakin terbuka terhadap generasi muda. Harus mampu memanfaatkan teknologi. Harus hadir dalam persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Harus mampu menjadi jembatan antara warga Sulawesi Selatan di tanah rantau dengan daerah asal.

Dan yang tidak kalah penting, KKSS harus menjadi contoh bahwa keberagaman pilihan tidak harus berakhir pada perpecahan.

Kita tidak perlu takut terhadap perbedaan.

Yang perlu kita takutkan adalah ketika perbedaan membuat kita kehilangan kemampuan untuk saling menghormati.

Demokrasi membutuhkan perbedaan.

Tetapi masyarakat membutuhkan persaudaraan.

Keduanya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.

Justru tugas kita adalah menemukan titik keseimbangan di antara keduanya.

Karena itu, refleksi 50 tahun KKSS bukan tentang memilih antara politik atau kerukunan.

Pertanyaannya adalah: bagaimana kita menempatkan politik secara proporsional agar tidak mengambil alih ruang persaudaraan?

Jawabannya kembali kepada kedewasaan kita.

Ketika kontestasi politik berlangsung, silakan berbeda.

Ketika demokrasi membutuhkan pilihan, silakan menentukan pilihan.

Ketika ada kebijakan yang perlu dikritisi, sampaikan kritik dengan cara yang bermartabat.

Tetapi setelah semua itu, mari kita kembali menjadi keluarga.

Jangan biarkan perbedaan pilihan membuat kita saling memutus silaturahmi.

Jangan biarkan kepentingan sesaat mengalahkan persaudaraan yang telah dibangun puluhan tahun.

Jangan biarkan jabatan membuat kita lupa bahwa kekuasaan selalu memiliki batas waktu.

Dan jangan biarkan politik membuat kita kehilangan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur kita.

Lima puluh tahun pertama KKSS adalah sejarah yang telah kita terima dari para pendahulu.

Lima puluh tahun berikutnya adalah amanah yang harus kita wariskan kepada generasi setelah kita.

Warisan itu bukan sekadar gedung organisasi, struktur kepengurusan atau jumlah anggota.

Warisan terbesar KKSS adalah persaudaraan yang tetap hidup meskipun zaman berubah.

Mari kita rawat rumah besar ini.

Mari kita pastikan anak-anak kita kelak masih menemukan KKSS sebagai tempat untuk pulang, bertemu, berbagi dan saling menguatkan.

Karena pada akhirnya, politik boleh memiliki perbedaan.

Pandangan boleh tidak sama.

Pilihan boleh beragam.

Tetapi persaudaraan tidak boleh terbelah.

Berbeda pilihan, tetap bersaudara.
Berbeda pandangan, tetap saling menghargai.
Berbeda jalan politik, tetap bergandengan tangan.
Satu keluarga, satu kerukunan, satu KKSS.

KKSS 50 Tahun: Berbeda Pilihan, Tetap Satu Keluarga

Polling Lainnya di Sulawesi Tenggara
Lihat Semua Polling →
Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, S.E., M.M.
Provinsi Sulawesi Tenggara
Polling aktif
Ikut Polling →
dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM
Kota Kendari
Polling aktif
Ikut Polling →
Yusran Akbar
Kabupaten Konawe
Polling aktif
Ikut Polling →
La Ode Darwin
Kabupaten Muna Barat
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Amri Jamaluddin, S.STP., M.Si.
Kabupaten Kolaka
Polling aktif
Ikut Polling →
Irham Kalenggo, S.Sos., M.Si
Kabupaten Konawe Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Rifqi Saifullah Razak, S.T.
Kabupaten Konawe Kepulauan
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Nur Rahman Umar, M.H.
Kabupaten Kolaka Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Drs. H. Bachrun, M.Si
Kabupaten Muna
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Muhammad Adios, S.Sos
Kabupaten Buton Selatan
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Azhari, S.STP., M.Si
Kabupaten Buton Tengah
Polling aktif
Ikut Polling →
Alvin Akawijaya Putra, S.H.
Kabupaten Buton
Polling aktif
Ikut Polling →
Afirudin Mathara, S.H., M.H.
Kabupaten Buton Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
Ir. H. Burhanuddin, M.Si.
Kabupaten Bombana
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Haliana, S.E.
Kabupaten Wakatobi
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yusran Fahim, S.E.
Kota Baubau
Polling aktif
Ikut Polling →
Dr. H. Ikbar, S.H., M.H.
Kabupaten Konawe Utara
Polling aktif
Ikut Polling →
H. Yosep Sahaka, S.Pd., M.Pd
Kabupaten Kolaka Timur
Polling aktif
Ikut Polling →
70 / 100 Skor SEO