Kendari – Tekanan ekonomi bagi para peternak di Sulawesi Tenggara diprediksi akan semakin berat. Belum usai menghadapi lonjakan harga jagung pakan yang kini menyentuh Rp 8.500 per kg di tingkat supplier, Indonesia kini bersiap menghadapi fenomena iklim ekstrem ‘Godzilla El Nino’ yang diprediksi mulai menghantam April 2026.

Peneliti BRIN, Erma Yulihastin, memperingatkan bahwa fenomena ini akan membawa musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Kondisi ini menjadi ancaman maut bagi stabilitas harga pangan, terutama jagung pipil kering sebagai bahan baku utama pakan ternak.

Data terbaru dari CV Deni Pakan Jaya menunjukkan harga eceran jagung di marketplace sudah menyentuh Rp 14.000 per kg. Dengan prediksi puncak kemarau pada Agustus 2026, stok jagung lokal di sentra produksi seperti Konawe dan Kolaka terancam anjlok akibat gagal panen.

“Harga Rp 8.500 saat ini adalah kondisi sebelum kekeringan ekstrem. Jika Godzilla El Nino bertahan 6 bulan, harga jagung sulit kembali ke angka acuan pemerintah (Rp 5.500) dan berpotensi menyebabkan kelangkaan pakan,” tulis analisis pasar pakan ternak, Selasa (31/3/2026).

Kenaikan harga jagung otomatis akan mengerek harga telur dan daging ayam. Hal ini menjadi tantangan serius bagi operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Kendari yang baru saja diresmikan. Sebagai dapur produksi skala besar, kenaikan biaya pakan akan membengkakkan anggaran pengadaan protein hewani bagi ribuan siswa penerima manfaat.

Mengingat durasi kemarau yang diprediksi lebih panjang (mencapai 57,2% wilayah Indonesia), para peternak diimbau untuk segera mengamankan stok pakan sebelum memasuki fase kering ekstrem di bulan Mei-Juni. (red)

12 / 100 Skor SEO