MIMBAR | Media Inspirasi, Motivasi, Bimbingan, Akhlak dan Religi
Oleh: dr. H. Sukirman, MARS, M.Kes., Sp.PA. – Ketua IKADI Wilayah Sulawesi Tenggara
Ketika memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, perhatian kita sering tertuju pada perjuangan Rasulullah SAW dalam berdakwah, membangun masyarakat, memimpin umat, hingga menghadapi berbagai tantangan.
Namun, ada sisi kehidupan Rasulullah SAW yang juga sangat penting untuk diteladani, khususnya oleh para ibu rumah tangga: bagaimana beliau membangun kehidupan keluarga dan mendidik anak-anak dengan kasih sayang serta keteladanan.
Sebab rumah bukan sekadar tempat untuk beristirahat.
Rumah adalah tempat pertama seorang anak belajar tentang kehidupan.
Di dalam rumah, anak pertama kali mengenal kasih sayang, kejujuran, kesabaran, disiplin, ibadah, sopan santun, dan bagaimana memperlakukan orang lain.
Karena itu, peran seorang ibu rumah tangga bukanlah peran yang kecil. Di tangan seorang ibu, karakter generasi berikutnya banyak dibentuk.
1. Menghadirkan Sakinah dengan Mengelola Emosi
Keluarga membutuhkan ketenangan.
Rasulullah SAW memberikan teladan dalam memperlakukan keluarganya dengan kelembutan dan akhlak yang baik. Beliau tidak menjadikan rumah sebagai tempat melampiaskan kemarahan.
Hal ini menjadi pelajaran penting bagi para ibu.
Kelelahan mengurus rumah, pekerjaan yang tidak pernah selesai, menghadapi anak-anak, hingga berbagai persoalan keluarga tentu dapat menguras emosi.
Namun, seorang ibu perlu belajar bahwa suasana hati orang tua dapat memengaruhi suasana rumah.
Bentakan yang terus-menerus dapat meninggalkan luka. Sebaliknya, tutur kata yang lembut, pelukan, perhatian dan kesediaan mendengarkan dapat membuat anak merasa aman.
Bukan berarti seorang ibu tidak boleh marah.
Tetapi kemarahan perlu dikelola.
Ketika emosi mulai memuncak, berhenti sejenak, tarik napas, berdoa dan pilih kata-kata yang lebih baik.
Sebab terkadang, anak tidak membutuhkan ibu yang sempurna.
Anak membutuhkan ibu yang mau terus belajar menjadi lebih baik.
2. Mengelola Rumah Tangga dengan Qanaah
Kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW juga mengajarkan kesederhanaan.
Keterbatasan materi tidak menghalangi hadirnya kasih sayang dan rasa syukur dalam keluarga.
Inilah pelajaran penting di tengah kehidupan modern.
Media sosial sering membuat kita membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Melihat rumah orang lain, kendaraan orang lain, pakaian orang lain, liburan orang lain, bahkan kehidupan keluarga orang lain.
Tanpa sadar, muncul perasaan:
“Mengapa keluarga saya tidak seperti mereka?”
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Islam mengajarkan qanaah, yaitu merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, tanpa berhenti berusaha.
Seorang ibu dapat menjadi penjaga keseimbangan ekonomi keluarga dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Tidak semua yang sedang tren harus dimiliki.
Tidak semua keinginan anak harus dipenuhi.
Dan tidak perlu memaksakan kemampuan keluarga hanya demi terlihat sama dengan orang lain.
Rumah yang sederhana tetapi penuh syukur jauh lebih berharga daripada rumah mewah yang dipenuhi pertengkaran dan kecemasan.
3. Mendidik Anak dengan Cinta dan Keteladanan
Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa dalam memperlakukan anak-anak.
Beliau menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Kasih sayang tersebut tidak menghilangkan pendidikan dan ketegasan, tetapi justru menjadi bagian dari proses mendidik mereka.
Ini menjadi pelajaran penting bagi para ibu.
Anak-anak bukan hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang tuanya.
Mereka melihat apa yang dilakukan orang tuanya.
Jika ibu mengajarkan kejujuran, anak akan belajar dari kejujuran ibunya.
Jika ibu membiasakan shalat, anak akan melihat bahwa shalat adalah bagian penting dalam kehidupan.
Jika ibu meminta anak berbicara dengan sopan, tetapi orang dewasa di rumah terbiasa berkata kasar, anak akan lebih mudah meniru perilaku yang dilihatnya.
Karena itu, pendidikan terbaik sering kali bukan dimulai dari nasihat panjang.
Pendidikan dimulai dari keteladanan.
4. Jangan Remehkan Lelah Seorang Ibu
Memasak.
Mencuci.
Membersihkan rumah.
Mengurus anak.
Menyiapkan kebutuhan keluarga.
Mendampingi suami.
Semua itu terkadang terlihat sebagai rutinitas biasa.
Padahal, jika dilakukan dengan niat yang baik dan dalam perkara yang dibenarkan syariat, aktivitas sehari-hari dapat menjadi bagian dari amal kebaikan.
Di sinilah pentingnya meluruskan niat.
Ketika seorang ibu menyiapkan makanan untuk keluarganya, ia bukan sekadar memasak.
Ketika ia merawat anak yang sakit, ia bukan sekadar menjalankan kewajiban.
Ketika ia mengajarkan anak membaca Al-Qur’an, ia sedang menanamkan bekal untuk masa depan.
Lelahnya seorang ibu mungkin tidak selalu terlihat oleh manusia, tetapi tidak ada satu pun amal yang luput dari pengetahuan Allah SWT.
Karena itu, jangan merasa pekerjaan di rumah tidak bernilai.
Selama dilakukan dengan ikhlas dan dalam kebaikan, setiap usaha memiliki nilai di sisi Allah.
Maulid Nabi, Momentum Memperbaiki Rumah
Peringatan Maulid Nabi SAW seharusnya tidak berhenti pada seremonial.
Kecintaan kepada Rasulullah SAW perlu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi seorang ibu, salah satu bentuk cinta kepada Rasulullah adalah berusaha menghadirkan akhlak beliau di dalam rumah: lembut dalam berbicara, sabar dalam menghadapi keluarga, penuh kasih sayang kepada anak, sederhana dalam kehidupan, dan bersungguh-sungguh dalam mendidik generasi.
Ibu-ibu yang dirahmati Allah,
Jangan pernah merasa bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan kecil.
Boleh jadi, dunia tidak memberikan penghargaan berupa jabatan atau gelar.
Tetapi dari rumah yang sederhana, seorang ibu dapat melahirkan anak yang kelak menjadi orang saleh, pemimpin yang amanah, ilmuwan yang bermanfaat, atau manusia yang memberikan kebaikan kepada banyak orang.
Peradaban besar dapat dimulai dari sebuah rumah. Dan pendidikan pertama sering kali dimulai dari seorang ibu.
Mari jadikan Maulid Nabi SAW sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperbaiki komunikasi dalam keluarga, memperbanyak kasih sayang kepada anak, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah SWT memberikan kepada para ibu kesabaran, kesehatan, keikhlasan dan kekuatan dalam menjalankan amanahnya.
Semoga rumah kita menjadi tempat tumbuhnya cinta, ilmu, iman dan akhlak.
Dan semoga keluarga kita selalu berada dalam keberkahan serta ridha Allah SWT.
Karena menjadi ibu bukan hanya tentang membesarkan seorang anak.
Menjadi ibu adalah ikut mempersiapkan manusia yang akan menentukan masa depan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. (*)




Tinggalkan Balasan