KENDARI — Ancaman kekeringan di Sulawesi Tenggara perlu mendapat perhatian serius. Fenomena El Niño 2026 kini telah berkembang dengan intensitas sangat kuat, sementara sejumlah wilayah Sultra masuk dalam peringatan dini kekeringan meteorologis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dalam analisis dinamika atmosfer dasarian I Agustus 2026, BMKG mencatat nilai indeks Nino3.4 mencapai +2,77, meningkat dari +2,20 pada Juli. Angka tersebut menunjukkan kondisi El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Lebih mengkhawatirkan, BMKG memasukkan Sulawesi Tenggara dalam wilayah yang mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis pada periode dasarian II Agustus 2026. Sejumlah kabupaten/kota di Sultra tercantum dalam kategori Waspada hingga Siaga.
Kondisi tersebut mempertegas peringatan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengenai perkembangan El Niño tahun ini.
Dalam pembaruan Juni 2026, WMO memperkirakan peluang terjadinya El Niño pada periode Juni–Agustus mencapai 80 persen. Probabilitas kondisi tersebut berlanjut hingga setidaknya November bahkan berada di kisaran atau di atas 90 persen. Sebagian besar model prakiraan saat itu menunjukkan El Niño setidaknya berada pada tingkat moderat dan berpotensi menjadi kuat.
Perkembangan terbaru menunjukkan ancaman tersebut bukan lagi sekadar proyeksi jangka panjang.
Bagi Sulawesi Tenggara, dampaknya perlu diperhatikan karena kekeringan dapat berpengaruh langsung terhadap ketersediaan air, pertanian, perkebunan, peternakan, kebakaran lahan dan hutan, hingga aktivitas masyarakat.
BMKG sendiri sejak April telah mengingatkan bahwa sebagian wilayah Sulawesi Tenggara diprediksi memasuki musim kemarau. Dalam pemutakhiran Juni, BMKG memperkirakan 56,18 persen luas daratan Indonesia berada pada kategori musim kemarau bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
Situasi ini membuat pemerintah daerah tidak cukup hanya mengandalkan respons ketika kekeringan sudah terjadi. Antisipasi terhadap sumber air, kebutuhan masyarakat, sektor pertanian dan potensi kebakaran harus dilakukan sejak dini.
Terlebih, El Niño tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan. WMO menyebut fenomena ini umumnya berkaitan dengan peningkatan suhu global dan perubahan pola hujan yang lebih ekstrem. Dampaknya dapat berbeda antarwilayah tergantung kekuatan, durasi dan waktu perkembangan El Niño serta interaksinya dengan fenomena iklim lainnya.
Sultra kini menghadapi dua fakta yang tidak boleh diabaikan: El Niño berada pada intensitas sangat kuat dan wilayah Sultra sudah masuk dalam peringatan dini kekeringan BMKG.
Karena itu, pemerintah daerah, BPBD, dinas pertanian, pengelola sumber daya air dan pemerintah kabupaten/kota perlu memperkuat langkah mitigasi.
Persoalannya bukan lagi apakah El Niño akan datang.
El Niño sudah berlangsung. Pertanyaannya, seberapa siap Sultra menghadapi dampaknya.
Editor: San






Tinggalkan Balasan