Kendari – Suara mesin mobil klasik Volkswagen (VW) memecah suasana Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, saat rombongan peserta Jappa Jappa Oto Tua (JJOT) #6 tiba dan disambut hangat oleh Bumi Anoa Volkswagen Club (BAVC).

Touring lintas Sulawesi itu bukan sekadar perjalanan kendaraan lawas, tetapi juga menjadi ajang mempererat persaudaraan antar komunitas sekaligus mempromosikan destinasi wisata di Pulau Sulawesi.
Rombongan JJOT #6 diikuti komunitas Volkswagen dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga peserta dari Makassar dan Sulawesi Tengah.
Agenda tahunan berskala nasional tersebut menjadi salah satu kegiatan paling dinantikan para pecinta VW klasik.
Ketua Bumi Anoa Volkswagen Club, Entis Sutisna, mengatakan Kendari menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan panjang rombongan yang dimulai dari Makassar.
“Jadi kegiatan hari ini sebenarnya kita menjemput saudara-saudara kita komunitas Volkswagen Indonesia yang datang dari berbagai daerah. Ini bagian dari agenda nasional yang rutin dilakukan setiap tahun,” kata Entis.

Menurut Entis, konsep JJOT bukan hanya touring kendaraan tua, melainkan perjalanan menikmati panorama alam dan budaya Sulawesi dari dekat.
Rute yang dilalui peserta dimulai dari Makassar menuju Toraja, Palopo, Sorowako, Bungku, Morowali, Konawe Utara hingga akhirnya tiba di Kendari.
Setelah beristirahat di Kendari, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Kolaka, Kolaka Utara (Lasusua), Palopo, lalu kembali finis di Makassar melalui jalur darat.
“Event ini sebenarnya jalan-jalan mobil tua sambil mengeksplor tempat-tempat wisata dan kekayaan alam yang ada di Sulawesi,” ujarnya.
Berdasarkan data panitia, JJOT #6 diikuti sekitar 27 unit mobil klasik dengan jumlah peserta mencapai kurang lebih 80 orang.
Sejumlah anggota komunitas VW Kendari juga akan ikut mengawal rombongan menuju Kolaka sebagai bentuk solidaritas antar komunitas.
Kehadiran deretan Volkswagen produksi tahun 1960-an hingga 1970-an itu pun sukses menarik perhatian warga Kendari.
Tak sedikit masyarakat yang berhenti untuk melihat langsung kendaraan legendaris yang pada masanya dikenal sebagai simbol kemewahan.
Bagi para penghobi, VW bukan sekadar kendaraan, tetapi memiliki nilai historis dan emosional tersendiri. Entis mengaku kecintaannya terhadap mobil tua berawal dari hobi dan kenangan masa kecil.
“VW ini punya ciri khas tersendiri. Selain unik, perawatannya juga tidak terlalu rumit dibanding kendaraan tua lainnya karena suku cadangnya masih cukup mudah ditemukan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, komunitas menjadi tempat para pecinta VW saling berbagi pengalaman dan membantu satu sama lain, terutama ketika menghadapi kendala saat touring jarak jauh.
“Di komunitas ini kita bisa saling membantu. Kalau ada masalah di jalan kita kerjakan bersama-sama. Istilahnya saudara tak sedarah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Penasehat BAVC, H Safril, menilai komunitas mobil klasik memiliki potensi besar untuk terus berkembang di Indonesia.
Menurutnya, berburu mobil legendaris memiliki tantangan tersendiri karena unitnya semakin langka dan unik.
Safril juga berharap Volkswagen ke depan bisa menjadi bagian dari pengembangan sektor wisata, khususnya wisata otomotif dan heritage.
“Mudah-mudahan VW bisa menjadi mobil pariwisata juga, jadi ikon untuk pariwisata ke depan,” ujarnya.
Rombongan JJOT #6 disambut di Cafe R2000 yang menjadi sekretariat BAVC Sultra bersama pengurus IMI Sultra.
Dalam kesempatan itu juga dilakukan penyerahan cendera mata sebagai simbol persaudaraan antar komunitas.
Tak hanya fokus pada touring, BAVC juga berencana menyisipkan kegiatan sosial dalam setiap agenda perjalanan mereka, mulai dari mengunjungi panti asuhan hingga membantu rumah ibadah yang membutuhkan bantuan.
“Ke depan setiap touring akan kita selipkan kegiatan sosial supaya keberadaan komunitas ini juga bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkas Entis. (red)



Tinggalkan Balasan