Di hamparan laut biru Pulau Wawonii, sebuah bangunan kecil dari kayu tampak mengapung tenang.
Di sekelilingnya, ombak bergulung pelan, sementara sebuah pelampung besar terikat tak jauh dari struktur tersebut.

Bagi nelayan setempat, titik itu bukan sekadar benda terapung, melainkan harapan baru.
Rumpon, demikian masyarakat menyebutnya.
Alat bantu penangkapan ikan yang kini mulai mengubah cara nelayan membaca laut.
Program ini merupakan inisiatif PT Gema Kreasi Perdana (GKP) yang beroperasi di wilayah tersebut. Lewat pendekatan pemberdayaan masyarakat pesisir, perusahaan mencoba memperkenalkan pola tangkap yang lebih terarah dan efisien.


Di masa lalu, nelayan Wawonii berangkat melaut dengan satu kepastian, ketidakpastian itu sendiri.
Mereka mengandalkan insting, pengalaman, dan keberuntungan untuk menemukan gerombolan ikan.
Waktu berjam-jam habis di laut, bahan bakar terkuras, hasil tangkapan tak selalu sebanding.
Kini, perlahan pola itu berubah.

Rumpon yang dipasang di perairan lepas menjadi titik berkumpulnya ikan. Nelayan tak lagi sepenuhnya “mencari”, melainkan “menuju”. Aktivitas melaut menjadi lebih terukur, waktu lebih singkat, biaya lebih hemat.
Oscar, nelayan dari Desa Roko-Roko, merasakan langsung perubahan itu. Ia tak lagi harus berkeliling tanpa arah.
“Dulu kami bisa berjam-jam hanya untuk cari lokasi. Sekarang sudah ada titiknya. Lebih hemat waktu dan bahan bakar,” ujarnya.
Perubahan itu bukan hanya soal teknis menangkap ikan, tetapi juga perlahan membentuk kebiasaan baru.
Nelayan mulai saling bertukar informasi tentang waktu terbaik melaut, kondisi ikan, hingga strategi tangkap.
Di titik ini, rumpon tidak sekadar alat. Ia menjadi simpul interaksi sosial.
Bagi Muhammad Sahib Fabanyo, Community Development Supervisor GKP, pendekatan ini memang dirancang tidak berhenti pada bantuan fisik semata.
“Masyarakat pesisir adalah bagian penting dari wilayah ini. Program ini bukan hanya untuk meningkatkan hasil tangkapan, tapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya laut,” katanya.

Di darat, prosesnya dimulai dari hal yang sederhana. Kayu-kayu disusun, rangka dirakit bersama warga, hingga akhirnya struktur itu ditarik ke laut dan ditambatkan.
Keterlibatan masyarakat sejak awal menjadi kunci agar program tidak berhenti sebagai proyek sesaat.
Pendekatan ini sejalan dengan strategi tanggung jawab sosial perusahaan yang lebih menekankan keberlanjutan.
Menurut Manager Strategic Communications GKP, Hendry Drajat, keberhasilan program tidak diukur dari berapa banyak rumpon yang dipasang.
“Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat bisa mengelola dan merasakan manfaatnya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ke depan program ini akan diperluas ke titik-titik lain, disertai penguatan kapasitas kelompok nelayan mulai dari pengelolaan hasil tangkapan hingga praktik penangkapan yang bertanggung jawab.
Di tengah perdebatan panjang soal relasi industri dan masyarakat, program seperti ini menghadirkan wajah lain, kolaborasi.
Di Wawonii, laut masih sama luasnya. Ombak tetap bergulung seperti biasa. Namun bagi nelayan, ada satu hal yang berubah mereka kini memiliki arah.
Dan dari sebuah rumah kecil yang terapung di laut itu, harapan tentang masa depan yang lebih pasti mulai dirakit, pelan-pelan. (featured)




Tinggalkan Balasan