Redaksi Perdetiknews: Ikhsan Bombom

 

Apa kabar, Garudaku?

Kamu sudah cukup tua.
Delapan puluh satu tahun usiamu.

Masihkah kau melayang tinggi di atas sana?
Membelah langit dengan sayap yang dulu begitu gagah,
menatap negeri ini dari ketinggian,
menyaksikan anak-anak bangsa tumbuh dengan mimpi-mimpinya?

Ataukah kini kau sedang menepi?

Diam di sudut langit,
menahan luka di tubuhmu.
Luka yang mungkin tak terlihat dari bawah sana.
Luka karena melihat negeri ini
belum sepenuhnya menjadi rumah yang nyaman bagi semua.

Garudaku,

Harga-harga melambung.
Kebutuhan hidup semakin mahal.
Fiskal negeri ini pun tak sedang baik-baik saja.

Di sisi lain,
kami mendengar kabar tentang koruptor
yang seolah tak pernah kehabisan cara
menggerogoti uang rakyat.

Sementara kami?

Kami terus dipajaki.

Dari penghasilan yang kami terima,
dari barang yang kami beli,
dari usaha yang kami jalankan,
dari kehidupan yang kami perjuangkan setiap hari.

Kami tidak sedang mengeluh karena membayar pajak.

Kami tahu negeri ini membutuhkan biaya.
Kami tahu jalan harus dibangun,
sekolah harus berdiri,
rumah sakit harus melayani,
dan negara harus hadir untuk rakyatnya.

Tetapi, Garudaku…

Kami hanya ingin memastikan
bahwa setiap rupiah yang kami serahkan
benar-benar kembali menjadi manfaat bagi negeri.

Jangan sampai rakyat diminta terus berkorban,
sementara sebagian orang
justru sibuk memperkaya diri
dari uang yang seharusnya menjadi milik bersama.

Kami tidak ingin mencari rumah lain.

Tidak.

Kami bangga dengan tanah ini.

Kami bangga menjadi Indonesia.

Kami bangga dengan merah putih
yang berkibar di halaman sekolah,
di depan rumah,
di kantor-kantor,
di pelosok desa,
hingga di puncak-puncak gunung.

Kami hanya ingin Indonesia
menjadi tempat yang layak untuk dicintai.

Tempat anak-anak kami tumbuh
tanpa takut pada mahalnya kehidupan.

Tempat orang tua kami menikmati hari tua
tanpa harus terus memikirkan biaya hidup.

Tempat orang bekerja keras
mendapatkan kehidupan yang pantas.

Tempat pajak rakyat
tidak berubah menjadi kekayaan pribadi.

Tempat hukum
tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Garudaku,

Delapan puluh satu tahun bukan sekadar angka.

Ia adalah usia sebuah bangsa
yang telah melewati begitu banyak luka.

Perang.
Kemiskinan.
Krisis.
Pergantian kekuasaan.
Pertarungan kepentingan.
Dan berbagai ujian yang tak pernah selesai.

Mungkin karena itu
sayapmu kini terlihat sedikit berat.

Mungkin kau lelah.

Mungkin kau sedang menepi,
menahan luka di tubuhmu.

Tetapi jangan menyerah, Garudaku.

Sebab kami masih di sini.

Kami rakyatmu.

Kami mungkin mengeluh.
Kami mungkin kecewa.
Kami mungkin marah.

Tetapi kami tidak ingin meninggalkanmu.

Kami tidak ingin pergi ke negara sebelah.

Kami hanya ingin negeri ini berbenah.

Kami ingin tetap tinggal di tanah
yang sejak dulu kami sebut rumah.

Kami ingin tetap bangga
mengibarkan merah putih.

Kami ingin anak-anak kami kelak berkata:

“Aku bangga menjadi orang Indonesia.”

Jadi, Garudaku…

Jika sayapmu masih kuat,
terbanglah kembali.

Terbanglah tinggi.

Bukan untuk menutup mata terhadap luka negeri ini,
tetapi untuk melihat semuanya dengan jernih.

Lihat harga yang terus naik.
Lihat rakyat yang terus bekerja.
Lihat pajak yang terus kami bayar.
Lihat uang negara yang harus dijaga.
Lihat korupsi yang harus diberantas.

Dan lihat pula kami…

Rakyat yang masih bertahan.

Rakyat yang masih mencintai negeri ini
meski sering dibuat kecewa.

Karena cinta kepada Indonesia
bukan berarti kami harus diam.

Justru karena kami mencintainya,
kami berani berkata:

Garudaku, benahi negeri ini.

Kami tidak meminta Indonesia menjadi sempurna.

Kami hanya ingin Indonesia
menjadi adil.

Dan jika suatu hari nanti
kau kembali mengepakkan sayapmu,

terbanglah lebih tinggi.

Bawalah harapan kami
ke seluruh penjuru negeri.

Sebab kami masih percaya—

Indonesia masih punya masa depan.

Dan kami ingin tetap berada di sini,
di tanah ini,
bersama merah putih,
bersama Garuda,
bersama Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Terbanglah kembali, Garudaku.

Kami masih mencintaimu.

Senin, 17 Agustus 2026