Kolaka – Ekspansi masif industri smelter nikel di Kawasan Industri Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, dilaporkan merusak ruang hidup komunitas adat. Salah satu yang paling terdampak parah adalah Komunitas Bajau yang dikenal sebagai “orang laut”.
Berdasarkan laporan investigasi terbaru Satya Bumi, aktivitas pertambangan dan industri di kawasan tersebut telah menimbulkan kerusakan lingkungan laut yang sangat masif.
Akibatnya, wilayah tangkap ikan para nelayan tradisional kian menyempit karena perairan setempat tercemar berat oleh limbah industri.
Dampak pencemaran ini merembet serius pada kehidupan anak-anak suku Bajau di Pomalaa. Mereka kini tidak lagi bisa berenang bebas atau menghabiskan waktu lama di laut lepas.
Padahal, beraktivitas di laut lepas merupakan cara turun-temurun bagi anak-anak Bajau untuk mewarisi keterampilan maritim tradisional yang menjadi identitas utama suku mereka.
“Sebaliknya, penyakit kulit dan masalah kesehatan akibat kualitas air yang memburuk kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka,” tulis laporan Satya Bumi di betahita.id, Jumat (29/5/2026).
Selain memicu penyakit kulit, rusaknya ekosistem laut membuat perairan yang dahulu menjadi sumber kehidupan utama masyarakat kini berubah menjadi zona yang semakin tidak aman.
Kondisi memprihatinkan ini memicu gelombang protes dari koalisi masyarakat sipil. Mereka menuntut pertanggungjawaban dari para investor global, termasuk raksasa otomotif dunia, Ford Motor Company, yang memiliki 8,5% saham di PT Kolaka Nickel Indonesia (PT KNI).

Satya Bumi mendesak PT KNI dan seluruh operator Proyek Blok Pomalaa segera melakukan audit independen. Operator juga didesak memberikan kompensasi serta reparasi yang adil kepada komunitas adat yang terdampak.
(pdn)



Tinggalkan Balasan