Jakarta Selatan – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Pejaten menelurkan terobosan baru dalam penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tak lagi sekadar membagikan wadah makanan siap santap (omprengan), Korps Bhayangkari mulai menguji coba sistem prasmanan langsung di sekolah.
Simulasi perdana pola prasmanan ini menyasar 336 siswa di SMA Kemala Bhayangkari 1, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Rabu (22/4/2026). Langkah ini sengaja digagas bukan cuma demi urusan isi perut, melainkan sebagai instrumen pembentukan karakter pelajar.
“Penyajian MBG secara prasmanan ini kami lakukan sebagai terobosan inovasi penyaluran makanan yang lebih dinamis kepada para pelajar. Tidak hanya memberikan asupan gizi, tetapi juga menghadirkan pengalaman berbeda yang membangun kebersamaan, tanggung jawab, kesabaran, dan disiplin,” ujar Kasatgas MBG Polri, Irjen Nurworo Danang, dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
Dalam uji coba tersebut, para siswa disuguhkan kombinasi menu sehat yang terdiri dari nasi putih, lele crispy, tahu bumbu kuning, tumis buncis wortel, hingga buah pisang. Seluruh komposisi hidangan disusun ketat oleh ahli gizi demi menjamin keseimbangan nutrisi mikro dan makro para siswa.
Tak asal saji, SPPG Polri juga menerapkan standar keamanan pangan berlapis. Sebelum dicentong oleh siswa, makanan wajib lolos uji organoleptik oleh pakar nutrisi serta pengujian food safety secara riil oleh tim Kedokteran Kepolisian (Dokpol) guna mengantisipasi kontaminasi zat berbahaya.
Penyediaan bahan baku makanan ini juga menggerakkan roda ekonomi bawah dengan mengandalkan pasokan dari pelaku UMKM serta komoditas pangan lokal di sekitar wilayah operasional.
Sistem baru ini memicu reaksi beragam namun positif dari para pelajar. Pola mengambil makanan sendiri dinilai membuat nafsu makan bertambah karena hidangan yang disajikan terasa jauh lebih hangat dan higienis.
“Aku suka karena makan begini makanannya jadi lebih fresh,” cetus salah seorang siswa SMA Kemala Bhayangkari 1.

Meski demikian, sistem ini diakui memakan waktu lebih lama dibanding pola distribusi konvensional akibat adanya proses mengantre secara bergiliran.
“Suka, tapi jadinya lama. Kalau di ompreng kan dianter terus langsung bisa makan, kalau ini pake antre dulu,” tambahnya polos.
Kepala SPPG Polri Pejaten, Muhammad Iqbal Salim, menjelaskan bahwa dinamika mengantre itulah yang justru menjadi esensi edukasi nonformal dari program ini. Siswa ditempa secara tidak langsung untuk menakar porsi sesuai kebutuhan perut masing-masing agar tidak memicu sampah makanan (food waste).
Sebagai informasi, SMA Kemala Bhayangkari 1 merupakan sekolah pertama dari total 9 sekolah binaan SPPG Polri Pejaten yang mencicipi sistem prasmanan. Secara keseluruhan, SPPG Pejaten menyuplai sedikitnya 2.606 porsi makanan bergizi setiap harinya ke berbagai jenjang sekolah di Jakarta Selatan.
Secara makro, program MBG bentukan Polri terus mengalami eskalasi masif di seluruh Indonesia. Saat ini sudah berdiri 661 unit operasional, 170 unit dalam tahap persiapan, serta 502 titik dalam proses konstruksi fisik dengan total akumulasi mencapai 1.333 unit.
Ke depan, Polri membidik penambahan 170 unit pangkalan gizi baru di wilayah-wilayah terpencil guna menggenapkan target 1.503 unit operasional di seluruh Indonesia. Evaluasi dari simulasi prasmanan di Pejaten ini bakal dijadikan cetak biru (blueprint) pelayanan gizi yang adaptif dan humanis bagi generasi muda. (red)




Tinggalkan Balasan