Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian tak berdaya. Mata uang Garuda kini berada di ambang level psikologis baru, yakni Rp 17.000 per dolar AS. Kondisi ini mulai memicu alarm bahaya bagi perekonomian nasional.

Berdasarkan data pasar spot pada penutupan perdagangan Senin (9/3), rupiah terdepresiasi 0,14 persen ke posisi Rp 16.949 per dolar AS . Tekanan ini diprediksi masih akan berlanjut pada perdagangan Selasa (10/3/2026).

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp 16.950 hingga Rp 17.000 per dolar AS. Menurutnya, Bank Indonesia (BI) tidak punya banyak pilihan selain menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate).

“Untuk menahan laju pelemahan mata uang rupiah, ya Bank Indonesia wajib menaikkan suku bunga. Karena apa? Kalau seandainya Bank Indonesia mempertahankan suku bunga, ya ini pun juga akan sia-sia,” ujar Ibrahim kepada wartawan.

Kondisi saat ini dinilai lebih mengerikan dibandingkan sebelumnya. Pasalnya, pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan meroketnya harga minyak mentah dunia yang kini menyentuh US$ 117 per barel .

Angka ini jauh melampaui asumsi APBN yang hanya dipatok di angka US$ 92 per barel. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut kombinasi ini akan menghancurkan fiskal negara.

“Masalahnya adalah kondisi ini terjadi ketika harga minyak mentah sangat tinggi. Dampak yang lebih nyata adalah pada APBN, terutama biaya impor energi dan beban subsidi,” jelas Lukman.

Apa Dampaknya ke Dompet Anda? Jangan kira ini hanya masalah angka di layar saham. Berikut adalah potensi efek berati yang akan dirasakan masyarakat:

  • Bunga Kredit Naik: Jika BI naikkan suku bunga, cicilan KPR hingga kredit kendaraan bermotor (KKB) siap-siap ikut naik.

  • Harga Pangan Impor Melambung: Kedelai, jagung, dan pupuk bakal lebih mahal. Artinya, harga tahu, tempe, hingga daging ayam bisa meroket.

  • Barang Elektronik Mahal: Laptop, HP, dan komponen industri lainnya yang berbasis impor akan mengalami penyesuaian harga.

  • Daya Beli Turun: Biaya transportasi dan distribusi barang yang membengkak akibat harga energi akan memicu kenaikan harga kebutuhan sehari-hari secara umum.

“Masyarakat mungkin tidak langsung melihat krisis nilai tukar, tapi akan merasakannya melalui penurunan daya beli karena harga-harga barang yang mulai naik,” pungkas Lukman. (red)

9 / 100 Skor SEO