WAKATOBI – Pembukaan Wakatobi Wave 2026 yang seharusnya menjadi momentum promosi pariwisata daerah justru diwarnai cerita ketegangan. Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra), Ridwan Badala, mengaku mengalami perlakuan tidak menyenangkan saat menghadiri kegiatan tersebut untuk mewakili Gubernur Sultra, Jumat (9/10/2026).
Ridwan mengaku mendapat tekanan hingga diminta meninggalkan lokasi ketika menjalankan tugas membacakan sambutan gubernur. Menurut penuturannya, situasi di lokasi sempat memanas setelah sejumlah orang melontarkan teriakan yang ia nilai ditujukan kepadanya.
Meski demikian, Ridwan memilih tetap menjalankan tugasnya. Ia menyelesaikan pembacaan sambutan gubernur meski mengaku berada dalam situasi yang tidak nyaman.
Insiden tersebut kemudian ia ceritakan melalui sebuah video yang diunggah di akun TikTok @eRBe#bersuara. Dalam keterangannya, Ridwan juga mengungkap dugaan adanya pesan bernada ancaman dalam sebuah grup WhatsApp yang menurutnya berkaitan dengan kehadirannya di acara tersebut.
Ridwan menyebut sejumlah pesan berisi kalimat bernada kekerasan, di antaranya, “Banyak parang dari Binongko, potong saja” dan “Lalu buang ke laut.”
Ia juga menyebut adanya pesan lain yang dinilainya mengandung ancaman terhadap keselamatannya. Ridwan mengaitkan percakapan tersebut dengan sejumlah pihak di lingkungan Pemerintah Kabupaten Wakatobi.
Dalam penuturannya, Ridwan menyebut nama Cita, yang disebutnya sebagai istri Sekretaris Daerah Wakatobi, serta seorang pejabat yang disebut sebagai Asisten III. Namun, konteks percakapan, identitas pengirim, dan keterlibatan pihak-pihak yang disebut masih memerlukan verifikasi independen.
Tangkapan layar percakapan tersebut, menurut Ridwan, ditampilkan dalam video yang diunggahnya. Ia juga membenarkan adanya pesan-pesan itu saat dikonfirmasi.
Meski demikian, isi percakapan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai bukti bahwa ancaman benar-benar dilakukan oleh pihak tertentu. Konfirmasi dari pihak-pihak yang disebut tetap diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang utuh.
Selain dugaan ancaman melalui pesan WhatsApp, Ridwan juga menceritakan kejadian lain yang menurutnya menambah ketegangan dalam acara pembukaan Wakatobi Wave 2026.
Ia mengaku melihat penari membagikan benda tajam menyerupai keris kepada tamu sekitar pukul 14.30 Wita pada 9 Oktober 2026.
Ridwan kemudian mengaitkan kejadian itu dengan pernyataan Bupati Wakatobi, Haliana, saat menyampaikan sambutan.
Ia mengingat ucapan, “Pisau ini kecil tapi tajam sekali, Pak Kadis.”
Menurut Ridwan, pernyataan tersebut membuatnya bertanya-tanya mengenai maksud ucapan itu. Ia mengaku menilai suasana acara saat itu terasa tidak nyaman.
Ridwan juga menilai sambutan Bupati terkesan memancing reaksi hadirin. Menurut penuturannya, suasana kemudian diwarnai teriakan dari sejumlah orang.
Namun, penilaian mengenai maksud ucapan tersebut merupakan interpretasi Ridwan. Belum ada keterangan dari Haliana yang dapat memastikan konteks dan maksud pernyataan itu.
Ridwan mengatakan dirinya sempat menemui Bupati setelah kejadian tersebut. Namun, menurut Ridwan, Haliana tidak memberikan tanggapan saat ia mempertanyakan situasi yang terjadi.
Ia menyebut suasana masih terasa tegang hingga sekitar pukul 17.30 Wita.
Di tengah insiden yang diungkapkannya, Ridwan juga menyinggung persoalan dukungan terhadap kegiatan pariwisata di Wakatobi.
Ia menegaskan bahwa keputusan terkait dukungan maupun pendanaan kegiatan festival, menurutnya, didasarkan pada koordinasi dan data, bukan untuk menyingkirkan Wakatobi dari strategi pariwisata nasional.
Ridwan menyebut dirinya justru mendorong penguatan kawasan pariwisata di Sultra, termasuk usulan penambahan KSPN Kendari Raya dan geopark di Muna. Ia juga menyinggung usulan perubahan KPPN Baubau menjadi KPPN Kepulauan Buton untuk mendukung pengembangan wisata minat khusus.
Menurut Ridwan, langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem pariwisata daerah, termasuk potensi wisata Wakatobi.
Ia menolak anggapan bahwa kebijakan dukungan terhadap festival merupakan upaya untuk mengesampingkan daerah tersebut. Ridwan menegaskan dirinya tetap mencintai Wakatobi beserta masyarakatnya.
Untuk memperoleh keberimbangan informasi, awak media mencoba mengonfirmasi Sekretaris Daerah Wakatobi, Nadar, S.IP., M.Si., terkait insiden yang diungkap Ridwan Badala, termasuk penyebutan nama istrinya dalam dugaan percakapan grup WhatsApp tersebut.
Saat dikonfirmasi, Nadar memberikan tanggapan singkat.
“Tidak tahu saya,” kata Nadar.
Hingga berita ini disusun, belum ada penjelasan lebih lanjut dari Nadar mengenai dugaan percakapan WhatsApp yang diungkap Ridwan maupun konteks penyebutan nama istrinya.
Awak media juga berupaya meminta klarifikasi kepada Bupati Wakatobi, Haliana, terkait insiden yang terjadi saat pembukaan Wakatobi Wave 2026 serta sejumlah pernyataan yang disampaikan Ridwan Badala.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, awak media belum mendapatkan tanggapan dari Haliana.
Redaksi tetap membuka ruang bagi Bupati Wakatobi, Sekda Wakatobi, dan pihak-pihak lain yang disebut dalam pemberitaan untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab sesuai ketentuan yang berlaku.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena berlangsung dalam kegiatan yang ditujukan untuk mempromosikan potensi wisata Wakatobi. Penjelasan dari seluruh pihak terkait diperlukan agar duduk persoalan menjadi terang dan tidak berkembang menjadi kesimpulan sepihak di tengah masyarakat.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sulawesi Tenggara (Sultra), Ridwan Badallah, mendapat sorakan warga saat hendak menyampaikan sambutan pada pembukaan Wakatobi Wonderful Festival and Expo (WAVE) di Maritim Center, Kecamatan Wangiwangi, Kabupaten Wakatobi, Jumat (2/10/2026).
Sebelum memulai sambutannya, terdengar teriakan dari sejumlah orang, salah satunya pria bernama Dariono. Teriakan tersebut berisi perintah agar Ridwan segera turun dari panggung.
Dariono menilai penyambutan terhadap Ridwan menjadi ironi bagi masyarakat Kabupaten Wakatobi, terutama setelah muncul pernyataan Ridwan terkait arah pengembangan pariwisata Sultra yang menempatkan Kota Kendari sebagai penghubung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Hub.
Alasan penentuan itu disebabkan akses menuju Kabupaten Wakatobi dinilai masih sulit. Meski Kabupaten Wakatobi tetap disebut sebagai lokasi destinasi pariwisata, namun pengusulan Kota Kendari sebagai pusat konektivitas menuju berbagai destinasi di Sultra dinilai penting untuk dipertanyakan.
“Bagi kami masyarakat Wakatobi, ini bukan persoalan siapa yang datang ke Wakatobi. Tetapi persoalannya adalah bagaimana pemerintah provinsi menghargai Wakatobi sebagai daerah yang selama ini menjadi salah satu wajah pariwisata Sulawesi Tenggara,” ujar Dariono.
Menurutnya, sambutan itu seharusnya menjadi momentum untuk menjelaskan kepada masyarakat terkait hal-hal tersebut.
Tak hanya itu, Dariono kembali mempertanyakan alasan batalnya penyelenggaraan Festival Wowine yang sebelumnya dinyatakan masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Penjelasan secara terbuka terkait hal itu dianggap perlu demi menghindari tuduhan tanpa dasar.
“Jangan sampai ada permainan dalam prosesnya. Kami tidak mau menuduh tanpa dasar, tetapi masyarakat berhak mempertanyakan kenapa event yang sudah masuk agenda nasional justru gagal dilaksanakan,” tegasnya.
Bagi Dariono, persoalan yang paling mendasar adalah menyangkut arah kebijakan pariwisata Sultra serta posisi Kabupaten Wakatobi sebagai destinasi unggulan.
Sementara itu, meski disoraki, Ridwan tetap berdiri di atas panggung dan melanjutkan sambutannya. Melalui kesempatan tersebut, ia menyatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra berkomitmen untuk terus mengawal Kabupaten Wakatobi sebagai destinasi pariwisata prioritas.
Ridwan juga mengungkapkan bahwa pengusulan Kota Kendari sebagai penghubung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Hub dapat membantu kemajuan pariwisata, salah satunya di Kabupaten Wakatobi.
“Kami telah mengusulkan di Kementerian Pariwisata untuk 2025 sampai 2026 bahwa kita membangun ekosistem pariwisata, di mana kita akan membangun hub pariwisata atau KSPN di Kota Kendari untuk membantu kemajuan pariwisata di Kabupaten Wakatobi,” jelas Ridwan dalam sambutannya. (red)




Tinggalkan Balasan