KONAWE – Proyek rekonstruksi Jalan Poros Matanggorai–Langgea di Kecamatan Padangguni, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, mulai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Setelah puluhan tahun menanti perbaikan, ruas jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan kini secara bertahap mendapat penanganan.
Proyek yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Konawe dengan nilai sekitar Rp7 miliar tersebut tidak hanya memperbaiki kondisi jalan, tetapi juga mulai membuka akses transportasi yang lebih nyaman bagi masyarakat di wilayah Padangguni.
Aktivitas pekerjaan di lapangan bahkan berlangsung hingga malam hari.
Dari pantauan awak media di lokasi memperlihatkan alat berat tengah melakukan penghamparan aspal di ruas jalan, sementara sejumlah warga turut menyaksikan proses pekerjaan tersebut.
Pada siang hari, sebagian badan jalan juga telah terlihat mendapatkan lapisan aspal baru. Pekerjaan dilakukan secara bertahap menyesuaikan tahapan pelaksanaan di lapangan.
Bagi masyarakat, progres tersebut menjadi pemandangan yang cukup berarti setelah bertahun-tahun harus menggunakan jalan dalam kondisi yang kurang baik.
Pengaspalan Dikerjakan hingga Malam
Aktivitas pengaspalan pada malam hari menunjukkan upaya pelaksana untuk menjaga progres pekerjaan di tengah kebutuhan penyelesaian proyek sesuai target.
Dalam dokumentasi yang diambil pada Kamis malam, 30 Juli 2026 sekitar pukul 19.50 WITA, alat berat terlihat melakukan pekerjaan penghamparan aspal.
Sejumlah pekerja dan masyarakat berada di sekitar lokasi untuk memantau proses pekerjaan.
Kehadiran warga di lokasi juga memperlihatkan tingginya perhatian masyarakat terhadap pembangunan jalan yang selama ini menjadi salah satu kebutuhan penting di wilayah tersebut.
Dengan kondisi jalan yang semakin baik, masyarakat berharap mobilitas warga, distribusi hasil pertanian, hingga aktivitas ekonomi dapat berjalan lebih lancar.
Di tengah berlangsungnya pekerjaan, CV RSK selaku pelaksana proyek juga memberikan klarifikasi mengenai asal material yang digunakan dalam pekerjaan rekonstruksi jalan tersebut.
Pengawas CV RSK, Idrus, menegaskan seluruh material yang digunakan dalam proyek berasal dari sumber yang legal dan dibeli secara resmi dari crusher di wilayah Moramo.
“Seluruh material kami beli secara legal dari crusher di Moramo. Jadi, tidak benar jika dikaitkan dengan dugaan penggunaan material hasil penambangan ilegal,” ujar Idrus.
Ia menjelaskan, pengadaan material dilakukan melalui proses pembelian secara resmi untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan proyek.
Menurut Idrus, penggunaan material dari sumber yang telah ditentukan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memastikan kebutuhan pekerjaan dapat terpenuhi sekaligus tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.
Idrus juga meluruskan informasi mengenai keberadaan material di area batching plant milik PT Raska.
Menurutnya, lokasi tersebut hanya dimanfaatkan sebagai tempat transit atau penampungan sementara material sebelum dikirim ke lokasi proyek.
Pemanfaatan tempat transit tersebut dilakukan karena jarak antara sumber material di Moramo dengan lokasi proyek di Kecamatan Padangguni mencapai hampir 100 kilometer.
Dengan jarak yang cukup jauh, material tidak selalu langsung dikirim dari sumber ke titik pekerjaan. Sebagian material terlebih dahulu ditampung sementara untuk kemudian didistribusikan sesuai kebutuhan pekerjaan di lapangan.
“Area PT Raska hanya kami gunakan sebagai tempat transit material. Karena jarak dari Moramo ke lokasi proyek hampir 100 kilometer, maka material perlu ditampung sementara sebelum dikirim ke lokasi pekerjaan,” ujar Idrus.
Ia menegaskan keberadaan material di lokasi tersebut merupakan bagian dari kebutuhan logistik proyek dan tidak berkaitan dengan aktivitas penambangan.
“Material yang berada di lokasi hanya dititipkan sementara sebelum digunakan dalam pekerjaan pengaspalan,” lanjutnya.
Sementara itu, pembangunan Jalan Poros Matanggorai–Langgea mendapat respons positif dari masyarakat setempat.
Kepala Desa Langgea, Handoko, mengatakan perbaikan jalan tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat karena kondisi ruas jalan telah lama menjadi perhatian warga.
Ia bahkan menyebut, pengaspalan jalan merupakan sesuatu yang telah dinantikan masyarakat selama puluhan tahun.
“Alhamdulillah, kurang lebih 40 tahun saya tinggal di Padangguni, baru kali ini jalan diaspal,” ujar Handoko.
Menurut Handoko, pekerjaan yang dilakukan pihak pelaksana sejauh ini juga mendapat penilaian positif dari masyarakat.
“Bagus sekali mereka kerja, aspalnya tebal,” katanya.
Ia menilai keberadaan jalan yang lebih layak akan memberikan dampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.
Selain memudahkan mobilitas warga, jalan tersebut juga diharapkan memperlancar distribusi hasil pertanian dan mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Handoko berharap pembangunan infrastruktur jalan tidak berhenti pada ruas Matanggorai–Langgea.
Ia berharap peningkatan akses jalan dapat dilanjutkan hingga menuju Desa Garuda yang memiliki potensi wisata Batu Lapis.
Menurutnya, akses jalan yang semakin baik akan menjadi salah satu faktor penting untuk membuka potensi wilayah, termasuk sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.
“Semoga pembangunan dapat terus berlanjut hingga seluruh wilayah di Kecamatan Padangguni menikmati akses jalan yang layak,” ujarnya.
Handoko turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Konawe di bawah kepemimpinan Bupati H. Yusran Akbar dan Wakil Bupati Syamsul Ibrahim atas perhatian terhadap pembangunan infrastruktur di Kecamatan Padangguni.
“Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Konawe, khususnya Bapak Bupati Yusran Akbar dan Wakil Bupati Syamsul Ibrahim yang telah merealisasikan pembangunan jalan ini,” katanya.
Ia berharap pembangunan infrastruktur dapat terus dilanjutkan sehingga konektivitas antarwilayah di Kecamatan Padangguni semakin baik.
Bagi masyarakat, pembangunan Jalan Poros Matanggorai–Langgea bukan sekadar proyek fisik. Kehadiran jalan yang lebih baik diharapkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan konektivitas, memperlancar aktivitas ekonomi, serta membuka akses menuju berbagai potensi wilayah.
Di sisi lain, CV RSK memastikan akan terus menjalankan pekerjaan sesuai ketentuan yang berlaku.
Perusahaan juga menegaskan komitmennya menyelesaikan proyek dengan mengedepankan kualitas pekerjaan, kepatuhan terhadap aturan, serta penggunaan material yang berasal dari sumber yang dinyatakan legal.
Dengan progres pekerjaan yang terus berjalan, masyarakat kini menaruh harapan agar rekonstruksi Jalan Poros Matanggorai–Langgea dapat diselesaikan dengan baik dan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga di Kecamatan Padangguni. (red)



Tinggalkan Balasan