Daerah

Wawonii Alami Kemunduran Ekonomi, Warung dan Kos Sepi Pelanggan Usai Tambang Tutup

154
×

Wawonii Alami Kemunduran Ekonomi, Warung dan Kos Sepi Pelanggan Usai Tambang Tutup

Sebarkan artikel ini

KONKEP, – Keputusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak Peninjauan Kembali (PK) PT Gema Kreasi Perdana (GKP) menyebabkan penghentian total aktivitas produksi tambang di Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan.

Dampak dari putusan hukum ini telah meluas dari korporasi ke sendi-sendi ekonomi masyarakat.
Saat ini, ratusan warga lokal yang sebelumnya menggantungkan hidup dari sektor tambang terpuruk dalam ketidakpastian ekonomi akibat gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang terjadi.

Lebih dari 500 karyawan lokal terdampak, dan jumlah ini belum termasuk anggota keluarga mereka serta ratusan warga lain yang memiliki usaha yang bergantung pada perputaran aktivitas tambang PT GKP.

Suasana di sejumlah desa sekitar wilayah tambang kini mendadak muram. Aktivitas ekonomi menurun drastis, lapangan pekerjaan hilang, dan roda kehidupan masyarakat melambat signifikan.

Sulvan, seorang Tokoh Pemuda Desa Roko-Roko Raya, menyampaikan kekecewaan mendalam atas situasi ini.

“Saya sangat kecewa dan terpukul atas putusan ini. Lapangan pekerjaan hilang, semangat masyarakat menurun, dan banyak keluarga kami di sini kini hidup dalam kesulitan. Kami berharap wakil rakyat dan pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi ini,” ungkap Sulvan.

Bagi banyak warga, kehilangan pekerjaan bukan sekadar kehilangan penghasilan, tetapi juga hilangnya harapan hidup yang telah mereka rasakan beberapa tahun terakhir.

Ibu Ma Anawia, seorang ibu rumah tangga dari Desa Sukarela Jaya, turut menyuarakan kepedihan.

“Mereka yang berteriak meminta PT GKP keluar harus berpikir juga, kami yang bisa hidup jauh lebih layak dari sana. Rasanya sangat menyakitkan melihat perjuangan masyarakat tidak mendapat hasil. Kami mohon agar ada jalan keluar agar bisa membantu kami bangkit dari keadaan sulit ini,” katanya.

Dampak penutupan ini sangat terasa pada perputaran ekonomi di sektor usaha kecil dan menengah (UKM), khususnya di desa sekitar lingkar tambang, sesuai dengan sorotan judul berita.

Jamadu, pemilik rumah kos dan warung makan di Desa Dompo-Dompo Jaya, menjadi salah satu yang paling merasakan imbasnya. Ia mengaku kini nyaris tidak memiliki pelanggan.

“Dulu tempat saya selalu ramai oleh para pekerja yang menjadi pelanggan dan masyarakat yang ramai lalu lalang. Kini semuanya mendadak sepi,” keluh Jamadu.

Ia pun mempertanyakan pihak-pihak yang menolak keberadaan investasi tanpa menawarkan solusi nyata bagi masyarakat.

“Kita ini hidup di pulau. Buka mata atas kemajuan beberapa tahun terakhir di sini. Apakah kalian bisa menjamin kehidupan kita membaik setelah ini? Setelah tidak ada investasi, tidak ada tambang? Jangan mengatasnamakan rakyat Wawonii, kalau kami yang hidupnya membaik karena hadirnya perusahaan tidak pernah diajak bicara,” tegasnya.

Kini, masyarakat Wawonii meminta Wakil Rakyat di DPRD, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah Pusat untuk segera turun tangan.

Mereka mendesak agar dicari solusi yang adil, memberi kesempatan kepada warga untuk kembali mendapatkan penghidupan yang layak di tanah kelahiran mereka. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
error: Content is protected !!