Media Inspirasi, Motivasi, Bimbingan, Akhlak dan Religi
Oleh: dr. H. Sukirman, MARS, M.Kes., Sp.PA., – Ketua IKADI Wilayah Sulawesi Tenggara
Ketika Anak-anak mulai pergi. Rumah perlahan menjadi lebih sunyi.
Dalam kesunyian itu, kita sering kali kembali menyadari keberadaan seseorang yang selama ini berjalan di samping kita. Seseorang yang telah menemani perjalanan panjang kehidupan.
Rambutnya tak lagi seperti dulu. Uban perlahan memenuhi kepala. Keriput mulai hadir di wajah.
Namun justru di sanalah letak keindahannya.
Setiap keriput adalah cerita. Setiap uban adalah jejak perjalanan yang telah kita tempuh bersama.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 21:
«“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”»
Rasa tenteram atau sakinah tidak lahir dari wajah yang selalu mulus tanpa cela. Sakinah tumbuh dari jiwa yang telah lama belajar saling memahami, menerima kekurangan, memaafkan kesalahan, dan bertahan dalam berbagai keadaan.
Usia memang mengubah wajah, tetapi semestinya tidak mengubah cara kita memandang pasangan.
Mencintai seseorang ketika masih muda mungkin terasa mudah, ketika wajah masih segar dan tenaga masih kuat. Namun mencintainya setelah puluhan tahun adalah bentuk cinta yang jauh lebih dalam.
Ketika keindahan fisik perlahan memudar, kita belajar melihat keindahan yang lain: inner beauty, ketulusan, kesetiaan, kesabaran, dan kasih sayang yang telah tumbuh selama bertahun-tahun.
Allah SWT juga mengingatkan dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:
«“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…”»
Ketika Anak-Anak Mulai Pergi
Mungkin cinta yang paling indah bukan lagi tentang jantung yang berdebar ketika berada di dekatnya.
Cinta yang matang adalah ketika kebersamaan telah tumbuh dan berakar.
Ketika anak-anak mulai meninggalkan rumah untuk menempuh kehidupannya masing-masing, masih ada seseorang yang tetap berada di samping kita.
Masih ada tangan yang bisa digenggam dalam suka dan duka.
Masih ada seseorang yang menemani perjalanan.
Masih ada tempat untuk berbagi cerita.
Dan masih ada seseorang yang menjadi rumah untuk pulang.
Barangkali itulah salah satu nikmat yang sering lupa kita syukuri.
Pasangan hidup bukan sekadar seseorang yang menemani kita menjalani kehidupan dunia. Ia juga dapat menjadi jalan bagi kita untuk mengumpulkan amal kebaikan.
Ketika pasangan dirawat dengan kasih sayang (mawaddah) dan kelembutan (rahmah), setiap perhatian, kesabaran, dan pengorbanan dapat menjadi bagian dari amal yang bernilai di hadapan Allah SWT.
Karena itu, jangan biarkan keriput hanya dipandang sebagai tanda penuaan.
Lihatlah keriput sebagai bukti ketabahan.
Lihatlah uban sebagai jejak perjalanan.
Lihatlah perubahan fisik sebagai pengingat bahwa waktu terus berjalan dan kesempatan untuk berbuat baik tidak selamanya terbuka.
Ada seseorang yang telah bertahun-tahun menemani kita melewati berbagai keadaan. Ia mungkin tidak lagi seperti ketika pertama kali kita mengenalnya.
Tetapi justru karena itulah cinta memiliki makna yang lebih dalam.
Mencintai bukan hanya tentang menikmati keindahan ketika semuanya masih sempurna. Mencintai adalah tetap menggenggam ketika usia mulai meninggalkan tanda-tandanya.
Jangan Lupa Mengucapkan Terima Kasih
Mari mulai hari ini dengan sesuatu yang sederhana.
Tersenyumlah kepada pasangan.
Tatap wajahnya.
Genggam tangannya.
Kemudian ucapkan terima kasih atas setiap detik kebersamaan yang Allah titipkan.
Sebab boleh jadi, selama ini kita terlalu sibuk mengejar banyak hal hingga lupa bahwa salah satu nikmat terbesar ternyata telah berada di samping kita selama bertahun-tahun.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya akhlak seorang suami terhadap istrinya.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan:
«“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya.”»
Pada akhirnya, perjalanan rumah tangga bukan sekadar tentang berapa lama kita bersama.
Lebih dari itu, tentang bagaimana kita memperlakukan orang yang telah Allah pilih untuk berjalan bersama kita menuju akhir kehidupan.
Keriput akan bertambah.
Rambut akan memutih.
Tenaga akan berkurang.
Namun semoga kasih sayang, mawaddah, rahmah, dan kebaikan justru semakin tumbuh.
Sebab di balik setiap keriput yang hadir, mungkin tersimpan ribuan cerita tentang perjuangan, kesetiaan, air mata, doa, dan cinta.
Dan semoga semua itu menjadi bagian dari amal yang membawa kita bersama menuju janji langit.



Tinggalkan Balasan