JAKARTA – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka, melakukan langkah agresif untuk memacu perdagangan internasional daerahnya. Ia menjadi kepala daerah pertama di Indonesia yang menyambangi langsung kantor pusat Badan Karantina Indonesia di Jakarta demi memperkuat sinergi ekspor, Rabu (13/5/2026).
Kedatangan Andi Sumangerukka disambut langsung oleh Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding. Dalam pertemuan tersebut, Abdul Kadir memberikan apresiasi khusus atas inisiatif Gubernur yang akrab disapa ASR ini.

“Saya menyambut baik kunjungan ini. Perlu saya sampaikan bahwa Bapak Andi Sumangerukka merupakan Gubernur pertama yang berkunjung ke Badan Karantina sejak saya dilantik,” ungkap Abdul Kadir Karding.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat, Gubernur Andi Sumangerukka menegaskan bahwa Pemprov Sultra membutuhkan dukungan teknis agar komoditas unggulan daerah bisa menembus pasar global tanpa hambatan. Sultra, menurutnya, memiliki potensi besar yang perlu dikawal dari sisi standarisasi keamanan hayati.
Merespons hal tersebut, Abdul Kadir Karding mengakui posisi Sultra sebagai pintu perdagangan strategis di wilayah Timur Indonesia. Ia berkomitmen untuk meningkatkan fasilitas karantina di pelabuhan-pelabuhan Sultra guna memangkas waktu tunggu dokumen para pelaku usaha.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Badan Karantina Indonesia berencana melakukan kunjungan balasan ke Bumi Anoa dalam waktu dekat. Agenda utamanya adalah melepas ekspor perdana sejumlah komoditas unggulan asal Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).
Target ekspor yang akan dilepas dalam waktu dekat meliputi:


Tepung Tapioka: Sebanyak 900 ton dengan nilai mencapai Rp 7,2 miliar dengan tujuan pasar Tiongkok.
Minyak Kelapa: Sebanyak 16 ton senilai Rp 723,69 juta dengan tujuan pasar Malaysia.
Abdul Kadir menambahkan bahwa Badan Karantina akan memberikan pengawalan ketat namun tetap mendorong akselerasi ekspor agar pertumbuhan ekonomi daerah meningkat. Optimalisasi ini diharapkan dapat memicu aktivitas perdagangan antar pulau maupun internasional yang lebih masif dari Sulawesi Tenggara.
(red/perdetik)




Tinggalkan Balasan