(JAKARTA) – Transformasi digital ekonomi Indonesia bak pisau bermata dua. Di satu sisi membuka peluang, di sisi lain menjadi lahan empuk bagi kejahatan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga Oktober 2025, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah menerima lebih dari 200 ribu laporan penipuan digital dengan total kerugian mencapai angka fantastis: Rp 7,3 triliun!

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa perlindungan konsumen tidak terpisahkan dari digitalisasi.

“Kalau kita bicara tentang pelindungan konsumen, itu adanya sudah di ujung, sudah terjadi penipuan, scam, atau fraud. Tapi bagaimana kita mencegahnya supaya tidak terjadi? Ya itu dengan literasi dan edukasi,” tegas Friderica di acara FEKDI dan IFSE 2025, Jumat (31/10).

Satgas PASTI Beraksi: Blokir 510 Ribu Rekening

 

Untuk memerangi kejahatan ini, OJK bersama lembaga terkait membentuk Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI). Kinerjanya terbilang moncer: