Istanbul – Iran melemparkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel bahwa mereka akan menghadapi balasan yang jauh lebih mematikan jika kembali berani melancarkan serangan ke Teheran. Ancaman ini mencuat di tengah rapuhnya komitmen gencatan senjata yang sebelumnya telah menghentikan konflik bersenjata sejak April lalu.

Juru bicara senior angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, menegaskan bahwa setiap bentuk eskalasi baru yang terjadi di kawasan Teluk bakal direspons dengan kekuatan penuh yang jauh lebih kuat dari aksi-aksi militer sebelumnya.

“Jika kawasan memasuki babak perang baru, respons Iran akan melampaui kawasan dan berlangsung jauh lebih keras serta lebih kuat,” ujar Shekarchi seperti dikutip dari kantor berita Fars, Selasa (26/5/2026).

Ketegangan terbaru ini kembali membara setelah media semi-resmi Iran melaporkan adanya serangan udara teranyar yang dilancarkan oleh pihak AS dan Israel. Serangan tersebut menyasar kapal-kapal milik Iran yang tengah berada di selatan Pulau Larak, dekat kawasan strategis Selat Hormuz, hingga menyebabkan sejumlah warga Iran tewas.

Padahal, insiden berdarah ini terjadi di tengah bergulirnya upaya mediasi yang dipimpin oleh Pakistan. Mediasi tersebut mulanya dirancang untuk mempertahankan status gencatan senjata antara Iran dengan kubu AS-Israel.

Sebagai informasi, konflik terbuka sebelumnya sempat pecah menyusul serangan gabungan AS-Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan menggempur sejumlah target militer AS. Gencatan senjata baru mulai berlaku pada 8 April dan sempat diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump, meskipun situasi di lapangan nyatanya tetap membara.

Di tempat terpisah, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei turut menyuarakan kecaman kerasnya terhadap eksistensi militer Washington di Timur Tengah. Dalam pesan tertulisnya untuk menandai puncak ibadah haji yang dikutip kantor berita pemerintah IRNA, Mojtaba menekankan bahwa negara-negara Timur Tengah enggan dijadikan perisai pelindung bagi kepentingan Barat.

“Negara-negara Timur Tengah tidak akan lagi menjadi tameng bagi pangkalan militer Amerika Serikat,” tegas Mojtaba. Ia juga menyatakan bahwa saat ini Washington sudah tidak memiliki lagi “zona aman” di seluruh kawasan Timur Tengah.

Mengakhiri pernyataannya, Mojtaba mengajak negara-negara Muslim serta kekuatan regional lainnya untuk mempererat kerja sama demi menyusun tata dunia baru di kawasan yang mandiri dan terbebas dari intervensi Barat.

“Saya dengan tulus mengundang seluruh negara dan pemerintahan Islam untuk menjalin persahabatan dan kerja sama demi kepentingan bersama,” pungkasnya. (red)

9 / 100 Skor SEO