Jakarta — Kasus pemalsuan dokumen yang menyeret nama Andi Uci Abdul Hakim (AU) kembali mencuat ke permukaan. Setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Mabes Polri pada 19 Juni 2026 atas dugaan pemalsuan akta otentik PT Bososi Pratama yang terjadi pada 2017 silam, Andi Uci kini kembali berstatus sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).
Tidak sendiri, penyidik Bareskrim Polri juga menetapkan seorang notaris bernama Charles sebagai tersangka dalam perkara yang sama. Penetapan status buron ini langsung memicu sorotan luas, mengingat rekam jejak Andi Uci yang sebelumnya pernah beberapa kali kabur dan masuk dalam daftar pencarian orang sebelum akhirnya diringkus Satgas Kejaksaan Agung pada 2024 lalu.
Pengamat pertambangan, Dika Mahardhika, angkat bicara mengenai kemelut hukum yang tak kunjung usai ini. Ia berharap langkah tegas aparat penegak hukum dapat meluruskan dan menuntaskan sengketa kepemilikan PT Bososi Pratama yang dinilainya telah berbelit-belit selama bertahun-tahun.
- Ketua Serikat Buruh Kolaka Berty Layuk Bongkar K3 IPIP Pomalaa, Dugaan Pemotongan Upah untuk APD Disorot
- Pernah Tangani Kasus Penghina Jokowi, Ini Rekam Jejak Irjen Himawan Bayu Aji dari Dirtipidsiber Bareskrim hingga Kapolda Sultra
- Yusran Akbar: Anggaran 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Konawe
“Sudah beberapa kali Andi Uci menjadi DPO. Publik menyarankan agar Andi Uci segera menyerahkan diri pada aparat penegak hukum guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Seperti yang telah terbukti berulang kali, bahwa tidak ada ruang yang aman bagi pelaku kejahatan yang berusaha menghindar dari proses hukum,” ujar Dika, Jumat (24/7/2026).
Menurut Dika, langkah cepat dari kepolisian sangat krusial untuk memberikan kepastian hukum sekaligus menjawab rasa penasaran publik terhadap penegakan hukum di sektor pertambangan. Pihaknya mendesak aparat agar segera menangkap kembali pelarian Andi Uci.



Tinggalkan Balasan