Makassar – Sulawesi Tenggara (Sultra) bersiap membawa kekayaan budaya dan pariwisatanya ke panggung internasional. Ajang Mangkasara’ Molulo 2026 bakal mempertemukan seni tradisi Sulawesi dengan delegasi mancanegara di Anjungan Pantai Losari, Makassar.

Perwakilan lembaga kebudayaan dari Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura yang tergabung dalam International Nusantara Cultural Forum (INCaF) dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut.

Tak hanya delegasi ASEAN, Duta Besar Bangladesh untuk Republik Indonesia, H.E. Md. Abul Hasan Mridha, juga disebut telah menyatakan dukungan dan kesiapan menghadiri perhelatan tersebut.

Kehadiran delegasi internasional itu membuat Mangkasara’ Molulo 2026 tak sekadar menjadi pertunjukan seni. Festival ini diproyeksikan sebagai ruang diplomasi budaya sekaligus sarana memperkenalkan potensi pariwisata Sultra kepada jejaring regional dan internasional.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung dalam rangkaian 28–29 Agustus 2026. Agenda awal berupa tradisi Tabe Maraja dan silaturahmi tokoh adat dijadwalkan berlangsung di kawasan Istana Kesultanan Gowa pada 28 Agustus. Puncak pagelaran seni budaya kemudian digelar di Anjungan Pantai Losari pada 29 Agustus.

Mangkasara’ Molulo 2026 merupakan hasil inisiasi Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (AMBA SULTRA) bersama Lembaga Adat Kerajaan Gowa (LAKG) serta melibatkan sejumlah komunitas dan organisasi kebudayaan.

Konsep utama yang diusung adalah mempertemukan kekayaan budaya Bumi Anoa dan Bumi Sawerigading dalam satu panggung.

Ada delapan pilar kebudayaan yang akan ditampilkan, yakni Buton, Muna, Tolaki, Moronene, Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja. Empat budaya berasal dari Sultra dan empat lainnya dari Sulawesi Selatan.

Berbagai seni tradisi dari delapan pilar tersebut akan dipadukan dalam satu perhelatan. Selain pertunjukan seni, penyelenggara juga membawa misi promosi destinasi wisata unggulan Sultra.

Dengan demikian, budaya tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan, tetapi menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi dan potensi ekonomi kreatif daerah.

Ketua Umum AMBA SULTRA sekaligus penggagas nama Mangkasara’ Molulo, Stenly Diover, mengatakan pemilihan Makassar sebagai lokasi kegiatan memiliki pertimbangan strategis.

Makassar dipandang sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat di kawasan Indonesia Timur. Posisi tersebut dinilai memberikan ruang lebih besar bagi budaya Sultra untuk dikenal masyarakat dari berbagai daerah maupun tamu mancanegara.

“Memilih Kota Makassar sebagai titik awal pergerakan ini sangat krusial,” kata Stenly dalam keterangannya.

Menurutnya, Pantai Losari juga memiliki nilai strategis sebagai ikon Kota Makassar yang menjadi titik pertemuan masyarakat, wisatawan, komunitas dan pelaku kebudayaan.

Dari lokasi tersebut, penyelenggara ingin membawa narasi budaya Bumi Anoa agar tidak berhenti di Sultra, tetapi menjangkau jejaring nasional hingga kawasan ASEAN.

Kehadiran INCaF menjadi salah satu elemen penting dalam konsep internasionalisasi kegiatan.

Forum tersebut disebut menjadi jejaring lembaga kebudayaan Nusantara yang melibatkan Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. AMBA SULTRA sebelumnya disebut telah membangun sinergi kebudayaan di Kuala Lumpur dan Selangor Darul Ehsan pada November 2025.

Melalui jejaring tersebut, Mangkasara’ Molulo diharapkan tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga membuka ruang pertukaran informasi mengenai kebudayaan, pariwisata dan ekonomi kreatif.

Kehadiran delegasi asing sekaligus memberikan kesempatan bagi pelaku budaya Sultra untuk membangun hubungan langsung dengan komunitas kebudayaan di luar negeri.

Masuknya unsur diplomasi budaya menjadi salah satu daya tarik Mangkasara’ Molulo 2026.

Penyelenggara melihat kesamaan sejarah, hubungan masyarakat serta kedekatan budaya di kawasan Nusantara sebagai modal untuk membangun hubungan yang lebih luas.

Konsep tersebut juga sejalan dengan semangat yang dibawa melalui nama Mangkasara’ Molulo.

“Molulo” merujuk pada semangat kebersamaan dan gotong royong melalui tarian tradisional Sultra, sementara “Mangkasara’” merepresentasikan identitas budaya Makassar. Keduanya dipertemukan sebagai simbol persaudaraan dan kolaborasi masyarakat Sulawesi.

Karena itu, panggung di Pantai Losari nantinya bukan hanya memperlihatkan pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan bahwa keragaman budaya dapat menjadi alat untuk membangun persaudaraan lintas daerah dan bangsa.

Salah satu target besar kegiatan tersebut adalah memperluas promosi pariwisata Sultra.

Para tamu dan delegasi akan diperkenalkan dengan potensi wisata Sultra bersamaan dengan pertunjukan budaya. Strategi ini diharapkan membuat promosi destinasi memiliki daya tarik yang lebih kuat karena dikemas melalui narasi budaya.

Bagi Sultra, langkah tersebut penting karena kekayaan budaya dan destinasi wisata dapat dipasarkan secara bersamaan.

Budaya menjadi magnet, sementara pariwisata menjadi salah satu potensi ekonomi yang diharapkan mendapatkan manfaat dari meningkatnya perhatian publik.

Kehadiran delegasi Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Bangladesh pun membuka peluang terjadinya hubungan lanjutan di bidang kebudayaan maupun pariwisata.

Mangkasara’ Molulo 2026 pada akhirnya ingin menjadikan Pantai Losari sebagai etalase budaya Nusantara.

Delapan pilar budaya Sulawesi akan bertemu dalam satu panggung, sementara delegasi mancanegara menyaksikan langsung kekayaan tradisi yang dibawa dari Bumi Anoa dan Bumi Sawerigading.

Jika konsep tersebut berjalan sesuai rencana, Mangkasara’ Molulo dapat menjadi momentum penting bagi Sultra untuk memperluas diplomasi budaya dari tingkat lokal menuju jejaring regional.

Bukan hanya soal pertunjukan seni, tetapi bagaimana budaya, pariwisata dan jejaring internasional dipertemukan dalam satu agenda.

Dari Pantai Losari, Bumi Anoa ingin mengirim satu pesan: kekayaan budaya Sultra tidak hanya untuk dikenal di rumah sendiri, tetapi juga layak diperkenalkan ke kawasan ASEAN dan dunia.

(Perdetiknews)